TAKENGON-LintasGAYO.co : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menggelar Pelatihan Pendampingan Korban Kekerasan Seksual sebagai upaya memperkuat kapasitas tim dalam melakukan pendampingan dan penanganan korban kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pengukuhan Tim Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) dan Focal Point IAIN Takengon. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Rapat Pimpinan pada Jum’at, 02 Oktober 2026.
Pelatihan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Satgas PPKS dalam Pendampingan Kekerasan Seksual Berbasis Etika Akademik dan Nilai Keislaman.” Kegiatan diikuti oleh tim yang nantinya memiliki peran dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan IAIN Takengon.
Ketua Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Takengon, Dr. Izzatur Rusuli, M.Ed, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan bekal kepada tim yang telah dikukuhkan agar mampu menjalankan amanah ketika berhadapan dengan persoalan di lapangan.
Menurutnya, Tim Satgas PPKS dan Focal Point nantinya turut membantu PSGA dalam melakukan sosialisasi dari berbagai aspek, termasuk melalui kebijakan dan bentuk kegiatan lainnya.
“Tim yang dikukuhkan hari ini nantinya akan membantu PSGA untuk sosialisasi dari segala aspek, baik melalui kebijakan dan hal lainnya,” ujar Dr. Izzatur Rusuli.
Selain mendukung sosialisasi, tim juga diharapkan dapat membantu mengoordinasikan upaya penguatan kesetaraan gender di lingkungan perguruan tinggi. Karena itu, pelatihan pendampingan menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperkuat pemahaman sekaligus kesiapan dalam menghadapi kasus-kasus yang mungkin terjadi.
Sementara itu, Rektor IAIN Takengon Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL saat memberikan arahan menekankan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya dalam melihat persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan relasi gender.
Ia menyampaikan bahwa pandangan masyarakat terhadap perempuan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Perbedaan tersebut perlu dipahami agar upaya pendampingan dapat dilakukan secara tepat dengan tetap memperhatikan konteks masyarakat.
“Pandangan terhadap perempuan dalam berbagai daerah berbeda-beda. Ada yang berbicara dengan perempuan adalah hal yang biasa, ada juga yang tabu. Sehingga kita harus memahami hal seperti ini,” ujar Prof. Ridwan.
Rektor juga menyampaikan ucapan selamat kepada anggota Tim Satgas PPKS dan Focal Point yang telah dikukuhkan. Ia berharap keberadaan tim tersebut dapat memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan IAIN Takengon.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai tata kelola lembaga berbasis pengarusutamaan gender di perguruan tinggi yang disampaikan Muslimah, S.Ag., M.Ed. Selanjutnya, Dr. Nashriyah, M.A. menyampaikan materi pendampingan kekerasan seksual berbasis nilai keislaman dan pendekatan profesional.
Kegiatan juga dilengkapi dengan diskusi dan tanya jawab serta simulasi pembuatan profil gender di lingkungan perguruan tinggi dan simulasi penanganan korban kekerasan seksual.
Melalui pelatihan ini, IAIN Takengon memperkuat kapasitas Tim Satgas PPKS dan Focal Point agar memiliki pemahaman dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menjalankan fungsi pencegahan, pendampingan, serta penanganan kekerasan seksual dengan berlandaskan etika akademik dan nilai-nilai keislaman.
[SP]





