Rehab-Rekon Gayo: Apa Beda Tronton, Begerbak, dan Gerbak?

oleh

Oleh: Prof. Ahmad Humam Hamid*

Di Gayo ada tiga kendaraan yang mungkin tidak pernah duduk bersama dalam rapat pemerintah, tetapi sebenarnya bekerja dalam satu sistem ekonomi.

Ada Tronton, kendaraan besar yang membawa BBM, semen, bahan pokok, dan kopi menuju dunia luar. Ada Begerbak, kendaraan roda tiga – umumnya Viar – yang mengangkut barang dari kampung dan kebun menuju jalan yang lebih besar.

Dan ada Gerbak, kendaraan roda dua dengan keranjang di belakangnya, yang masuk lebih jauh lagi ke kebun, jalan usaha tani, dan lorong-lorong yang tidak sanggup dilalui kendaraan besar.

Ketiganya berbeda ukuran. Tetapi ekonomi Gayo tidak peduli ukuran. Yang penting barang bergerak.

Tronton membawa ekonomi Gayo keluar. Begerbak menghubungkan desa dengan jalan utama. Gerbak membawa hasil bumi keluar dari kebun.

Maka ada satu pertanyaan sederhana dalam rehab-rekon Gayo: kalau jalan untuk Gerbak dan Begerbak putus, apa sebenarnya yang akan dibawa oleh Tronton?

Pertanyaan ini tampak sederhana. Tetapi di dalamnya ada persoalan besar tentang cara negara memahami infrastruktur.

Negara melihat jalan. Petani melihat rantai kehidupan.

Lihat Enang-Enang di Bener Meriah, salah satu titik penting pada jalur Bireuen-Takengon. Ketika tebing longsor dan jalan atau jembatan terputus, persoalannya segera menjadi persoalan logistik regional. BBM tersendat. Bahan pokok terganggu. Tronton mengantre.

Tetapi sesungguhnya yang terputus bukan hanya jalan.

Yang terputus adalah rantai kehidupan ekonomi.

Gayo mempunyai ketergantungan yang tinggi pada sejumlah koridor transportasi. Ketika satu titik vital lumpuh, dampaknya merambat jauh: biaya angkutan naik, pasokan terganggu, harga bergerak, dan kegiatan ekonomi ikut menahan napas.

Di sinilah persoalan rehab-rekon sering menjadi terlalu sederhana. Kerusakan dilihat sebagai kerusakan fisik: jalan rusak, jembatan putus, tebing longsor.

Padahal bagi masyarakat, jalan adalah infrastruktur ekonomi.

Jalan yang putus berarti petani kehilangan akses pasar. Pedagang kehilangan pasokan. Konsumen membayar lebih mahal. Pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memulihkan keadaan.

Jadi, satu longsor di Gayo bisa berubah menjadi persoalan ekonomi yang jauh lebih besar daripada ukuran longsornya.

Enang-Enang dan negara yang terlalu lama berpikir

Enang-Enang juga memperlihatkan persoalan lain: siapa yang boleh bertindak ketika keadaan mendesak?

Jalan nasional berada dalam kewenangan pemerintah pusat. Pemerintah daerah dapat melihat kerusakan, menerima keluhan, menghitung kerugian, bahkan datang ke lokasi. Tetapi kewenangan untuk bertindak tidak selalu berada di tangannya.

Maka lahirlah paradoks yang sering kita lihat dalam birokrasi.

Semua orang tahu masalahnya. Semua orang ingin jalan segera terbuka. Tetapi masing-masing harus menunggu kewenangan, anggaran, prosedur, dan keputusan.

Ini bukan semata-mata soal pejabat tidak mau bekerja.

Persoalannya lebih dalam: sistem birokrasi sering dirancang untuk keadaan normal, sementara bencana datang tanpa membaca petunjuk teknis.

Dalam keadaan normal, prosedur adalah alat untuk menjaga ketertiban. Dalam keadaan krisis, prosedur yang terlalu kaku dapat berubah menjadi rem.

Negara akhirnya bukan tidak bergerak.

Negara bergerak, tetapi kadang lebih lambat daripada masalah yang hendak diselesaikannya.

Ketika warga bergerak lebih cepat

Di tengah persoalan Enang-Enang, muncul cerita Syahrial Abadi.

Mantan mukim ini memilih bergerak. Ia bahkan menjual sebidang tanah miliknya untuk menyewa alat berat dan membuka kembali jalur yang tertutup longsor. Tindakan pribadi itu kemudian mengundang solidaritas masyarakat. Donasi pun terkumpul lebih dari satu miliar rupiah.

Cerita seperti ini mudah membuat kita terharu.

Tetapi jangan berhenti pada keharuan.

Ada pertanyaan yang lebih penting:

Mengapa seorang warga harus menjual tanahnya sendiri agar jalan yang menjadi urat nadi masyarakat dapat kembali terbuka?

Syahrial memperlihatkan kekuatan masyarakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga memperlihatkan sesuatu yang kurang nyaman bagi negara.

Gotong royong adalah kekuatan masyarakat.

Ia tidak seharusnya menjadi pengganti negara.

Negara boleh dibantu masyarakat. Tetapi negara tidak boleh merasa lega karena masyarakat terpaksa mengambil alih pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Dari Tronton ke Begerbak

Namun Enang-Enang hanyalah satu bagian dari cerita.

Di bawah jalan nasional terdapat jaringan jalan yang jauh lebih kecil, tetapi justru menjadi tempat ekonomi rakyat dimulai.

Di Rusip Antara, Aceh Tengah; Mesidah, Bener Meriah; dan Putri Betung, Gayo Lues, persoalannya masuk lebih jauh ke pedalaman.

Di sana kita bertemu Begerbak dan Gerbak.

Ketika Jalan Usaha Tani rusak, jembatan kampung putus, dan lumpur menutup jalan, petani tidak bisa berkata kepada kopinya: tunggu sebentar, pemerintah sedang mengurus rehab-rekon.

Kopi tidak mengenal rapat.

Cabai tidak mengenal tender.

Alpukat tidak mengenal jadwal pencairan anggaran.

Hasil pertanian mengenal satu hal: waktu.

Kopi yang terlalu lama tertahan dapat kehilangan kualitas. Sayuran yang terlambat keluar dari kebun kehilangan kesegarannya. Alpukat yang diguncang jalan rusak bisa memar sebelum sampai pasar.

Di Rusip Antara, misalnya, rusaknya Jalan Usaha Tani dan jembatan penghubung membuat Gerbak harus menembus medan lumpur dan tebing untuk membawa hasil kebun keluar.

Di Mesidah, Bener Meriah, jalan kampung yang berubah menjadi lumpur membuat pengangkutan cabai, tomat, kentang, dan komoditas hortikultura lainnya semakin sulit.

Di Putri Betung, Gayo Lues, rusaknya jembatan kampung memaksa masyarakat mencari jalur darurat untuk membawa hasil kebun menuju pasar.

Di tempat-tempat seperti ini, kerusakan jalan bukan sekadar persoalan kenyamanan.

Ia langsung masuk ke dalam harga yang diterima petani.

Ongkos angkut naik. Waktu tempuh bertambah. Risiko kerusakan barang meningkat. Margin petani menyusut.

Petani dapat bekerja sama kerasnya dan menghasilkan panen yang sama bagusnya.

Tetapi jalan yang buruk membuat nilai ekonominya berbeda.

Ekonomi Gayo dimulai dari jalan yang paling kecil

Inilah bagian yang sering hilang dalam cara kita melihat pembangunan.

Kita terlalu mudah mengukur infrastruktur dari atas.

Berapa kilometer jalan nasional yang diperbaiki? Berapa jembatan besar yang dibangun? Berapa rupiah anggaran yang terserap?

Semua itu penting.

Tetapi ekonomi rakyat dimulai dari bawah.

Dari kebun ke jalan usaha tani.

Dari jalan usaha tani ke kampung.

Dari kampung ke kecamatan.

Dari kecamatan ke jalan kabupaten atau provinsi.

Kemudian barulah barang bertemu Tronton.

Dengan kata lain, Tronton bukan awal dari rantai ekonomi Gayo. Ia justru berada di bagian akhir dari sebuah perjalanan yang dimulai jauh di kebun.

Gerbak adalah mata rantai awal.

Begerbak adalah penghubung berikutnya.

Tronton membawa hasil itu ke pasar yang lebih jauh.

Maka jika Gerbak dan Begerbak tidak bisa bergerak, Tronton pada akhirnya hanya menjadi kendaraan besar yang menunggu.

Rehab-rekon bukan daftar proyek

Di sinilah paradigma rehab-rekon perlu diperbaiki.

Jangan melihat infrastruktur hanya sebagai daftar proyek fisik.

Lihatlah sebagai rantai konektivitas ekonomi.

Sebuah jalan kecil mungkin tampak tidak penting jika dilihat dari peta nasional. Tetapi bagi puluhan petani yang setiap hari menggunakannya, jalan itu mungkin merupakan satu-satunya pintu menuju pasar.

Sebuah jembatan kampung mungkin tidak bernilai besar dalam angka APBN. Tetapi ketika jembatan itu putus, seluruh hasil kebun di seberang sungai bisa kehilangan akses.

Karena itu, pertanyaan rehab-rekon tidak seharusnya berhenti pada:

Berapa kilometer jalan yang diperbaiki?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Berapa banyak kehidupan ekonomi yang kembali bergerak setelah jalan itu diperbaiki?

Itulah perbedaan antara membangun infrastruktur dan memulihkan ekonomi.

Jangan jadikan bencana sebagai teater

Setiap bencana biasanya menghadirkan pemandangan yang hampir sama.

Pejabat datang. Mobil dinas berbaris. Kamera menyala. Pernyataan dikeluarkan. Satgas dibentuk.

Semua tampak sibuk.

Tetapi rakyat mempunyai ukuran yang jauh lebih sederhana.

Jalan sudah terbuka atau belum?

BBM sudah masuk atau belum?

Hasil kebun sudah bisa keluar atau belum?

Harga sudah kembali normal atau belum?

Petani sudah bisa bekerja atau belum?

Kalau jawabannya belum, maka pekerjaan belum selesai.

Kunjungan kerja bukan pemulihan. Konferensi pers bukan pemulihan. Satgas pun bukan pemulihan jika jalan tetap tertutup.

Negara tidak dinilai dari berapa banyak pejabat yang datang ke lokasi bencana.

Negara dinilai dari seberapa cepat kehidupan warga kembali berjalan.

Dan di Gayo, ujian itu sebenarnya sederhana:

Apakah negara mampu bergerak lebih cepat daripada longsor?

Tiga kendaraan, satu ekonomi

Akhirnya kita kembali kepada tiga kendaraan tadi.

Tronton membawa ekonomi Gayo ke dunia.

Begerbak menghubungkan desa dengan jaringan ekonomi yang lebih besar.

Gerbak membawa hasil bumi keluar dari kebun.

Tiga kendaraan. Tiga ukuran. Satu sistem.

Yang besar mudah terlihat.

Yang kecil sering luput dari kamera.

Padahal, kalau Gerbak tidak bisa keluar dari kebun, Begerbak tidak punya barang untuk dibawa. Kalau Begerbak tidak bisa mencapai jalan utama, Tronton tidak punya apa-apa untuk diangkut.

Di situlah kesalahan melihat rehab-rekon hanya dari atas.

Ekonomi Gayo tidak dimulai dari Tronton. Ia dimulai dari Gerbak.

Karena itu, pemerintah harus memperbaiki Enang-Enang dan titik-titik rawan pada jaringan jalan utama. Tetapi pada saat yang sama, jalan usaha tani, jembatan kampung, dan konektivitas pedesaan harus diperlakukan sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi, bukan sisa pekerjaan yang menunggu kalau anggaran masih ada.

Sebab kopi Gayo tidak memulai perjalanannya di pelabuhan.

Ia dimulai dari seorang petani, sebuah kebun, dan sebuah Gerbak.

Dari sana ia bertemu Begerbak.

Kemudian Tronton.

Barulah dunia mengenalnya sebagai Kopi Gayo.

Jadi, apa beda Tronton, Begerbak, dan Gerbak?

Yang satu membawa ekonomi Gayo ke dunia.
Yang satu menghubungkan ekonomi desa.
Yang satu lagi membawa hasil bumi keluar dari kebun.

Dan pelajarannya sederhana:

Sebelum Tronton melaju ke dunia, pastikan Gerbak dan Begerbak punya jalan untuk bergerak.

Sebab pembangunan yang hanya melihat Tronton akan membangun jalan.

Tetapi pembangunan yang memahami Gerbak dan Begerbak akan menghidupkan ekonomi. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.