Oleh : Prof. Ahmad Humam Hamid*
Selama berbulan-bulan, nama Aceh Tengah berulang kali muncul dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai daerah dengan inflasi tertinggi. Pada Januari 2026, inflasi tahunan mencapai 8,60 persen.
April masih menjadi yang tertinggi di Aceh sebesar 4,93 persen. Memasuki Juni 2026, angkanya kembali melonjak menjadi 7,25 persen, tertinggi di Indonesia.
Angka-angka itu seolah berbicara tentang harga.
Padahal, cerita sesungguhnya bukan tentang harga.
Cerita itu dimulai jauh sebelum BPS menghitung inflasi. Ia dimulai ketika Bencana Senyar memutus jalan, merusak jembatan, dan melumpuhkan akses menuju sentra-sentra produksi di dataran tinggi Gayo.
Di situlah sesungguhnya inflasi lahir.
Bukan di pasar.
Bukan pula di meja statistik.
Melainkan di jalan-jalan yang terputus.
Aceh Tengah bukanlah daerah yang miskin produksi. Sebaliknya, dataran tinggi Gayo merupakan salah satu sentra kopi arabika terbaik dunia sekaligus penghasil utama berbagai komoditas hortikultura di Aceh.
Setiap hari kopi, kentang, wortel, kubis, cabai, tomat, bawang, dan hasil bumi lainnya bergerak menuju Banda Aceh, Medan, hingga pasar ekspor.
Pada saat yang sama, arus lain bergerak ke arah sebaliknya. Beras, minyak goreng, gula, telur, obat-obatan, pupuk, bahan bangunan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok masyarakat masuk melalui jaringan jalan yang sama.
Selama bertahun-tahun kedua arus itu bekerja nyaris tanpa disadari.
Yang satu membawa hasil kerja masyarakat keluar.
Yang satu lagi membawa kehidupan masuk.
Ketika jalan putus, keduanya berhenti hampir bersamaan.
Barang kebutuhan pokok terlambat datang.
Hasil bumi terlambat keluar.
Sebagian sayuran kehilangan mutu.
Sebagian kopi tertahan di gudang.
Aktivitas perdagangan melambat.
Barulah beberapa minggu kemudian inflasi muncul dalam laporan statistik.
Inflasi bukan penyebab.
Inflasi adalah akibat.
Sering kali kita terlalu cepat membaca angka tanpa membaca cerita yang melahirkannya.
Statistik sangat penting.
Namun statistik hanya mencatat akibat.
Ia tidak selalu mampu menjelaskan bagaimana sebuah jalan desa yang tertutup longsor akhirnya berujung pada kenaikan harga di pasar.
Karena itu, membaca inflasi tanpa membaca konektivitas sama saja seperti membaca demam tanpa mencari sumber infeksinya.
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Aceh Tengah
Pelajaran berikutnya mungkin lebih penting.
Mudah sekali menyalahkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah ketika inflasi meningkat.
Padahal bencana sebesar Senyar telah melampaui kapasitas satu pemerintah kabupaten.
Pada titik itulah negara seharusnya hadir dengan seluruh kekuatannya.
Pemerintah kabupaten menjadi garis depan.
Pemerintah provinsi memperkuat koordinasi.
Pemerintah pusat mengerahkan sumber daya nasional.
Itulah pembagian peran dalam sebuah negara yang menghadapi bencana besar.
Karena itu, Senyar seharusnya menjadi bahan evaluasi nasional.
Pertanyaannya bukan semata-mata berapa besar anggaran rehabilitasi yang akhirnya tersedia.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Mengapa pemulihan konektivitas pada masa tanggap darurat tidak dapat berlangsung lebih cepat?
Negara memang tidak dapat menghentikan hujan.
Negara tidak dapat mencegah lereng menjadi longsor.
Tetapi negara memiliki kemampuan untuk mempercepat pembukaan jalan, membangun jembatan darurat, mengerahkan alat berat, memperlancar logistik, dan memastikan sentra-sentra produksi tidak terlalu lama terisolasi.
Di sinilah kapasitas negara sesungguhnya diuji.
Setiap hari keterlambatan bukan sekadar kehilangan waktu.
Ia berarti kopi yang gagal dipasarkan.
Sayuran yang kehilangan mutu.
Pendapatan petani yang hilang.
Warung yang belum memperoleh pasokan.
Anak-anak yang lebih sulit mencapai sekolah.
Pasien yang lebih lama menuju fasilitas kesehatan.
Kerugian-kerugian itu tidak seluruhnya disebabkan oleh bencana.
Sebagiannya merupakan harga yang harus dibayar ketika pemulihan konektivitas berlangsung lebih lambat daripada yang dibutuhkan masyarakat.
Negara tidak selalu diingat karena cepat mengumumkan bantuan.
Negara akan diingat karena cepat membuka jalan.
Bagi masyarakat yang terisolasi, sebuah jembatan darurat jauh lebih berarti daripada seribu siaran pers.
Di sinilah pelajaran terbesar dari Senyar.
Selama ini perhatian kita sering tertuju pada jalan nasional.
Padahal kehidupan masyarakat dimulai dari jalan yang jauh lebih kecil.
Jalan kebun.
Jalan desa.
Jembatan kecil.
Jalan kecamatan.
Dari sanalah hasil bumi bergerak.
Dari sanalah anak-anak berangkat ke sekolah.
Dari sanalah warga menuju puskesmas.
Jalan-jalan kecil itulah yang kemudian tersambung menjadi jalan kabupaten, jalan provinsi, dan akhirnya jalan nasional.
Seluruhnya membentuk satu jaringan kehidupan.
Jika satu mata rantai putus, seluruh jaringan ikut melemah.
Sebaliknya, ketika mata rantai itu disambung kembali, kehidupan perlahan bergerak lagi.
Semakin dicermati, semakin tampak bahwa seluruh rangkaian pemulihan pascabencana Senyar sesungguhnya berbicara tentang satu kata.
Menghubungkan.
Bencana selalu bekerja dengan cara yang sama.
Ia memutus.
Rehabilitasi selalu bekerja dengan arah yang berlawanan.
Ia menyambung.
Menyambung jalan.
Menyambung jembatan.
Menyambung kegiatan ekonomi.
Menyambung pelayanan publik.
Menyambung kepercayaan.
Menyambung harapan.
Karena itu, ukuran keberhasilan rehabilitasi bukan hanya berapa kilometer jalan yang selesai dibangun atau berapa jembatan yang kembali berdiri.
Ukurannya adalah seberapa cepat kehidupan masyarakat kembali mengalir.
Jika inflasi merupakan indikator kesehatan ekonomi, maka kecepatan memulihkan konektivitas setelah bencana seharusnya menjadi indikator kapasitas negara.
Sebab pada akhirnya, yang bergerak di atas jalan bukan hanya kendaraan.
Yang bergerak adalah hasil kerja petani.
Yang bergerak adalah pelayanan publik.
Yang bergerak adalah denyut ekonomi.
Dan yang paling penting, yang bergerak adalah harapan.





