Oleh : Prof Ahmad Humam Hamid (Sosiolog Aceh)
Bagaimana mungkin sebuah masyarakat yang telah begitu dalam terintegrasi dengan pasar global justru mampu mempertahankan solidaritas komunal yang begitu kuat?
Pertanyaan itulah yang terus mengusik saya ketika mengikuti kisah Jembatan Enang-Enang di dataran tinggi Gayo.
Selama lebih dari tiga dekade, Gayo telah menjadi salah satu kisah sukses Indonesia dalam ekonomi global. Kopi Arabika Gayo tidak lagi sekadar komoditas pertanian.
Ia telah menjadi merek dunia. Ribuan petani hidup dari denyut perdagangan internasional. Harga kopi mengikuti pasar global. Standar mutu ditentukan pembeli dari berbagai negara.
Sertifikasi, kualitas, produktivitas, dan persaingan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Secara teori, inilah kondisi yang sering diasosiasikan dengan semakin kuatnya individualisme. Ketika pasar menjadi penggerak utama kehidupan, hubungan sosial perlahan berubah menjadi hubungan ekonomi. Uang menjadi bahasa yang paling dipahami. Solidaritas komunal diperkirakan melemah. Modal sosial perlahan terkikis.
Namun Enang-Enang justru memperlihatkan kenyataan yang bertolak belakang.
Ketika sebuah jembatan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat rusak akibat bencana, yang pertama kali muncul bukanlah sikap menunggu. Yang muncul adalah kepemimpinan.
Di bawah Syahrial Abadi, masyarakat bergerak. Mereka menggalang dana, menghimpun tenaga, membagi pekerjaan, dan memulihkan kembali akses yang menjadi penopang kehidupan bersama.
Banyak orang mungkin melihatnya hanya sebagai kisah gotong royong. Saya melihatnya sebagai sesuatu yang jauh lebih besar. Enang-Enang adalah sebuah laboratorium sosial. Ia membuktikan bahwa modernisasi ekonomi tidak selalu identik dengan matinya solidaritas sosial.
Pelajaran inilah yang menurut saya terlalu penting untuk diabaikan.
Selama ini pembangunan Aceh terlalu sering dibicarakan melalui angka. Berapa besar APBA. Berapa kilometer jalan yang dibangun. Berapa nilai investasi yang masuk. Berapa ton kopi yang diekspor. Berapa persen pertumbuhan ekonomi. Semua indikator itu penting.
Namun hampir tidak pernah kita bertanya: apakah kepercayaan antarmasyarakat juga bertumbuh? Apakah kemampuan masyarakat untuk bertindak bersama juga semakin kuat? Apakah modal sosial juga ikut dibangun?
Ironisnya, justru ketika bencana datang, yang sering menyelamatkan masyarakat bukanlah statistik pembangunan, melainkan modal sosial.
Kita begitu rajin mengukur pertumbuhan ekonomi, tetapi hampir tidak pernah mengukur pertumbuhan kepercayaan. Kita memiliki indikator investasi, ekspor, inflasi, dan kemiskinan, tetapi hampir tidak pernah menjadikan modal sosial sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Padahal, di saat krisis, kepercayaan sering kali jauh lebih berharga daripada uang.
Enang-Enang memberikan pelajaran yang sangat sederhana tetapi sangat mendasar. Infrastruktur memang dapat dibangun dengan anggaran. Namun kemampuan masyarakat untuk bergerak bersama tidak pernah lahir dari anggaran. Ia lahir dari sejarah panjang kepercayaan, kepemimpinan, dan budaya saling menolong.
Di sinilah Syahrial Abadi menjadi penting.
Tulisan ini bukan untuk mengagungkan seorang individu. Syahrial hanyalah simbol bahwa kepemimpinan yang dipercaya masih hidup di tengah masyarakat Gayo. Kepemimpinan seperti ini tidak bergantung pada jabatan formal.
Ia memperoleh legitimasi karena masyarakat percaya. Dan ketika kepercayaan telah terbentuk, mobilisasi sosial menjadi mungkin dilakukan dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam teori pembangunan, inilah yang disebut modal sosial. Ia tidak tampak secara kasatmata. Ia tidak dapat difoto seperti jalan, jembatan, atau pelabuhan. Tetapi ketika krisis datang, pengaruhnya sering kali lebih menentukan daripada infrastruktur fisik itu sendiri.
Pengalaman Gayo sesungguhnya menghadirkan sebuah paradoks yang menarik.
Semakin mendunia kopi Gayo, semakin tampak bahwa masyarakatnya masih mampu bertindak sebagai sebuah komunitas. Semakin kuat hubungan mereka dengan pasar global, semakin terlihat bahwa hubungan antarmanusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh logika pasar.
Paradoks inilah yang seharusnya dipelajari Aceh.
Selama ini Gayo lebih sering dipandang sebagai sentra produksi kopi. Pandangan itu tidak salah, tetapi terlalu sempit. Di balik keberhasilan kopi Arabika, Gayo sesungguhnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada komoditas ekspor. Ia menyimpan modal sosial yang tetap bertahan di tengah modernisasi ekonomi.
Saya bahkan berani mengatakan bahwa ekspor terbesar Gayo bukanlah kopi Arabika.
Ekspor terbesar Gayo adalah kemampuannya mempertahankan kepercayaan di tengah ekonomi global.
Itulah komoditas yang sesungguhnya langka pada abad ke-21.
Minyak dapat habis. Gas dapat menurun. Harga kopi dapat jatuh. Nilai tukar dapat berubah setiap hari. Tetapi masyarakat yang masih mampu saling mempercayai adalah sumber daya yang tidak dapat diimpor dari mana pun.
Ia tidak dapat dibeli dengan APBA. Ia tidak dapat dibangun melalui proyek lima tahunan. Ia tumbuh melalui sejarah panjang, budaya, dan kepemimpinan yang memperoleh legitimasi dari masyarakatnya sendiri.
Karena itu, Pemerintah Aceh sudah saatnya melihat Gayo dengan perspektif yang berbeda.
Jangan hanya melihat produksi kopinya.
Lihatlah masyarakatnya.
Lihatlah bagaimana modernisasi ekonomi tidak mematikan solidaritas.
Lihatlah bagaimana kepemimpinan lokal masih mampu menggerakkan tindakan kolektif.
Lihatlah bagaimana kepercayaan masih menjadi energi sosial yang luar biasa.
Bila modal sosial seperti ini dipelihara, maka ia akan menjadi fondasi ketahanan Aceh menghadapi bencana, krisis ekonomi, bahkan perubahan sosial yang semakin cepat.
Pelajaran ini tidak hanya penting bagi Aceh.
Ia juga penting bagi Republik.
Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Gempa bumi, banjir, longsor, tsunami, dan cuaca ekstrem akan terus menjadi bagian dari kehidupan bangsa ini.
Dalam situasi seperti itu, negara memang harus memiliki birokrasi yang cepat, pendanaan yang memadai, dan infrastruktur yang tangguh. Namun semua itu tidak akan pernah cukup apabila masyarakat kehilangan kemampuan untuk saling percaya.
Negara yang kuat bukanlah negara yang menggantikan masyarakat.
Negara yang kuat adalah negara yang memperkuat masyarakat.
Di sinilah letak pelajaran terbesar dari Enang-Enang. Ia mengajarkan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui beton, baja, dan anggaran, tetapi juga melalui manusia-manusia yang masih bersedia bekerja bersama demi kepentingan bersama.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti memandang Gayo hanya sebagai penghasil kopi terbaik Indonesia.
Gayo sesungguhnya adalah laboratorium pembangunan. Ia menunjukkan bahwa modernisasi ekonomi tidak harus dibayar dengan hilangnya gotong royong. Bahwa pasar global tidak selalu menghapus rasa kebersamaan.
Bahwa kemajuan ekonomi dan modal sosial bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua kekuatan yang dapat tumbuh bersama.
Kelak, ketika sejarah pembangunan Aceh abad ke-21 ditulis, mungkin orang tidak akan mengingat Enang-Enang semata-mata sebagai jembatan yang pernah rusak.
Mereka akan mengingatnya sebagai tempat yang mengajarkan sebuah kebenaran yang sederhana tetapi sangat penting: kekayaan terbesar Aceh bukan hanya yang tersimpan di perut bumi, bukan pula yang tumbuh di lereng-lereng pegunungan, melainkan yang hidup di antara manusia-manusianya.
Itulah modal sosial.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar Gayo untuk Aceh dan Republik. []





