Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado, Bagian 3: Setiap Lele Berkumis Tujuh Helai Milik Awan Prado

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di kampung kami, Jongok Kebayakan, ada satu tokoh yang kalau soal akal, susah dicari tandingannya. Namanya Awan Prado. Beliau bukan dukun, bukan pesulap, apalagi profesor. Tetapi kalau urusan membuat orang mengangguk tanpa sempat berpikir, ilmunya sudah seperti guru besar.

Suatu sore ketika kami masih bocah, kami pulang dari memancing lele di parit-parit sawah Kebayakan Mendale. Ember penuh, hati senang. Rasanya kami sudah seperti nelayan Danau Lut Tawar yang baru pulang panen.

Belum sempat sampai rumah, Awan Prado menghadang.

“Berhenti kalian!”

Kami langsung diam. Anak-anak mana berani melawan orang tua yang terkenal cerdik.

“Kalian tahu tidak? Lele-lele besar itu milik saya.”

Kami saling berpandangan. Perasaan mulai tidak enak.

“Lho, kok bisa, Wan?”

“Mudah membuktikannya,” katanya sambil tersenyum tipis. “Kalau kumis lelenya tujuh helai, berarti itu memang lele saya.”

Kami pun mulai menghitung satu per satu. Aneh bin ajaib, lele yang besar memang berkumis tujuh helai. Yang satu tujuh. Yang lain tujuh. Yang paling besar juga tujuh.

“Wah… benar!”

Tanpa banyak debat, semua lele besar kami serahkan. Tinggallah kami membawa pulang lele-lele kecil sambil merasa telah berlaku jujur.

Bertahun-tahun kemudian, ketika kami sudah dewasa, barulah kami sadar. Rupanya hampir semua lele memang memiliki tujuh helai kumis. Kami bukan kalah karena bodoh. Kami kalah karena terlalu percaya kepada orang yang pandai memainkan logika.

Itulah pelajaran paling mahal dari Awan Prado.

Hari ini, kisah itu terasa seperti sedang diputar ulang dalam panggung birokrasi.

Bedanya, yang memegang ember bukan lagi anak-anak. Yang berdiri berbaris bukan lagi bocah pemancing. Kini yang berbaris adalah pejabat, ASN, dan mungkin juga sebagian masyarakat yang setiap hari dijejali berbagai penjelasan yang terdengar ilmiah, meyakinkan, bahkan penuh istilah manajemen modern.

Kalimat-kalimatnya indah. Presentasinya rapi. Data diputar ke sana, grafik diputar ke sini. Lalu semua mengangguk. Padahal belum tentu memahami.

Pemerintahan Haili Yoga dan Muchsin Hasan sebaiknya belajar dari kisah Awan Prado. Sebab di sekitar seorang pemimpin selalu ada orang-orang yang pandai menghitung “kumis lele”. Mereka datang membawa teori, analisis, strategi, dan berbagai alasan yang terdengar sangat masuk akal.

Celakanya, kadang yang dihitung bukan lagi kumis lele. Yang dihitung adalah loyalitas.
Yang dihitung adalah kedekatan. Yang dihitung adalah siapa yang layak dipertahankan dan siapa yang harus disingkirkan.

Semuanya tampak logis. Semuanya tampak benar. Padahal belum tentu demikian.

Pemimpin yang terlalu percaya kepada “penghitung kumis” lambat laun akan kehilangan lele-lele terbaiknya. Bukan karena dicuri lawan, tetapi karena diserahkan sendiri dengan penuh keyakinan.

Ironisnya, orang yang memberi nasihat paling meyakinkan sering kali justru orang yang paling diuntungkan oleh nasihat itu.

Persis seperti Awan Prado. Beliau tidak mengambil semua lele. Beliau hanya memilih yang besar-besar. Yang kecil dibiarkan agar anak-anak pulang dengan perasaan tetap menang.

Begitu pula dalam birokrasi. Kadang yang hilang bukan seluruh sistem. Yang hilang hanya orang-orang terbaiknya. Yang tersisa cukup banyak sehingga tampak seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Itulah seni mempermainkan persepsi. Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya rajin bekerja. Ia juga harus rajin bertanya.

Benarkah lele ini milikmu? Benarkah semua lele berkumis tujuh berarti milikmu? Atau jangan-jangan, saya sedang dipermainkan oleh logika yang terdengar pintar?

Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang selalu percaya kepada orang paling pandai berbicara. Pemimpin yang hebat adalah mereka yang berani memeriksa kembali setiap “tujuh helai kumis” sebelum menyerahkan lele-lele terbaik milik rakyat.

Sebab sejarah mengajarkan, banyak kerajaan runtuh bukan karena musuh datang dari luar, melainkan karena terlalu banyak Awan Prado yang berdiri di dalam halaman istana sambil berkata dengan penuh keyakinan,

“Lihat saja kumisnya… kalau tujuh helai, itu pasti milik saya.”

Bersambung ke bagian 4…

(Mendale, Juli 13, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.