Oleh: Wien Khakleri, M.Pd (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi momen yang riuh sekaligus mendebarkan bagi setiap keluarga. Menandai dimulainya tahun ajaran baru, seruan pemerintah untuk menyukseskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) kembali menggema kuat di seluruh pelosok, tak terkecuali di dataran tinggi Gayo.
Menariknya, menyambut hari pertama sekolah kali ini, linimasa media sosial kita diramaikan oleh gerakan serentak dari seluruh sekolah yang membumikan gerakan ayah mengantar anak ke sekolah.
Melalui berbagai instrumen dan gerakan ini, pemerintah menegaskan bahwa kehadiran orang tua, terutama sosok Ayah, memiliki dampak psikologis yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak.
Mengantar anak bukan sekadar urusan antar-jemput rutin, melainkan sebuah bentuk dukungan emosional dan fondasi pendidikan sejak usia dini.
Sebagaimana pesan utama yang kerap ditekankan dalam gerakan pengasuhan ini:
“Kehadiran orang tua, terutama ayah, memberikan kepercayaan diri, kenyamanan, dan semangat kepada anak-anak. Ini bukan sekadar antar-jemput, tapi momen membangun ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak.”
Selama ini, ada stigma tidak tertulis yang seolah menempatkan urusan domestik sekolah anak sepenuhnya sebagai tanggung jawab Ibu.
Untuk mendobrak pola asuh lama tersebut, pemerintah mengintegrasikan gerakan ini ke dalam kebijakan taktis, seperti Program Quick Win “Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI)” di Aceh Tengah hingga gerakan GEMASIH (Gerakan Bersama Mengantar Anak Sekolah di Hari Pertama) di Bener Meriah.
Melalui gerakan-gerakan ini, para ayah diajak secara lantang untuk tidak lagi absen dalam dinamika harian sekolah sang anak. Keterlibatan Ayah harus dirasakan secara utuh, baik secara fisik maupun emosional, yang dimulai sejak dari dalam rumah:
“Kita ingin mengubah pola lama. Sekarang ayah harus hadir secara fisik dan emosional dalam pendidikan anak. Mulai dari menyiapkan perlengkapan sekolah, berpamitan hangat dengan ibu, memberi semangat dan doa sebelum berangkat, hingga menyampaikan pesan positif saat di perjalanan.”
Kampanye masif yang dilakukan seluruh sekolah di media sosial menjadi sangat krusial. Namun, narasi yang dibangun di dunia maya harus tetap dijaga agar berfokus pada edukasi pengasuhan, bukan terjebak pada flexing (pamer) visual yang abai pada sensitivitas sosial.
Gerakan ini pun sejatinya tidak mengerdilkan peran Ibu; justru di balik langkah kaki Ayah menuju gerbang, ada peran Ibu sebagai “dirigen” di balik layar yang memastikan seluruh kesiapan domestik anak telah terpenuhi sejak subuh.
Namun, di tengah riunya gerakan mengantar anak dan ramainya unggahan di media sosial, kita juga harus menundukkan kepala sejenak dan melihat sudut-sudut gerbang sekolah dengan penuh empati. Ada sebagian anak yang mungkin menatap pemandangan pagi itu dengan rasa haru sekaligus getir.
Mereka adalah anak-anak yang sudah tidak memiliki Ayah lagi karena berpulang, anak-anak yatim, atau anak dengan kondisi keluarga khusus yang membuat sosok Ayah absen selamanya.
Di antara kerumunan kelas baru, sebuah pertanyaan polos dari sesama siswa baru sering kali terdengar: “Kamu ke sini diantar sama siapa?”
Bagi sebagian besar anak, pertanyaan itu bisa dijawab dengan bangga dan riang, “Aku diantar Ayah!” Namun bagi anak yang berjalan dalam sunyi tanpa sosok pelindung itu, pertanyaan sederhana tersebut bisa menjelma menjadi hantaman emosional yang mengiris hati, membuat mereka mendadak ciut, menunduk, dan merasa terasing di hari pertamanya.
Di sinilah esensi dari Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 tentang MPLS yang ramah anak dan inklusif harus benar-benar diuji.
Sesuai amanat regulasi tersebut, proses transisi anak ke lingkungan sekolah yang baru harus berjalan dengan aman, nyaman, serta bebas dari tekanan psikologis, kekerasan, maupun perundungan (bullying).
Sekolah, para guru, dan masyarakat sekitar harus hadir sebagai “tangan pengganti”. Sosok wali kelas, paman, kakek, atau bahkan Ibu hebat yang berjuang sendirian (single parent) harus dirangkul dengan hangat. Kita harus memastikan bahwa anak-anak ini tidak merasa sendirian saat pertanyaan itu muncul.
Sekolah harus menjadi ruang aman di mana setiap anak—apa pun latar belakang keluarganya—merasa diterima dan dicintai. Kehadiran emosional dari para pendidik di hari pertama, yang dengan sigap merangkul pundak mereka dan berkata, “Hari ini kamu belajar bersama Ibu dan Bapak Guru di sini,” akan menjadi penawar luka serta pembakar semangat yang luar biasa bagi mereka.
Meskipun gerakan GATI dan GEMASIH ini patut diapresiasi, kita harus jujur melihat realitas di lapangan. Persoalan mendasar dalam pendidikan anak sebenarnya bukanlah tentang siapa yang mengantarnya berdiri di depan gerbang sekolah, melainkan tentang menyalanya api semangat di dalam diri anak itu sendiri saat melangkah masuk ke dalam kelas.
Siapa yang mengantar hanyalah urusan seremonial di luar gerbang. Sebuah kemewahan antaran—bahkan jika diantar oleh kedua orang tua menggunakan mobil pribadi—akan menjadi tidak berarti jika anak masuk ke sekolah dengan hati yang cemas, ketakutan akan perundungan (bullying), atau merasa asing di lingkungannya.
Sebaliknya, kita sering menyaksikan anak-anak tangguh, termasuk anak yatim atau mereka yang harus berangkat mandiri naik angkutan umum karena orang tuanya harus bekerja sejak subuh, justru melangkah masuk gerbang dengan kepala tegak, mata berbinar, dan senyum lebar.
Mengapa? Karena mereka memiliki bahan bakar intrinsik: semangat belajar yang tinggi dan rasa aman bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.
Oleh karena itu, sekolah tidak boleh terjebak pada euforia dokumentasi media sosial mengenai seberapa banyak orang tua yang datang. Tugas sejati sekolah dan para guru pasca-gerbang ditutup adalah menyalakan motivasi anak, menghadirkan metode belajar yang humanis, dan memastikan iklim sekolah bebas dari rasa takut.
Figur pengantar di pagi hari hanyalah pendorong di garis start, namun mentalitas, rasa nyaman, dan semangat membara dari dalam diri anaklah yang akan membawanya bertahan hingga garis finish.
Gerakan membumikan edaran ini di media sosial oleh seluruh sekolah, didukung program GATI di Aceh Tengah dan GEMASIH di Bener Meriah, adalah pengingat bahwa pendidikan terbaik selalu berakar dari rumah. Kesuksesan seorang anak lahir dari sinergi yang kokoh antara keluarga dan sekolah.
Momen MPLS tahun ini harus menjadi awal baru bagi para Ayah untuk mengambil peran lebih besar, sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua untuk saling peduli dan berbagi empati di gerbang sekolah maupun dunia maya.
Mari hantarkan seluruh anak-anak kita menuju masa depan dengan penuh rasa percaya diri, karena di bawah langit sekolah, tidak boleh ada satu pun anak yang merasa berjalan sendirian. []





