Oleh: Wien Khakleri Khaidir, M.Pd*
Pelantikan kepengurusan SEMA, DEMA, FORMAKIP, RACANA, dan LDK IAIN Takengon hari ini terasa begitu istimewa. Selain menjadi penanda dimulainya estafet kepemimpinan baru periode 2026–2027, momen ini bertepatan langsung dengan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli 2026.
Momen ini dirayakan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia, termasuk pemerintah, tenaga pendidik, keluarga, dan masyarakat luas, sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Berada di persimpangan dua momentum penting ini mengajarkan kita satu hal: gerakan mahasiswa yang proaktif hari ini adalah fondasi dan investasi bagi kualitas generasi mendatang.
Menjadi pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) tidak boleh lagi sekadar formalitas menjalankan program rutin tahunan. Era sekarang menuntut mahasiswa untuk menjadi penggerak yang peka, cepat tanggap, dan berani mengambil inisiatif solutif demi kemajuan kampus IAIN Takengon serta masyarakat Dataran Tinggi Gayo.
Sebagai aktivis yang berproses di tanah Gayo, kepengurusan baru ini wajib meresapi dan menghidupkan falsafah etos kerja ideal masyarakat lokal:
Lisik (Lincah dan Cekatan): Pengurus Ormawa harus gesit, lincah, dan pandai menyesuaikan diri dengan perubahan zaman serta kebutuhan mahasiswa.
Mersik (Kuat, Tangguh dan Berani): Berorganisasi butuh mental juara. Pengurus harus tangguh menghadapi tantangan, berani membela kebenaran, serta memiliki pendirian yang teguh.
Mutasik (Bekerja Keras dan Berkelimpahan Hasil): Bekerja sungguh-sungguh hingga mampu menghasilkan karya, program kerja, dan kemanfaatan yang melimpah bagi kampus dan masyarakat.
Bidik dan Cerdik (Cepat dan Pintar): Melengkapi etos di atas dengan kecepatan bertindak (bidik) serta kecerdasan berpikir (cerdik) dalam menyikapi isu dan problematika kemahasiswaan.
Falsafah Gayo tersebut berpadu selaras dengan nasihat pencerah dari para ulama. Tokoh pendidikan Islam dan Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Imam Zarkasyi, pernah memberikan nasihat tegas yang sangat relevan bagi para pengurus baru:
“Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Kalau takut mati, jangan hidup. Kalau takut hidup, mati saja!”
Pesan tajam ini menyadarkan kita bahwa masuk ke dalam jajaran Ormawa berarti berani mengambil risiko, berani capek, dan berani berbuat hal yang bermakna. Senada dengan itu, ulama ternama Syekh Mustafa Al-Ghalayaini dalam kitab Idhatun Nasyi’in juga menghembuskan kalimat pencerah yang membakar semangat:
إنَّ فِي يَدِ الشُّبَّانِ أَمْرَ الْأُمَّةِ، وَفِي أَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا
“Sesungguhnya di tangan pemudalah hidup mati suatu umat, dan di dalam langkah-langkah merekalah terletak masa depannya.”
Nilai-nilai di atas harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing Ormawa di IAIN Takengon:
SEMA (Senat Mahasiswa): Menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran secara mersik (tangguh) dan cerdik. SEMA yang proaktif tidak menunggu masalah membesar, tetapi aktif menyerap aspirasi mahasiswa dari akar rumput serta menjembatani komunikasi yang solutif dengan pimpinan kampus.
DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa): Sebagai badan eksekutif, DEMA harus lisik (cekatan) dan bidik (cepat) dalam menghadirkan terobosan program kerja yang relevan, berdampak, serta menjadi garda terdepan perwakilan mahasiswa.
FORMAKIP (Forum Mahasiswa KIP Kuliah): Menjadi wadah pendampingan bagi mahasiswa penerima KIP Kuliah. FORMAKIP bertanggung jawab mengawal hak pendidikan, mendampingi prestasi anggota, serta memastikan beasiswa negara menjadi alat untuk memutus rantai kemiskinan di daerah.
RACANA (Racana Pramuka Pandega): Menjadi pelopor pembinaan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan lapangan, dan aksi pengabdian masyarakat yang berbasis pada nilai-nilai Tri Satya dan Dhasadharma Pramuka.
LDK (Lembaga Dakwah Kampus): Menjadi benteng moral dan pusat syiar keislaman di lingkungan akademik, menghadirkan dakwah yang ramah, inklusif, serta membina akhlak generasi muda di tengah gempuran era digital.
Semangat kepemudaan ini sejalan dengan penegasan dari Rektor IAIN Takengon, Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL. Dalam arahannya, beliau menekankan bahwa masa mahasiswa adalah waktu terbaik untuk berkarya dan mempersiapkan diri menuju visi Indonesia Emas 2045.
Menghubungkan momen pelantikan dengan Hari Anak Nasional, Prof. Ridwan mengutip pemikiran filosofis Khalil Gibran tentang anak sebagai “anak panah” yang akan melesat menuju masa depan, sementara para pimpinan dan pembina adalah “busurnya”. Terdapat tiga aspek kunci yang ditegaskan beliau untuk membedakan kualitas seorang aktivis, yaitu: keterampilan (skill), pola pikir (mindset), dan sikap (attitude).
Selain menekankan integritas dan kolaborasi, Prof. Ridwan juga mengingatkan bahwa kelompok kecil yang memiliki komitmen dan kualitas tinggi mampu mengalahkan kelompok besar, sebagaimana hikmah besar dari sejarah Perang Badar.
Sebagai kata pungkas dalam serayanya, Pak Rektor mengingatkan tanggung jawab bersama dalam merawat almamater:
“IAIN Takengon adalah kampus milik bersama yang harus dijaga kebersihan, pelayanan, dan keindahannya. Berada di kawasan destinasi pariwisata, wajah kampus kita harus senantiasa mencerminkan budaya yang bersih, ramah, dan berintegritas.”
Momentum 23 Juli ini adalah garis start. Sumpah dan janji di atas podium pelantikan adalah janji moral kepada kampus, masyarakat, dan Allah SWT.
Kepada rekan-rekan pengurus SEMA, DEMA, FORMAKIP, RACANA, dan LDK IAIN Takengon: jadilah aktivis yang lisik, mersik, mutasik, bidik, dan cerdik. Jadilah anak panah yang melesat tajam dengan modal skill, mindset, dan attitude unggul. Hiduplah dengan berarti, bekerja dengan integritas, dan memimpin dengan kolaborasi. Sebab perubahan tidak pernah ditunggu, melainkan diciptakan!
Selamat bertugas, selamat mengabdi, dan jadilah penggerak yang proaktif demi masa depan!




