Detik-Detik Melepas Anak ke Pesantren: Penuh Air Mata tapi Bangga

oleh

Oleh: Wien Khakleri Khaidir, M.Pd (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh/Alumni IAIN Takengon)

Pemandangan di gerbang pondok pesantren pada hari pertama kedatangan santri baru selalu berhasil mengaduk-aduk emosi. Di sana, kita akan melihat tumpukan koper, kasur lipat, ember, gayung, dan segala peralatan asrama yang berserakan. Hari itu bukan hanya milik ayah dan ibu; gerbang pesantren penuh sesak oleh rombongan keluarga besar yang ikut mengantarkan.

Mulai dari kakek, nenek, paman, hingga bibi, semua hadir untuk memberikan restu. Di sela-sela riuhnya suasana, tampak para orang tua sibuk mengabadikan momen-momen terakhir bersama buah hati melalui layar handphone, bersiap mengunggahnya ke status whatsApp, cerita Instagram, atau beranda facebook sebagai penanda awal perjuangan baru.

Sebelum melangkah masuk, sebuah prosesi haru terjadi di setiap sudutnya: anak menyalami satu per satu tangan kakek, nenek, bibi, dan seluruh keluarga, lalu pelukan erat dari orang tua, bisikan nasihat yang terputus oleh isak, dan mata para ibu yang sembab.

Melepas anak untuk hidup mandiri bersama peralatan sederhananya di pesantren adalah hari di mana ego dan kenyamanan keluarga harus runtuh demi masa depan sang buah hati.

Jujur saja, ada perang batin yang hebat di dalam dada setiap orang tua. Rasa cemas kerap kali datang mengetuk pikiran. Apakah anakku bisa makan dengan baik di sana? Apakah dia kesepian saat rindu rumah melanda? Bisakah dia tidur nyenyak tanpa kasur empuk dan AC di rumahnya?

Menangis dan merasa berat hati adalah hal yang sangat manusiawi. Itu bukan tanda kita tidak ikhlas, melainkan bukti betapa besarnya rasa cinta kita kepada mereka.

Namun, di atas semua air mata yang jatuh, ada satu rasa yang jauh lebih besar and membuncah: rasa bangga.

Di tengah gempuran zaman digital saat ini, ketika moral generasi muda diuji oleh candu gadget dan pergaulan bebas, memilih pesantren sebagai labuhan hidup anak adalah keputusan yang visioner. Kita tidak sedang membuang atau menjauhkan anak dari rumah. Sebaliknya, kita sedang menitipkan aset terbaik kita ke tempat yang paling steril untuk membentuk karakter dan adab mereka.

Rasa bangga dan tegar itu seketika mengalahkan ego kita sebagai orang tua ketika kita mengingat kembali esensi dari kehidupan ini. Allah SWT telah mengingatkan kita dengan sangat tegas dalam Al-Qur’an QS. An-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

Ayat ini adalah alarm bagi kita semua. Pesantren adalah ikhtiar nyata kita agar tidak meninggalkan generasi yang lemah iman, lemah ilmu, dan lemah akhlak. Langkah ini diperkuat oleh sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang sangat indah:

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim)

Melalui laku ikhlas melepas anak ke pesantren, kita sebenarnya sedang menjawab perintah Allah sekaligus menjemput ketiga investasi langit tersebut. Di pesantren, anak-anak kita dibentuk adabnya, diajarkan ilmu agama yang bermanfaat yang kelak akan mereka amalkan, dan dididik siang-malam untuk menjadi pribadi yang shalih.

Kita harus sadar, pesantren ini hadir bukan untuk menjauhkan anak dari kemajuan zaman, melainkan untuk menyelamatkan kita dan anak-anak kita. Di tempat inilah, mereka dididik untuk membarengi urusan dunia dan akhirat secara seimbang mengejar kesuksesan hidup tanpa sedikit pun melupakan tujuan abadi di akhirat kelak.

Kita juga harus menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa para Guru, Ustaz, dan Kiai di pesantren adalah orang tua kedua bagi anak-anak kita. Jika di rumah kita yang menjaga fisiknya, maka di pesantren merekalah yang menjaga dan menutrisi jiwa serta akal anak-anak kita dengan ilmu dan kasih sayang. Kita tidak melepaskan anak ke ruang hampa, kita sedang menitipkan mereka kepada pengganti kita yang insya Allah akan membimbing mereka dengan rida Allah.

Kita harus sadar bahwa kita tidak akan selamanya ada di dunia ini untuk menemani mereka. Kelak, saat tubuh kita sudah terbujur kaku di liang lahat, bukan pangkat, harta, atau jabatan kita yang bisa menolong.

Melainkan lantunan ayat suci Al-Qur’an, hafalan hadits, dan doa-doa tulus dari anak shalih yang kita lepas hari inilah yang akan menjadi cahaya penerang di alam kubur kita.

Oleh karena itu, bagi seluruh orang tua yang hari ini sedang atau akan mengantarkan anaknya ke pesantren, kalau pun kita ingin menangis, jangan pernah lakukan itu di depan anak.

Sembunyikan air mata kita, lalu hadirkan senyuman terbaik di hadapan mereka. Berilah mereka semangat yang membakar dada, dan berilah kepercayaan penuh bahwa mereka mampu melewati ini. Anak-anak butuh melihat orang tuanya tegar agar mereka juga punya keberanian untuk melangkah mandiri.

Bisikkan ke telinga mereka dengan nada yang mantap saat pelukan terakhir: “Selamat belajar di taman surga, Nak. Shalat jangan tinggal ya, Nak. Doakan Ayah dan Ibu selalu sehat di rumah. Kami rida, kami percaya kamu bisa.”

Selain memberikan kepercayaan pada anak, mari kita sesama orang tua santri juga saling menguatkan dan saling mendoakan dari rumah melalui doa di sepertiga malam. Karena doa orang tua adalah senjata paling ampuh bagi keberhasilan seorang santri.

Yakinlah, biarkan kita menangis di awal karena menahan rindu demi ilmu, daripada kita harus menangis dan menyesal di akhir melihat masa depan anak yang salah arah. Air mata perpisahan yang tumpah hari ini di antara tumpukan peralatan pesantren itu adalah harga kecil yang amat murah untuk sebuah kebahagiaan dan keselamatan abadi di akhirat kelak.

Sebagai pembakar semangat, mari kita titipkan pesan adat nan luhur dari bumi Gayo ini di dalam dada anak-anak kita yang melangkah pergi menuntut ilmu:

Serulah ulung ni Belo,

semelah ulung ni pinang.

Sekulah beloh muranto,

pantang ulak sebelum menang.

Mari kita iringi langkah gigih mereka dengan untaian doa yang tulus,

Ya Allah, kami doakan dan titipkan anak-anak kami yang sedang menuntut ilmu di pesantren ini ke dalam penjagaan-Mu yang Maha Sempurna. Karuniakanlah mereka kesabaran, mudahkanlah mereka dalam memahami ilmu agama, dan jagalah pergaulan serta hati mereka agar kelak tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah.

Dan untuk para orang tua serta keluarga besar yang mengantarkan, kuatkanlah hati kami, luaskanlah sabar dan rida kami, serta berkahilah setiap tetes keringat yang kami keluarkan demi membiayai pendidikan mereka. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alaamiin.

Selamat berjuang para orang tua santri, ketulusanmu adalah jalan dakwah yang nyata.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.