Strategi Mengemas Kecemasan

oleh

Oleh : Ayang Kia Dermawan S, Psi

Barangkali, sejak kecil kita terlalu sering diajari cara membersihkan sesuatu, tetapi terlalu sedikit diajari cara menguatkan sesuatu.

Rumah dibersihkan agar debu tidak menempel. Halaman disapu agar daun-daun kering tidak berserakan. Piring dicuci agar sisa makanan tidak mengerak. Bahkan tubuh pun diajarkan mandi setiap hari agar segala yang melekat di kulit luruh bersama air.

Maka perlahan kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang steril, bahwa segala sesuatu yang mengganggu harus disingkirkan, bahwa segala yang tidak kita sukai harus dijauhkan.

Mari sedikit kita melirik kehidupan dewasa kita, pasti dalam satu titik hidup ini, selalu ada fase dalam hidup ketika kita merasa baik-baik saja secara fisik, tetapi begitu lelah secara mental.

Setiap hari kita digerogoti kebingungan yang bermuara pada pertanyaan yang sama “Aku sebenarnya sedang menuju ke mana?”

Bingung memilih karier. Bingung menentukan masa depan. Bingung apakah keputusan hari ini akan disesali beberapa tahun lagi. Belum selesai dengan kebingungan itu, kita membuka media sosial dan melihat orang lain seolah telah menemukan jalannya.

Ada yang sudah menikah, ada yang diterima di perusahaan impian, ada yang kuliah di luar negeri, ada yang membangun bisnis dengan omzet ratusan juta. Tanpa sadar, kita mulai mengukur hidup sendiri menggunakan penggaris milik orang lain.

Lalu lahirlah kecemasan.

Ironisnya, kita hidup di zaman dengan akses informasi terbesar sepanjang sejarah manusia, tetapi justru menjadi generasi yang paling mudah kehilangan arah. Setiap hari kita mengonsumsi ratusan bahkan ribuan informasi.

Nasihat dari seorang motivator bertabrakan dengan pendapat psikolog. Konten finansial bertentangan dengan konten karier. Algoritma menghadirkan begitu banyak standar kehidupan yang berbeda-beda, hingga kita kesulitan membedakan mana yang benar-benar kita inginkan dan mana yang sekadar kita lihat berulang kali. Kita menjadi kenyang informasi, tetapi lapar ketenangan.

Ketika rasa cemas muncul, sebagian orang memilih “mensterilkan” hidupnya. Mereka mulai menghindari orang-orang tertentu, memutus pertemanan, berhenti mengikuti akun media sosial, atau membatasi lingkungan hanya pada orang-orang yang dianggap “baik”. Sekilas terdengar bijaksana.

Namun, apakah hidup memang bisa dibuat steril?

Padahal, Tuhan tidak pernah menciptakan dunia sebagai ruang yang putih, dingin, dan bebas dari pengaruh buruk. Dunia lebih menyerupai tanah tempat hujan dan kemarau bergantian turun tanpa pernah saling meminta izin.

Di atas tanah yang sama, tumbuh padi dan ilalang, bunga dan duri, pohon rindang dan semak belukar. Matahari tidak memilih hanya menyinari kebun orang saleh, sebagaimana hujan tidak memilih hanya membasahi atap rumah orang baik.

Bukankah dunia memang akan selalu mempertemukan kita dengan orang yang berbeda nilai, berbeda cara berpikir, bahkan berbeda tujuan hidup ?

Jika kita hanya merasa aman ketika semua lingkungan sesuai dengan keinginan kita, maka ketenangan itu sangat rapuh. Sebab dunia tidak di design untuk selalu nyaman.

Mari kita belajar cara mengemas kecemasan dari sistem tubuh kita sendiri, tubuh manusia menyimpan pelajaran yang sangat tua. Dalam ilmu kesehatan, ada dua pendekatan untuk mencegah penyakit.

Yang pertama adalah sterilisasi, yaitu menghilangkan semua sumber penyakit. Yang kedua adalah membangun sistem imun agar tubuh mampu bertahan meskipun bertemu virus dan bakteri. Itu artinya, alih-alih berharap angin tidak membawa virus, tubuh kita lebih memilih membentuk sesuatu yang disebut daya tahan.

Masalahnya, kehidupan hampir mustahil disterilkan.

Kita tidak mungkin menghapus semua orang yang toksik. Tidak mungkin mematikan semua berita buruk. Tidak mungkin menghilangkan standar hidup tertentu yang dikampanyekan orang lain di media sosial. Tidak mungkin apa yang kita inginkan akan serta merta langsung terjadi.

Kalau begitu, apakah kita akan terus hidup dalam kecemasan?

Maka berangkat dari realita inilah, barangkali yang perlu dibangun bukanlah dunia yang steril, melainkan hati kita yang memiliki imun.

Imun membuat tubuh tidak panik setiap kali bertemu virus. Ia mengenali ancaman, lalu meresponsnya tanpa kehilangan keseimbangan. Begitu pula manusia. Ketika hati memiliki nilai yang kuat, kita tidak mudah hanyut hanya karena lingkungan sedang buruk. Lihat saja, kenapa ada orang yang hidup di tengah lingkungan yang keras, tetapi kelembutannya tetap terjaga.

Ada yang setiap hari berhadapan dengan kebohongan, tetapi lisannya enggan berdusta. Ada yang dikelilingi keserakahan, tetapi tangannya tetap ringan memberi. Bukan karena mereka tinggal di dunia yang berbeda, melainkan karena mereka memelihara sesuatu yang lebih kuat daripada dunia itu sendiri.

Kita tetap mampu memilih jujur ketika kebohongan dianggap biasa. Kita tetap mampu rendah hati ketika kesombongan menjadi tren. Kita tetap mampu bekerja dengan integritas meskipun jalan pintas terlihat lebih menguntungkan. Kita tidak kebal karena dunia berubah menjadi baik. Kita kebal karena ada sesuatu di dalam diri yang lebih kuat daripada pengaruh di luar.

Orang yang hanya mengandalkan sterilisasi akan terus sibuk memilah manusia. Siapa yang layak didekati, siapa yang harus dijauhi. Siapa yang membawa energi positif, siapa yang negatif. Sedikit demi sedikit, hidupnya berubah menjadi ruang yang sempit karena semua yang berbeda dianggap ancaman.

Di situlah kita mulai mengerti mengapa para ulama terdahulu lebih sibuk membersihkan hati daripada membersihkan keadaan. Sebab keadaan selalu berganti, sedangkan hati adalah tempat segala sesuatu diberi nama.

Bila hati menjadi keruh, air yang jernih pun akan tampak kotor. Namun bila hati tetap bening, lumpur sekalipun tidak sanggup mengubah mata air menjadi kehilangan sifatnya.

Sampai di sini, analogi imun mungkin terasa hanya sebagai penjelasan biologis. Padahal jauh sebelum ilmu kesehatan mengenal konsep daya tahan tubuh, agama telah lama berbicara tentang daya tahan jiwa.

Mungkin Imun itulah yang oleh agama disebut iman. Iman tidak menghapus kecemasan, melainkan mengarahkan kecemasan.

Iman bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan, melainkan kekuatan yang membentuk daya tahan dalam jiwa kita. Maka segala cara untuk menguatkan iman, adalah secara paralel menjadi imun bagi kecemasan yang tumbuh dalam hati kita. Jangan keliru memahami iman.

Kita mengira orang yang beriman adalah orang yang tidak pernah cemas. Padahal, kecemasan adalah bagian dari tabiat manusia, sebagaimana lapar adalah tabiat tubuh. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya kecemasan, melainkan kepada siapa kecemasan itu bermuara.

Nabi Ibrahim pernah gelisah ketika diperintahkan menyembelih putranya. Nabi Musa pernah diliputi rasa takut ketika berhadapan dengan Fir’aun.

Bahkan ketika berada di dalam gua bersama Abu Bakar, Rasulullah SAW berada dalam keadaan yang secara manusiawi sangat genting, hingga Allah mengabadikan penghiburan-Nya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Bukan karena para nabi tidak memiliki rasa takut, melainkan karena rasa takut itu tidak pernah dibiarkan lebih besar daripada kepercayaan mereka kepada Allah.

Iman tidak berhenti hanya di sholat, lebih sederhana dari itu. Ia hadir ketika kita mampu menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki, dan tidak semua yang hilang berarti Tuhan sedang menghukum kita.

Ia tumbuh saat kita belajar mempercayai bahwa ada sesuatu yang bekerja jauh melampaui jangkauan akal kita, mengatur perjumpaan, perpisahan, rezeki, kehilangan, bahkan kegagalan yang hari ini belum sanggup kita pahami.

Tidak semua orang beruntung hidup di keluarga yang ideal. Tidak semua bekerja di tempat yang sehat. Tidak semua memiliki lingkaran pertemanan yang dewasa. Namun, setiap orang masih memiliki pilihan untuk menentukan seperti apa dirinya.

Mungkin di situlah letak perbedaan antara orang yang hatinya memiliki imun dan yang tidak. Orang yang imunnya baik tetap dapat terserang virus, tetapi tubuhnya tidak mudah dikalahkan olehnya. Demikian pula iman.

Ia tidak membuat hidup steril dari kehilangan, penolakan, kegagalan, atau ketidakpastian. Namun, ia membuat hati tidak mudah roboh ketika semua itu datang mengetuk pintu. Kecemasan masih mungkin singgah, tetapi tidak diberi tempat tinggal. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.