Kembali ke Almamater, Menyalakan Harapan Generasi

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah)

Ada perasaan yang sulit diungkapkan ketika kembali menginjakkan kaki di sekolah tempat kita pernah belajar. Bangunan mungkin telah berubah, ruang kelas telah diperbarui, dan generasi peserta didik terus berganti.

Namun, semangat yang hidup di sebuah sekolah tetap sama, yakni melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

Alhamdulillah, pada tahun ajaran 2026/2027 saya kembali mendapat amanah sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 1 Takengon.

Amanah ini saya jalankan bersama Herlinaningsih, M.Ag., Penyuluh Agama Madya KUA Kecamatan Pegasing, berdasarkan Surat Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah.

Pada Selasa, 14 Juli 2026 kami ditugaskan untuk memberikan pembinaan kepada peserta didik baru melalui materi tentang pembentukan remaja berkarakter, cerdas digital, dan siap menyongsong masa depan.

Penugasan ini saya maknai sebagai bentuk nyata sinergi antara Kementerian Agama dan dunia pendidikan. Pembentukan karakter generasi muda tidak mungkin hanya menjadi tugas sekolah semata. Dibutuhkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk keluarga, masyarakat, dan lembaga pemerintah, agar lahir generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan sekaligus kokoh dalam akhlak.

Bagi saya pribadi, amanah ini memiliki makna yang lebih mendalam. Ini bukan kali pertama saya dipercaya menjadi narasumber pada kegiatan MPLS di SMAN 1 Takengon. Pada tahun ajaran 2025/2026 saya juga memperoleh kesempatan yang sama. Kepercayaan yang diberikan secara berturut-turut tentu menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab moral untuk terus berbagi pengalaman dan motivasi kepada adik-adik yang baru memulai perjalanan mereka di bangku SMA.

Ada ikatan emosional yang membuat setiap langkah di lingkungan sekolah ini terasa berbeda. Saya adalah alumni SMAN 1 Takengon angkatan 1993, menempuh pendidikan pada Jurusan Ilmu-ilmu Fisik (A1) selama periode 1990–1993. Tiga puluh tiga tahun yang lalu, saya duduk di bangku yang kini ditempati para peserta didik baru. Saya pernah merasakan gugup sebagai siswa baru, belajar memahami pelajaran, bercita-cita tentang masa depan, hingga akhirnya menamatkan pendidikan dari sekolah ini.

Saat itu, kami belajar dalam suasana yang sangat sederhana. Internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Telepon pintar, media sosial, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) masih sebatas angan. Buku dan guru menjadi sumber utama ilmu pengetahuan. Keterbatasan itu justru melatih kami untuk tekun, sabar, dan menghargai setiap proses belajar.

Kini zaman berubah sangat cepat. Informasi hadir tanpa batas dalam genggaman. Teknologi berkembang luar biasa dan membuka peluang yang hampir tidak terbatas. Namun di balik kemudahan itu tersimpan tantangan besar. Kecanduan gawai, banjir informasi, penyebaran hoaks, perundungan digital, hingga krisis karakter menjadi persoalan yang harus dihadapi generasi muda saat ini.

Karena itu, saya meyakini bahwa tantangan terbesar pendidikan bukan lagi sekadar mencerdaskan peserta didik, tetapi membentuk karakter mereka. Pengetahuan dapat diperoleh dari internet atau kecerdasan buatan, tetapi kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan integritas hanya dapat dibangun melalui pendidikan yang baik, keteladanan, dan pembiasaan.

Sebagai seorang Penghulu, saya sering menyaksikan berbagai persoalan kehidupan yang berawal dari lemahnya karakter sejak usia remaja. Sebaliknya, saya juga melihat banyak keberhasilan lahir dari pribadi-pribadi yang menghormati orang tua dan guru, menjaga akhlak, serta tidak pernah berhenti belajar.

Oleh karena itu, MPLS seharusnya dipandang bukan sekadar kegiatan mengenalkan lingkungan sekolah atau tata tertib. MPLS adalah momentum menanamkan arah hidup. Sejak hari pertama menjadi siswa SMA, setiap anak perlu diyakinkan bahwa masa depannya ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang dilakukan setiap hari: disiplin datang ke sekolah, rajin belajar, memilih teman yang baik, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.

Kembali ke almamater selalu mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan besar berawal dari ruang kelas. Tidak ada yang tahu siapa di antara peserta didik baru hari ini yang kelak menjadi dokter, guru, ilmuwan, hakim, pengusaha, birokrat, ulama, ataupun pemimpin bangsa. Namun satu hal yang pasti, masa depan itu sedang dibangun mulai hari ini.

Sebagai alumni, saya berharap SMAN 1 Takengon terus melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, kuat dalam karakter, cerdas dalam memanfaatkan teknologi, serta kokoh dalam nilai-nilai keimanan dan kebangsaan.

Saya bersyukur dapat kembali ke sekolah ini, bukan lagi sebagai siswa, melainkan sebagai bagian dari Kementerian Agama yang mendapat amanah untuk berbagi pengalaman dan motivasi. Bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari pendidikan: suatu saat, seorang murid akan kembali ke sekolahnya, bukan untuk belajar, tetapi untuk menginspirasi generasi berikutnya. Semoga ikhtiar kecil ini menjadi amal jariah dan memberi manfaat bagi lahirnya generasi Aceh Tengah yang berkarakter, cerdas digital, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.