Catatan Jumat Mahbub Fauzie
Ada saatnya kita mengingatkan diri sendiri: jangan terjebak dalam ashabiyah, jangan merasa suku, kelompok, daerah, organisasi, atau golongan kita paling baik dan paling berhak dihormati. Jangan pula fanatisme itu menyeret kita kepada sikap yang gemar menghakimi, menyalahkan, menyesatkan, dan merasa hanya kelompok sendiri yang berada di jalan kebenaran.
Islam datang bukan untuk mempertajam sekat-sekat manusia, tetapi untuk membangun persaudaraan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
โWahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.โ
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan suku dan bangsa bukan alasan untuk saling merendahkan. Perbedaan adalah bagian dari ketetapan Allah. Ukuran kemuliaan bukan keturunan, suku, bangsa, warna kulit, daerah asal, jabatan, kekayaan, maupun kelompok.
Ukuran kemuliaan adalah takwa. Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim mengatakan, secara terang-terangan maupun tersirat, bahwa sukunya lebih unggul, daerahnya lebih hebat, bangsanya lebih mulia, atau kelompoknya lebih benar daripada yang lain.
Kita boleh mencintai tanah kelahiran. Boleh bangga terhadap budaya. Boleh menjaga adat dan identitas. Tetapi kecintaan itu jangan berubah menjadi kesombongan. Kebanggaan jangan berubah menjadi penghinaan terhadap orang lain.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ฌ๐ก๐๐๐ข๐ฒ๐๐ก
Rasulullah SAW memperingatkan bahaya fanatisme golongan. Dalam sebuah hadis, ketika para sahabat menyerukan seruan yang bernuansa kelompok, Nabi SAW bersabda:
โTinggalkanlah seruan itu, karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk.โ (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, ketika ditanya tentang seseorang yang berperang karena fanatisme kelompok, Nabi SAW menjelaskan bahwa bukanlah perjuangan di jalan Allah orang yang berperang agar kelompoknya diagungkan.
Pesannya jelas: membela kebenaran berbeda dengan membela kelompok secara membabi buta.
Fanatisme yang membuat kita menutup mata terhadap kesalahan kelompok sendiri dan membenci kelompok lain bukanlah kemuliaan.
๐๐๐ ๐ ๐๐ข๐ฌ๐๐ง, ๐๐๐ ๐ ๐๐ค๐ก๐ฎ๐ฐ๐๐ก
Allah SWT juga memberikan peringatan yang sangat tegas:
โWahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi yang diperolok-olokkan lebih baik daripada mereka.โ (QS. Al-Hujurat: 11)
Kemudian Allah melarang prasangka buruk, mencari-cari kesalahan dan menggunjing:
โJauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.โ (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat-ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Sebab lisan tidak lagi hanya berada di mulut. Jari pun telah menjadi lisan.
Apa yang kita tulis di media sosial adalah perkataan. Apa yang kita bagikan dapat menjadi penyebaran kebencian. Apa yang kita komentari dapat melukai kehormatan orang lain.
Maka seorang Muslim harus menjaga adab, bukan hanya ketika berbicara, tetapi juga ketika menulis dan bermedia sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
โBarang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.โ
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa sederhana pesan ini, tetapi betapa dalam maknanya.
Tidak semua yang kita tahu harus kita katakan. Tidak semua yang kita rasakan harus kita tuliskan. Tidak semua perbedaan harus dibalas dengan penghinaan.
Kadang-kadang diam adalah bentuk kedewasaan iman.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ซ๐๐ฌ๐ ๐๐๐ฅ๐ข๐ง๐ ๐๐ฎ๐ฅ๐ข๐
Tidak ada manusia yang memiliki seluruh kelebihan.
Setiap suku memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap bangsa memiliki sejarah dengan sisi baik dan buruknya. Setiap kelompok memiliki orang-orang baik sekaligus manusia yang memiliki kekurangan.
Begitu pula diri kita. Karena itu, mengapa harus merasa paling tinggi?
Allah bahkan mengingatkan:
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.โ (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Kita tidak boleh tergesa-gesa merasa paling suci, paling benar, paling berjasa, apalagi merasa paling mulia.
Takwa bukan gelar yang kita sematkan kepada diri sendiri. Takwa adalah kualitas yang Allah nilai.
๐๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ฉ๐๐ซ๐ญ๐ข ๐๐๐ฎ๐ฆ ๐๐ก๐๐ฐ๐๐ซ๐ข๐ฃ
Sejarah umat Islam juga memberikan pelajaran tentang bahaya keberagamaan yang kehilangan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan.
Rasulullah SAW telah memperingatkan tentang munculnya kelompok yang membaca Al-Qur’an tetapi pemahamannya tidak menembus hati. Beliau menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Peringatan ini tidak untuk menjadikan kita mudah melabeli orang lain sebagai Khawarij. Justru sebaliknya: jangan sampai kita memiliki sifat-sifat yang diperingatkan tersebutโmudah menghakimi, merasa paling benar, keras terhadap sesama Muslim, dan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus ukhuwah.
Jangan mudah menuduh orang lain sesat. Jangan mudah mengkafirkan. Jangan mudah merendahkan. Jangan merasa hanya kelompok kita yang memiliki kebenaran.
Sebab ilmu tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan. Semangat beragama tanpa keluasan ilmu dapat berubah menjadi fanatisme. Dan fanatisme yang kehilangan akhlak dapat menjadi sumber perpecahan.
๐๐๐ซ๐๐๐ค๐๐ค๐๐ง ๐๐ข๐ซ๐ข
Kita sering berbicara tentang kemerdekaan bangsa. Tetapi ada kemerdekaan lain yang tidak kalah penting: kemerdekaan pribadi, jiwa, dan pikiran.
Merdeka dari kebencian. Merdeka dari fanatisme. Merdeka dari prasangka. Merdeka dari keinginan untuk selalu menang dalam perdebatan.
Merdeka dari kebutuhan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kemerdekaan seperti itu membutuhkan iman, akal sehat, dan fitrah kemanusiaan.
Iman mengajarkan bahwa kita akan kembali kepada Allah. Akal sehat mengajarkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Fitrah kemanusiaan mengajarkan bahwa orang lain juga ingin dihormati sebagaimana kita ingin dihormati. Dan hidup di dunia ini hanyalah sementara.
Allah SWT mengingatkan:
โKetahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.โ (QS. Al-Hadid: 20)
Lalu untuk apa kita menghabiskan umur dengan membangun kebencian?
Untuk apa merendahkan suku lain? Untuk apa menghina bangsa lain? Untuk apa mempertentangkan kelompok? Bukankah pada akhirnya kita semua akan meninggalkan dunia ini?
Jabatan akan ditinggalkan. Kekayaan akan ditinggalkan. Popularitas akan berlalu. Kelompok yang hari ini dielu-elukan pun suatu saat akan berganti.
Yang kita bawa bukan nama kelompok. Bukan kebanggaan suku. Bukan banyaknya pengikut. Melainkan amal dan ketakwaan. Menjadi Muslim yang Menenangkan
Orang yang benar-benar beriman semestinya menghadirkan ketenangan, bukan permusuhan.
Keimanan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan semakin gemar merendahkan. Akal sehat seharusnya membuat kita mampu membedakan antara kritik dan penghinaan, antara nasihat dan kebencian, antara membela kebenaran dan membela kelompok secara membabi buta.
๐๐๐ซ๐ข ๐ค๐ข๐ญ๐ ๐ฃ๐๐ ๐ ๐ฎ๐ค๐ก๐ฎ๐ฐ๐๐ก.
Jaga lisan. Jaga tulisan. Jaga perasaan sesama. Kita boleh berbeda suku, tetapi tetap manusia. Kita boleh berbeda daerah, tetapi tetap satu bangsa. Kita boleh berbeda kelompok, tetapi tetap dapat hidup berdampingan.
Dan sebagai sesama Muslim, kita memiliki ukhuwah yang harus dirawat.
Tidak ada yang paling mulia karena sukunya.
Tidak ada yang paling hebat karena bangsanya.
Tidak ada yang paling benar hanya karena kelompoknya.
Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Maka, mari merdekakan diri dari fanatisme yang membutakan.
Merdekakan jiwa dari kebencian. Merdekakan pikiran dari prasangka. Merdekakan lisan dari penghinaan. Dan merdekakan hati dari kesombongan.
Sebab dunia ini sementara, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan Allah adalah pasti.[]
Bumi Allah, 21 Agustus 2026





