Ketika Seorang Pemimpin Mendekat kepada Rakyat

oleh

Catatan Mahbub Fauzie*

Ada pertemuan yang berlangsung hanya beberapa menit, tetapi meninggalkan kesan yang panjang. Ada pula peristiwa sederhana yang, jika direnungkan, menyimpan pesan yang tidak sederhana.

Rabu, 19 Agustus 2026, sekitar waktu Zuhur, Masjid Jamik Baitussalam, Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah, menjadi tempat sebuah perjumpaan yang bagi saya sangat berkesan.

Kapolda Aceh, Irjen Pol. Ruddi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H., bersama rombongan singgah untuk menunaikan salat Zuhur dalam perjalanan dari Jagong Jeget menuju Takengon. Sebelumnya, beliau menghadiri kegiatan penanaman bawang putih secara serentak di Kampung Paya Tungel, Kecamatan Jagong Jeget, sebagai bagian dari dukungan terhadap program swasembada pangan. Kegiatan tersebut terhubung secara virtual dengan penanaman serentak di sejumlah provinsi yang dipimpin Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Yang menarik bagi saya bukan sekadar bahwa seorang Kapolda singgah di sebuah masjid di kecamatan kecil. Lebih dari itu, beliau menjadi imam salat Zuhur.

Di antara makmum terdapat Bupati Aceh Tengah yang ikut mendampingi kegiatan di Jagong Jeget, beberapa personel kepolisian, serta jamaah masyarakat biasa.

Di dalam masjid, pangkat dan jabatan seakan menemukan tempatnya yang paling sederhana. Seorang jenderal berdiri di depan sebagai imam. Di belakangnya, seorang bupati, anggota kepolisian, dan masyarakat berdiri dalam satu saf.

Di rumah Allah, semua berada dalam posisi yang sama: hamba yang sedang menghadap Tuhannya.

Dari Lapangan ke Mihrab

Bagi saya, ada kesinambungan menarik antara aktivitas beliau di Jagong Jeget dan peristiwa di Masjid Jamik Baitussalam.

Di Jagong Jeget, beliau hadir dalam urusan pangan—menanam bawang putih, berbicara tentang ketahanan dan kemandirian pangan. Setelah itu, dalam perjalanan menuju Takengon, beliau berhenti untuk memenuhi panggilan ibadah.

Kepemimpinan ternyata tidak hanya berbicara tentang bagaimana mengurus masyarakat, menjaga keamanan, atau menjalankan program negara. Ada pula dimensi keteladanan yang sering kali justru terlihat dalam hal-hal sederhana.

Berhenti ketika masuk waktu salat. Masuk ke masjid. Berdiri di tengah masyarakat. Menjadi imam. Sederhana, tetapi bermakna.

Beberapa saat kemudian, setelah salat, rombongan hendak beristirahat di sebuah kafe di kawasan Atu Lintang. Di teras masjid, saya berkesempatan menyapa beliau.

Saya bersalaman. Bahkan kami sempat berangkulan dalam suasana yang akrab.

Bagi saya, itu bukan sekadar bersalaman dengan seorang pejabat tinggi. Itu adalah perjumpaan manusia dengan manusia—sebuah pertemuan singkat yang terasa hangat dan membekas.

Jenderal yang Berani Turun Sendirian di Lapangan

Kesan itu semakin kuat ketika saya mengingat sebuah peristiwa beberapa hari sebelumnya.

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menjelang peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh, situasi di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, sempat memanas. Dalam sejumlah pemberitaan dan rekaman yang beredar, Kapolda Aceh terlihat turun langsung menemui massa.

Bukan dari balik pagar. Bukan sekadar melalui pengeras suara. Bukan hanya mengandalkan barisan pengamanan.

Ia berjalan mendekati massa dan berdialog secara langsung dalam situasi yang sedang tegang. Pendekatan persuasif itu kemudian membantu meredakan situasi hingga massa berangsur membubarkan diri secara tertib.

Tentu kita tidak perlu menjadikan seorang pejabat sebagai manusia tanpa kekurangan. Setiap tindakan pejabat publik tetap dapat dinilai dan dikritisi secara objektif. Namun, keberanian untuk hadir langsung di tengah masyarakat, mendengar, dan berkomunikasi dengan pendekatan manusiawi adalah sesuatu yang patut diapresiasi.

Sebab, keamanan tidak selalu lahir dari kekuatan yang ditunjukkan. Kadang-kadang keamanan justru lahir dari ketenangan yang ditunjukkan.

Ketegangan tidak selalu selesai dengan suara yang lebih keras. Kadang ia reda karena ada seseorang yang berani mendekat, mendengar, dan berbicara dengan kepala dingin.

Keteladanan Tidak Selalu Direncanakan

Ada sesuatu yang saya pelajari dari dua peristiwa tersebut.

Pada 15 Agustus, seorang jenderal turun mendekati massa.

Pada 19 Agustus, seorang jenderal masuk ke masjid dan berdiri sebagai imam.

Dua situasi yang berbeda, tetapi memiliki satu titik temu: kedekatan dengan manusia.

Seorang pemimpin tidak selamanya harus berada di atas panggung. Ada saatnya ia turun ke tengah kerumunan. Ada saatnya ia duduk bersama masyarakat. Ada saatnya ia menjadi imam di sebuah masjid kampung.

Di situlah masyarakat bisa melihat sisi lain seorang pemimpin. Bukan hanya seragamnya. Bukan hanya pangkatnya.

Bukan hanya kewenangannya. Tetapi juga bagaimana ia bersikap sebagai manusia.

Bagi masyarakat Aceh yang memiliki kedekatan kuat dengan masjid, agama, dan kehidupan sosial, kehadiran seorang pejabat di rumah Allah tentu memiliki makna tersendiri. Apalagi ketika ia tidak sekadar datang, tetapi ikut menjadi bagian dari jamaah dan memimpin salat.

Masjid Menyamakan Manusia

Masjid memang memiliki cara yang unik dalam mendidik manusia tentang kesetaraan.

Di luar masjid, seseorang mungkin dipanggil dengan gelar, pangkat, dan jabatan. Di dalam saf salat, semuanya berdiri sejajar.

Yang membedakan bukan lagi pangkat, melainkan ketakwaan.

Karena itu, saya melihat peristiwa singkat di Masjid Jamik Baitussalam bukan sekadar sebuah persinggahan seorang Kapolda.

Ia seperti sebuah fragmen kecil tentang kepemimpinan. Bahwa pemimpin yang baik bukan hanya yang mampu memberi perintah, tetapi juga mampu memberi contoh.

Bukan hanya mampu mengamankan orang lain, tetapi juga mampu menenangkan suasana. Bukan hanya mampu berbicara kepada masyarakat, tetapi juga bersedia mendengarkan.

Dan bukan hanya hadir di ruang-ruang resmi, tetapi juga mampu menyatu bersama masyarakat di rumah Allah. Bagi saya pribadi, perjumpaan singkat di teras masjid itu akan menjadi kenangan tersendiri.

Saya tidak tahu apakah bagi beliau pertemuan itu memiliki arti yang sama. Mungkin hanya sebuah salaman singkat di antara padatnya agenda seorang Kapolda. Tetapi bagi saya, ada pesan yang saya bawa pulang:

Jabatan boleh tinggi, tetapi manusia tetap harus dekat dengan sesama. Pangkat boleh besar, tetapi di hadapan Allah kita tetap seorang hamba.

Terima kasih, Pak Kapolda, telah singgah di Masjid Jamik Baitussalam Atu Lintang. Terima kasih telah menjadi imam shalat di mesjid kami.

Dan terima kasih untuk sebuah pertemuan singkat yang mengingatkan saya bahwa keteladanan terkadang tidak hadir melalui pidato panjang, tetapi melalui langkah kaki seorang pemimpin yang memilih mendekat kepada rakyat, masuk ke masjid, berdiri di saf, dan menyatu bersama jamaah.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.