Oleh: Wien Khakleri Khaidir, M.Pd (Mahasiswa Doktoral PAI UIN Ar-raniry Banda Aceh/Alumni IAIN Takengon/Alumni ke 15 Pesantren Modren Al Zahrah Bireuen)
Setiap peradaban besar dalam sejarah manusia selalu dicatat dan dibangun di atas pundak anak mudanya. Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan tembok meraksasa Konstantinopel pada tahun 1453 M, usianya baru 21 tahun. Di usia muda itu, beliau bukan sekadar menjadi penikmat sejarah, melainkan penentu arah peradaban dunia. Dari Sumpah Pemuda 1928 hingga lompatan teknologi hari ini, pemuda selalu menjadi motor penggerak—bukan penonton di bangku cadangan.
Namun, apa yang terjadi jika energi melimpah di usia muda justru menguap tanpa membawa maslahat (manfaat) sedikit pun? Jawabannya sederhana namun mengerikan: kita sedang menyiapkan masa depan peradaban yang cacat.
Masa muda bukan sekadar fase transisi menuju dewasa, melainkan masa dengan puncak energi, kesehatan, dan fleksibilitas pemikiran terbaik. Rasulullah SAW secara khusus memberikan peringatan keras agar modal emas ini tidak terbuang sia-sia:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)
Mengabaikan kebermanfaatan di usia muda ibarat membakar modal utama sebelum roda usaha bergerak. Waktu dan energi di usia 20-an tidak akan pernah bisa dibeli kembali di usia 50-an. Ketika masa emas ini dilewati tanpa karya dan dampak sosial, pemuda sebenarnya sedang menabung penyesalan untuk masa depannya sendiri.
Sayangnya, fenomena hari ini menunjukkan banyak anak muda yang tampak sangat sibuk, tetapi sepi dari maslahat. Layar gawai memotret aktivitas yang padat dan narasi hustle culture (budaya atau gaya hidup yang menormalisasi bekerja secara berlebihan hingga mengabaikan waktu istirahat dan kehidupan pribadi) digemakan di mana-mana. Namun, kita perlu jujur bertanya: apakah kesibukan itu benar-benar berdampak, atau sekadar “produktif palsu”?
Banyak energi muda habis terkuras dalam pusaran yang berpusat pada ego pribadi: mengejar validasi media sosial, menumpuk materi tanpa arah, atau terjebak dalam scrolling tanpa henti. Waktu emas menguap begitu saja, sementara tidak ada nilai tambah yang dirasakan oleh lingkungan maupun masyarakat.
Kondisi inilah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-’Asr ayat 1-3, bahwa manusia berada dalam kerugian yang nyata jika waktunya tidak diisi dengan iman, amal saleh (kebaikan yang membawa maslahat), dan saling menasihati. Tanpa kebermanfaatan, hari-hari muda yang terlihat sibuk sejatinya hanyalah kerugian eksistensial yang tertunda.
Peradaban yang sehat tidak dibangun hanya dengan tumpukan gedung tinggi atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi. Sosiolog Karl Mannheim dalam Theory of Generations menegaskan bahwa generasi muda adalah kunci pembaru sejarah. Namun, pembaharuan peradaban itu hanya akan terjadi jika energi muda diorientasikan menjadi kesadaran sosial—bukan dikuras habis oleh sifat apatis.
Nusantara sejatinya kaya akan akar kearifan lokal yang menggarisbawahi etos ini. Budayawan Gayo kelahiran Takengon, A.R. Hakim Aman Pinan (1928–2007), dalam bukunya 1001 Pepatah Petitih Gayo, merumuskan indikator etos pembentukan karakter manusia ideal melalui lima pilar: Lisik, Mersik, Mutentu, Cerdik, dan Bedek.
Sosok ideal manusia beretos tinggi—sebagaimana refleksi keberanian Al-Fatih—tercermin pada pribadi yang:
Lisik (Cekatan & Responsif): Ia senantiasa dinamis mengeksekusi peluang tanpa menunda waktu. Contohnya, saat melihat masalah isu sosial seperti sampah atau anak putus sekolah, ia tak menunggu pihak lain melainkan langsung bergerak menggalang aksi nyata.
Mersik (Tangguh & Berani): Memiliki ketangguhan mental dan keberanian moral menantang krisis. Contohnya, saat gerakan sosial atau usahanya sepi peminat dan dikritik tajam, ia tidak patah semangat, melainkan tegar mengevaluasi dan bertahan.
Mutentu (Berpendirian & Fokus): Arah tujuan hidupnya jelas dan tak gampang terbawa arus zaman. Contohnya, di tengah maraknya pencarian validasi murah media sosial, ia tetap konsisten memfokuskan energi pada visi hidup dan karya nyata.
Cerdik (Pandai & Solutif): Menggunakan ketajaman akal untuk menyelesaikan persoalan secara harmonis. Contohnya, ketika terjadi benturan konflik di organisasi, ia menjadi penengah yang menawarkan solusi win-win tanpa mengorbankan integritas.
Bedek (Visioner & Jeli): Dipandu oleh kejelian intuisi dalam mengkalkulasi masa depan. Contohnya, saat menghadapi pesatnya disrupsi AI, ia tak sekadar cemas melainkan jeli memanfaatkannya untuk pemecahan masalah sosial dan memperkuat kemampuan kritis.
Mencegah hadirnya peradaban yang cacat memerlukan langkah terstruktur. Kebermanfaatan tidak selalu harus mengubah dunia dalam semalam, melainkan dapat diwujudkan melalui pilar aksi berikut:
Transformasi Mindset (Re-defining Success): Mengubah tolak ukur kesuksesan dari pencapaian ego pribadi menjadi seberapa besar dampak sosial dan nilai maslahat yang dihasilkan.
Keterlibatan Aktif (Lisik & Mersik dalam Aksi): Turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan sosial, literasi, lingkungan, maupun pemberdayaan ekonomi.
Pengembangan Future Skills (Cerdik & Bedek): Mengasah daya kritis, kecerdasan emosional, dan kejelian membaca tren masa depan agar setiap karya yang dihasilkan tepat sasaran.
Fokus & Integritas (Mutentu): Memiliki arah hidup yang jelas, berani menolak distraksi digital yang destruktif (merusak/memusnahkan), dan konsisten pada prinsip kebaikan.
Masa muda adalah periode pendek dengan dampak paling panjang dalam alur sejarah manusia. Sejarah mencatat nama Al-Fatih bukan karena ia diam bersopang dada, melainkan karena ia berani mendobrak batas mustahil. Peradaban masa depan tidak akan pernah dibidani oleh mereka yang hanya duduk manis di tribun penonton, bersorak atas karya orang lain, atau mengeluhkan keadaan tanpa memberi solusi.
Jika hari ini generasi muda membiarkan waktunya kering dari maslahat, jangan heran jika masa depan diisi oleh tatanan sosial yang timpang dan krisis kepemimpinan. Kita tidak boleh membiarkan energi muda ini menguap tanpa bekas sebagai penonton pasif sejarah.
Sudah saatnya anak muda turun ke gelanggang dan meredefinisi arti kesuksesan: bukan lagi tentang “apa yang berhasil kita ambil dari dunia”, melainkan “apa maslahat yang berhasil kita tinggalkan untuk dunia.” Sebab pada akhirnya, muda tanpa maslahat hanya akan melahirkan peradaban yang cacat.
Wallahu a’lam bishawab





