Oleh : Wien Khakleri, M.Pd (Mahasiswa Doktoral UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Di tengah derasnya arus informasi dan disrupsi digital hari ini, kita seringkali merasa kehilangan arah. Layar gawai kita setiap hari dipenuhi oleh riuh rendah perdebatan, tren yang datang dan pergi, serta figur-figur instan yang mendadak menjadi panutan.
Di titik ini, kita perlu bertanya pada diri sendiri: ke mana kita harus menoleh saat kehilangan kompas moral? Jawabannya ada pada satu pilar yang sejak dulu menjaga harmoni bangsa ini: para ulama.
Ulama, dalam tradisi Islam, bukan sekadar profesi atau gelar akademik. Kedudukan mereka begitu mulia di sisi Allah SWT karena ilmu yang mereka emban. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Mereka adalah jangkar spiritual yang menjaga umat agar tidak terombang-ambing oleh zaman. Namun, di era modern ini, tantangan yang dihadapi umat bukan lagi sekadar ketidaktahuan, melainkan memudarnya rasa hormat dan cinta kepada mereka yang berilmu.
Oleh karena itu, menggaungkan kembali gerakan “Cintailah Ulama” bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan sebuah urgensi sosial.
Krisis moral di kalangan generasi muda hari ini tidak lagi bisa kita tutupi. Banyak remaja kita yang sedang mengalami kekosongan jiwa. Mereka kehilangan sosok teladan yang otentik dan terjebak dalam kesenangan semu yang merusak masa depan.
Lebih memprihatinkan lagi, hari ini kita menyaksikan runtuhnya tembok rasa malu. Berbagai bentuk pelanggaran moral dan etika tidak lagi disembunyikan; ia justru diumbar, dipamerkan, dan dijadikan kebanggaan di ruang publik tanpa ada rasa bersalah.
Ketika rasa malu yang merupakan bagian dari iman telah sirna, manusia akan kehilangan kendali atas dirinya. Rasulullah SAW sudah mengingatkan hal ini:
“Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)
Fenomena ini adalah alarm keras bahwa ada benang yang putus dalam hubungan antara generasi muda dan para ulama. Ketika remaja kita lebih akrab dengan tontonan yang tidak mendidik daripada nasihat ulama yang menuntun umat, maka kemerosotan moral tinggal menunggu waktu. Menggaungkan kembali rasa cinta kepada ulama adalah kunci utamanya, karena mereka adalah penyambung lidah perjuangan para nabi:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Cinta tidak boleh berhenti di tenggorokan dalam bentuk slogan. Ia harus turun dalam bentuk tindakan nyata. Kabar baiknya, wadah untuk itu sudah ada dan sangat dekat dengan kita.
Saat ini, masjid-masjid di sekitar kita tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat ritual, tetapi juga telah aktif menyediakan berbagai program pengajian, majelis ilmu, dan majelis zikir bersama para asatidz dan ulama setempat. Pintu-pintu kebaikan di rumah Allah telah diketuk, sekarang tugas kita adalah melangkah masuk.
Ada empat langkah konkret yang bisa kita lakukan bersama:
Hadir Istiqomah: Dari Paksaan Menjadi Kebutuhan
Kita tidak perlu langsung memasang target yang muluk-muluk. Kuncinya adalah konsistensi. Sekurang-kurangnya, luangkan waktu seminggu sekali untuk ikut pengajian rutin yang disediakan oleh masjid secara istiqomah.
Memang, hadir di majelis ilmu bagi anak muda awalnya sering kali berawal dari paksaan baik karena diajak teman atau didorong orang tua. Namun, jika dijalani dengan rutin, ia akan mengkristal menjadi sebuah kebiasaan.
Pada akhirnya, ketika hidayah dan ketenangan zikir sudah meresap ke dalam dada, hadir ke majelis ulama akan berubah menjadi sebuah kebutuhan jiwa yang jika ditinggalkan akan terasa hampa. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (istiqomah) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dukungan Orang Tua, Guru, dan Pengawasan Lingkungan Pergaulan
Perubahan ini tidak bisa dibebankan kepada remaja sendirian. Perlu ada sinergi dan bimbingan besar dari benteng terdekat mereka, yaitu orang tua di rumah dan guru di sekolah.
Lebih dari sekadar mengajak, orang tua dan guru juga harus jeli melakukan pengawasan terhadap lingkungan pergaulan anak. Kita harus tahu betul siapa kawan dekat mereka, karena warna jiwa seorang remaja sangat ditentukan oleh lingkaran pertemanannya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya.
Dengan mengawasi lingkungan dan memastikan mereka berkawan dengan orang-orang yang juga mencintai majelis ilmu, langkah anak muda menuju kebaikan akan menjadi jauh lebih kokoh.
Berkhidmat untuk Dakwah Ulama dan Kemakmuran Masjid
Memuliakan ulama berarti memastikan bahwa tugas dakwah mereka tidak terhambat. Kita bisa mendukung pengurus masjid dalam mengoperasikan pengajian, membantu menyebarkan informasi jadwal majelis kepada sesama anak muda, atau ikut menjaga kenyamanan tempat belajar.
Meneladani Akhlak
Meniru bagaimana para ulama menghadapi perbedaan dengan kepala dingin, bagaimana mereka mengasihi sesama, dan bagaimana mereka tetap rendah hati meskipun memiliki ilmu yang luas.
Mulai Hari Ini: Langkah Kecil Kita
Gerakan mencintai ulama dan meramaikan masjid ini tidak butuh gebrakan besar yang melelahkan, cukup mulai dari lingkaran terkecil kita:
Cari Jadwal Pengajian Masjid Terdekat: Periksa papan pengumuman masjid atau media sosial masjid sekitar rumah. Catat satu jadwal kajian mingguan yang paling ramah untuk dihadiri.
Perhatikan Lingkaran Pertemanan: Bantu anak atau adik kita memilih kawan yang baik. Ajak kawan-kawan mereka untuk ikut serta meramaikan masjid. Ingat, lingkungan yang baik akan mempermudah tumbuhnya kebiasaan yang baik.
Bagikan Nasihat Ulama: Setiap kali selesai mengaji, tulis atau bagikan satu kalimat nasihat yang paling menyentuh hati ke media sosial. Jadikan ruang digital kita penuh dengan ilmu, bukan pamer keburukan.
Ulama adalah lentera di tengah kegelapan malam. Mereka adalah benteng pertahanan terakhir yang menjaga moral, akidah, dan arah jalannya umat ini. Jika kita membiarkan lentera itu redup karena ketidakpedulian kita atau membiarkan mereka berjalan sendiri tanpa dukungan maka kita sendirilah yang akan tersesat dalam pusaran zaman.
Mencintai ulama bukanlah sebuah pilihan sekunder, melainkan kewajiban iman untuk memastikan ilmu agama ini tetap hidup dan mengakar dalam dada kita. Mari kembali merapatkan barisan, penuhi pengajian-pengajian yang sudah disediakan oleh masjid di sekitar kita, ramaikan majelis zikir seminggu sekali secara istiqomah, dan menaruh rasa hormat serta takzim yang setinggi-tingginya kepada para pewaris nabi. Karena pada akhirnya, dengan mencintai dan menjaga para ulama, kita sedang menyelamatkan serta menjaga masa depan peradaban kita sendiri.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan Hati, jagalah para ulama kami, panjangkanlah umur mereka dalam kesehatan, ketaatan, dan keberkahan. Ya Allah, bimbinglah para orang tua dan guru kami agar tak lelah menuntun serta mengawasi lingkungan pergaulan generasi muda ini dari kawan-kawan yang menjerumuskan. Lembutkanlah hati anak-anak muda kami, tumbuhkanlah kembali rasa malu di dalam dada mereka, dan penuhilah hati mereka dengan rasa cinta kepada ilmu, masjid, serta para ulama-Mu. Jadikanlah kami semua golongan orang-orang yang istiqomah di jalan-Mu hingga akhir hayat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.





