Oleh : Nurul Hafni*
Di tengah derasnya arus globalisasi, warisan budaya sering kali hanya dipandang sebagai hiburan semata tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnnya. Salah satu warisan budaya yang memiliki nilai filosofi yang tinggi adalah Tari Saman Gayo.
Tarian ini tidak hanya menyuguhkan keindahan gerakan yang kompak dan dinamis, tapi juga menjadi simbol ketaatan, kedisiplinan, persatuan dan nilai religius masyarakat Gayo. (Akhmad, t.t.)
Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa seluruh tarian duduk dari Aceh sebagai Tari Saman. Padahal, Tari Saman asli berasal dari masyarakat Gayo yaitu suku yang berada di wilayah Tengah dan Tenggara Aceh. Tarian ini memiliki nilai budaya yang berbeda dari tari kreasi lainnya.
Pada Tahun 2008 Tari Saman didaftarkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia yang mewakili indonesia. Pengakuan UNESCO terhadap Tari Saman tersebut menegaskan bahwa pentingnya menjaga identitas budaya tersebut. Oleh karena itu, memahami Tari Saman tidak cukup hanya melalui gerakan, tetapi juga melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap syair, pola gerak, dan filosofi yang diwariskan secara turun-temurun. (Heniwaty dkk., t.t.)
Kesalahpahaman mengenai identitas Tari Saman masih sering ditemukan di masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ilham Rizki Pratama, Ketua Sanggar Bulee Jagat, Tari Saman yang autentik adalah tarian masyarakat Gayo yang dimainkan oleh laki-laki.
Sementara itu, tarian yang dimainkan oleh perempuan lebih tepat disebut Tari Ratoh Jaroe, yaitu tari kreasi yang berkembang di Aceh. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui pertunjukkan seni, melainkan melalui pemahaman yang benar mengenai sejarah dan identitasnya.
Keindahan Tari Saman tidak hanya terletak pada kecepatan gerakannya, tetapi juga pada makna yang tersembunyi di balik tepukan tangan, tepukan dada, dan gerakan /gelengan kepala yang dilakukan secara serempak.
Seluruh gerakan harus dilakukan dengan irama yang sama sehingga menciptakan harmoni yang indah di setiap gerakannya. Kekompakan tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan dapat diraih apabila setiap orang mampu mengendalikan egonya demi mengutamakan kepentingan bersama.
Dalam kehidupan masyarakat Gayo, nilai tersebut menjadi cerminan gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh sebab itu, Tari Saman, bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan gambaran kehidupan sosial masyarakat yang menjunjung tinggi persatuan dan kebersamaan
Pandangan serupa juga disampaikan Zul Afrizal, Ketua Sanggar Genta Aceh Comunity. Beliau menjelaskan bahwa Tari Saman memiliki nilai spiritual yang sangat kuat. Posisi duduk penari yang menyerupai posisi tahiyat dalam shalat, sedangkan beberapa gerakan tangan yang dimaknai dengan simbol penghambaan kepada Allah Swt.
Melalui syair yang berisi puji-pujian, shalawat, dan nasihat, Tari Saman menjadi media dakwah yang mengajarkan nilai-nilai keislaman secara santun dan mudah diterima oleh masyarakat.
Salah satu nilai utama yang tercermin adalah nilai kedisiplinan. Setiap penari harus mampu mengikuti tempo yang semakin lama semakin cepat tanpa kehilangan keselarasan gerakan. Kekompakan tersebut hanya dapat dicapai dengan latihan yang fokus dan berulang, kesabaran dan tanggung jawab terhadap kelompok. Oleh karena itu, Tari Saman mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan individu tapi juga oleh kerja sama yang baik.
Selain kedisiplinan, Tari Saman juga mengajarkan sopan santun. Hal tersebut terlihat dari busana yang dikenakan penari, penggunaan bahasa Gayo yang santun dalam syair, serta penghormatan kepada tokoh- tokoh adat serta orang tua melalui salam pembuka sebelum tarian dimulai. Nilai ini menunjukkan bahwa kesenian tidak hanya sebagi media hiburan tetapi juga sebagai media pendidikan karakter. (Wibowo, t.t.)
Dalam tata busana mulai dari ikat kepala dengan ukiran khas Gayo, baju dengan ukiran Gayo, dan daun yang diikatkan di hiasan kepala melambangkan alam. Namun, masih saja banyak orang yang salah dalam pelebelannya. Pada dasarnya saman sudah menjadi ikon dari tarian Aceh.
Setiap gerakan dalam Tari Saman memiliki makna simbolik. Pertunjukkan diawali dengan gerakan salam sebagai bentuk penghormatan kepada penonton dan penari.
Selanjutnya, gerakan berkembang dari tempo yang lambat menuju tempo yang lebih cepat. Kecepatan gerakan saman yang diilustrasikan zikir. Sehingga, tarian ini juga dikenal dengan tari 1000 tangan Perubahan tempo tersebut menggambarkan dinamika kehidupan manusia yang penuh tantangan. Walaupun ritme semakin cepat, para penari tetap menjaga keselarasan sehingga tercipta harmoni yang menjadi ciri khas Tari Saman..
Tari Saman Gayo merupakan bukti bahwa warisan budaya mampu menyampaikan nilai kehidupan melalui gerak, syair, dan kebersamaan. Setiap tepukan tangan, hentakan tubuh, dan lantunan syair bukan hanya sekadar unsur estetika, melainkan simbol persatuan, kedisplinan, religius, dan semangat gotong royong masyarakat Gayo.
Di tengah perkembangan zaman, pelestarian Tari Saman tidak cukup dilakukan dengan menampilkan pertunjukkannya di berbagai acara.
Generasi muda juga perlu memahami sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengenali Tari Saman dengan tarian Aceh lainnya. Dengan demikian, jejak dari setiap gerakan Tari Saman akan terus hidup sebagai warisan budaya yang membanggakan masyarakat Gayo, Aceh, dan Indonesia. [ZR]
Daftar Pustaka
Afrizal, Zul.2026. “Tarian Aceh”. Hasil Wawancara :27 April 2026,Lhokseumawe
Akhmad, I. (t.t.). ANALISIS NILAI-NILAI PADA TARI SAMAN.
Heniwaty, Y., Hum, M., Harahap, D. I., & Sos, M. L. S. (t.t.). GERAK TARI SAMAN DALAM BENTUK NOTASI TARI.
Pratama,Ilham Rizki. 2026.”Tarian Aceh “. Hasil Wawancara: 11 Juni 2026, Lhokseumawe
Wibowo, G. A. (t.t.). Nilai Pendidikan Budi Pekerti Dalam Seni Tari Saman.





