Oleh : Fauzan Azima*
Ada kabar yang membuat kursi kekuasaan Aceh Tengah mungkin perlu diperiksa: satu per satu pejabat mulai mundur.
Entah kursinya yang panas, bantalnya kurang empuk, atau jangan-jangan ada “semut politik” yang menggigit dari bawah. Kita tidak tahu. Yang jelas, kalau pejabat mulai turun dari kursi, publik tentu bertanya: “Ada apa ini?”
Jangan-jangan kursi jabatan sekarang sudah seperti kursi di warung kopi: baru duduk sebentar, datang teman bilang, “Bang, pindah sana, tempat itu bukan untukmu.”
Tentu, mundur dari jabatan bisa saja karena alasan pribadi. Bisa karena keluarga, karier, kesehatan, atau pertimbangan lainnya. Itu hak setiap orang.
Tetapi kalau mundurnya mulai ramai, rakyat boleh dong sedikit kepo. Sebab kalau satu orang pergi, mungkin urusan pribadi. Kalau dua orang pergi, mungkin kebetulan. Kalau ramai, jangan-jangan kursinya memang perlu dipanggil tukang servis.
Di sinilah Haili Yoga perlu belajar dari Awan Prado.
Belajar bahwa pemimpin tidak cukup hanya tahu siapa yang duduk di sampingnya. Pemimpin juga harus tahu mengapa orang yang dulu duduk di sampingnya sekarang memilih berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
Jangan sampai setiap pejabat yang mundur langsung dianggap tidak tahan tekanan. Bisa saja justru tekanan itu yang terlalu banyak.
Kekuasaan memang aneh. Dari luar kelihatan enak. Ada kursi empuk, meja besar, ruangan ber-AC, mobil dinas dan ajudan. Tetapi kalau hati tidak tenang, kursi empuk pun bisa terasa seperti kursi pijat yang rusak. Makin lama duduk, makin sakit.
Karena itu, Haili Yoga jangan hanya bertanya, “Mengapa mereka mundur?”
Coba sekali-kali bertanya:
“Jangan-jangan ada yang salah dengan cara kita memimpin?”
Pertanyaan sederhana, tetapi mungkin lebih sehat daripada seribu rapat yang semuanya berakhir dengan kalimat, “Siap, Pak!”
Dalam pemerintahan, terlalu banyak orang berkata “siap” juga bisa berbahaya. Sebab seorang pemimpin bukan membutuhkan pasukan pengangguk. Pemimpin membutuhkan orang yang berani mengatakan, “Pak, ini salah.”
Kalau semua orang mengatakan benar, padahal keadaan di lapangan berkata lain, itu bukan pemerintahan yang sehat. Itu namanya rapat dengan mode tepuk tangan otomatis.
Aceh Tengah membutuhkan birokrasi yang nyaman bekerja, bukan birokrasi yang nyaman memuji.
Kalau pejabat mundur, dengarkan alasannya. Kalau ada persoalan internal, benahi. Kalau ada komunikasi yang macet, buka kembali. Kalau ada kritik, jangan cepat dianggap sebagai musuh.
Sebab kritik itu seperti kopi Gayo: pahit di lidah, tetapi kadang justru membuat mata terbuka. Haili Yoga masih punya waktu untuk belajar dari Awan Prado.
Kursi kekuasaan bukan warisan keluarga. Bukan pula kursi permanen. Hari ini diduduki, besok bisa ditinggalkan. Yang akan dikenang rakyat bukan empuknya kursi, melainkan apa yang dilakukan ketika duduk di atasnya.
Jadi kalau satu per satu pejabat meninggalkan kursi, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Periksa dulu kursinya.
Kalau ternyata kursinya baik-baik saja, barangkali yang perlu diperiksa adalah orang yang mempersilahkan duduk, barangkali ada etika publik yang tidak diindahkan.
(Mendale, Agustus 23, 2026)





