Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung kami, Awan Prado dikenal sebagai manusia unik. Otaknya berjalan beberapa langkah lebih cepat daripada kakinya. Kalau orang lain sibuk mencari alasan, Awan Prado sibuk mencari jalan keluar.
Suatu hari harga cabai melonjak. Bawang ikut menari. Beras mulai membuat ibu-ibu menghela napas panjang. Kopi memang masih harum, tetapi uang di saku sudah kehilangan aromanya.
Orang-orang kampung berkumpul.
“Awan, bagaimana cara melawan mahalnya harga?”
Awan Prado menjawab santai.
“Kalau perut rakyat sedang lapar, jangan dulu rapikan pagar rumah. Cari dulu makanan.”
Jawaban sederhana itu membuat semua orang diam. Karena memang begitulah logika kehidupan. Ketika dapur mulai dingin, pidato yang paling indah pun tidak bisa dimasak menjadi gulai.
Sayangnya, logika Awan Prado tampaknya belum sampai ke meja para pemimpin.
Ketika inflasi mulai menggigit, yang sibuk justru panggung seremoni. Spanduk bertambah. Baliho semakin besar. Acara demi acara berjalan tanpa jeda, seolah tepuk tangan lebih penting daripada isi kantong masyarakat.
Padahal inflasi bukan sekadar angka yang dipajang di layar presentasi. Inflasi adalah ibu rumah tangga yang mengurangi cabai dari sepuluh menjadi lima buah.
Inflasi adalah pedagang kecil yang mulai menghitung ulang modalnya setiap malam. Inflasi adalah petani yang menjual hasil panen murah tetapi membeli kebutuhan rumah tangga dengan harga mahal. Inflasi adalah pegawai honorer yang mulai menghapus satu demi satu daftar kebutuhan anaknya.
Yang paling menderita bukan mereka yang duduk di ruang berpendingin udara. Yang paling menderita adalah rakyat yang setiap pagi bertanya kepada istrinya, “Hari ini kita makan apa?”
Awan Prado pernah berkata,
“Pemimpin itu bukan orang yang paling sering difoto. Pemimpin adalah orang yang paling cepat bergerak ketika rakyat mulai mengeluh.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah letak masalahnya.
Hari ini, keluhan rakyat sering kalah cepat dibanding unggahan media sosial. Harga kebutuhan pokok naik. Biaya hidup naik. Daya beli turun.
Namun yang terlihat justru parade pencitraan. Seolah-olah kamera mampu menurunkan harga cabai. Seolah-olah senyum di baliho mampu mengisi tabung gas. Seolah-olah pidato panjang mampu membuat beras menjadi murah.
Pemimpin yang baik memiliki satu kebiasaan. Ia lebih sering mendengar daripada berbicara. Ia lebih sering turun ke pasar daripada naik ke panggung. Ia lebih sering bertanya kepada pedagang daripada bertanya kepada fotografer.
Karena pasar tidak pernah berbohong. Pedagang tidak punya waktu membuat skenario. Ibu-ibu tidak mungkin berpura-pura mengeluh ketika dompet mereka benar-benar kosong.
Yang paling berbahaya bukan inflasi. Yang paling berbahaya adalah pemimpin yang kehilangan kepekaan.
Tubuhnya sehat. Jabatannya lengkap. Mobil dinasnya mengilap. Tetapi nuraninya mati angin.
Ia tidak lagi merasakan sesak napas rakyat. Tidak lagi mendengar suara pasar. Tidak lagi memahami bahwa setiap kenaikan harga berarti ada keluarga yang harus mengurangi lauk di meja makan.
Belajarlah dari Awan Prado. Kalau rakyat sedang menjerit, jangan sibuk menghitung tepuk tangan. Kalau harga sedang melambung, jangan sibuk menghitung jumlah baliho. Kalau ekonomi sedang berat, jangan sibuk membangun citra.
Bangunlah kepercayaan. Karena rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang pandai tampil. Rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir.
Sebab sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling sering tersenyum di depan kamera. Sejarah hanya mengingat siapa yang berdiri paling depan ketika rakyat sedang kesusahan.
Bersambung ke bagian 8…
(Mendale, Juli 30, 2026)





