Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado, Bagian 5: Drama Kawan Jadi Lawan

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di Tanoh Gayo, nama Awan Prado selalu identik dengan akal yang datang lebih cepat daripada perahu yang didayung.

Suatu pagi, ia bersama Aman Tris berangkat mencari ikan di Danau Lut Tawar. Perahu didorong dari Kampung Mendale, embun masih menggantung di atas air, sementara Burni Kelieten tampak malu-malu diselimuti kabut.

Baru beberapa kayuhan, keduanya serentak menepuk kantong baju.

“Rokok!”

Mereka sama-sama lupa membawanya. Mau kembali ke Mendale, terlalu jauh.
Mau memancing tanpa rokok, rasanya seperti minum kopi tanpa aroma.

Awan Prado menggaruk kepala. Kemudian matanya tertuju ke arah Kampung Toweren.

“Asap apa itu?”

“Itu orang sedang menjemur tembakau,” jawab Aman Tris.

Mata keduanya saling bertemu.

Kalau dua mata Awan Prado sudah bertemu dengan dua mata Aman Tris, biasanya akan lahir satu ide yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

“Begini saja…” bisik Awan Prado.

Tak lama kemudian, perahu mereka merapat ke pinggir kampung. Begitu melihat pemilik tembakau, sandiwara pun dimulai.

“Aku bilang jangan buang rokok!” teriak Aman Tris.

“Itu gara-gara kau! Kau yang lupa memasukkannya ke dalam perahu!” balas Awan Prado.

Mereka saling dorong. Saling tarik baju. Bahkan sesekali berguling di tanah. Orang kampung mulai berdatangan.

Pemilik tembakau panik.

“Sudahlah… jangan bertengkar!”

Namun keduanya semakin menjadi-jadi.

“Kalau tidak ada rokok, lebih baik mati saja!” kata Awan Prado sambil pura-pura hendak menusuk Aman Tris dengan sebilah kayu.

Aman Tris pun tidak kalah dramatis.

“Kalau begitu tikam saja! Hidup tanpa tembakau tak ada gunanya!”

Melihat keadaan makin kacau, pemilik tembakau buru-buru mengambil beberapa ikat tembakau.

“Ini… ambillah. Jangan bertengkar lagi.”

Seketika Awan Prado dan Aman Tris berhenti berkelahi. Wajah yang tadi merah berubah cerah. Mereka saling menepuk bahu.

“Terima kasih, Pak.”

Lalu keduanya kembali ke perahu sambil saling maki seolah mereka puas dengan pertengkaran yang baru saja terjadi.

Pemilik tembakau hanya bisa menggeleng.
Baru beberapa saat kemudian ia sadar. Yang bertengkar bukan musuh. Yang bertengkar ternyata dua sahabat.

Cerita itu memang lucu.

Tetapi kadang-kadang dunia politik lebih lucu daripada cerita Awan Prado. Tidak sedikit drama yang dipertontonkan di depan publik seolah-olah dua orang telah menjadi musuh bebuyutan.

Saling menyindir. Saling menyalahkan. Saling membuka aib. Sampai Pendukung di bawah ikut panas. Media sosial penuh dengan caci maki. Padahal, di balik layar mereka masih semeja menikmati kopi.

Yang bertengkar hanya panggungnya. Sutradaranya tetap sama. Tapi rakyatlah yang menjadi penonton sekaligus korban. Karena energi habis untuk memilih kubu, sementara persoalan yang sesungguhnya tetap tidak terselesaikan.

Dalam pemerintahan pun demikian. Kadang-kadang bawahan dipertontonkan seolah-olah sedang berselisih. Ada yang dimarahi di depan umum. Ada yang dipuji setinggi langit.

Ada pula yang sengaja dijauhkan agar orang mengira hubungan mereka telah retak. Padahal bisa saja semuanya hanyalah bagian dari strategi komunikasi, atau justru sebaliknya, konflik yang dibiarkan membesar hingga mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Pemimpin yang bijak tentu tidak memelihara drama. Ia menyelesaikan persoalan tanpa harus menciptakan panggung. Sebab pemerintahan bukanlah teater. Rakyat pun bukan penonton yang membeli tiket untuk menikmati pertengkaran para elit.

Mereka menunggu hasil kerja. Mereka membutuhkan solusi. Bukan adegan.

Barangkali itulah pelajaran dari Awan Prado. Kalau drama itu hanya untuk mendapatkan segenggam tembakau, orang masih bisa tertawa.

Tetapi kalau drama dipelihara demi kekuasaan, jabatan, atau kepentingan kelompok, yang habis bukan tembakau. Melainkan kepercayaan rakyat.

Dan kepercayaan, sekali hilang, jauh lebih sulit dicari daripada ikan depik di tengah Danau Lut Tawar saat musim kemarau.

(Bersambung, Juli 21, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.