Oleh : Prof Ahmad Humam Hamid*
Ada dua kata yang menarik ketika Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian berbicara tentang pemulihan Aceh: “atensi khusus.”
Pada akhir Januari lalu, Tito menyebut sejumlah daerah Aceh masih memerlukan perhatian khusus. Tiga di antaranya berada di dataran tinggi Gayo – Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Alasannya juga tidak berputar-putar: banyak jalan longsor atau hilang, jembatan putus, dan akses di dalam kabupaten belum sepenuhnya kembali normal.
Jalan nasional boleh jadi sudah tersambung. Tetapi kehidupan orang tidak seluruhnya tinggal di pinggir jalan nasional.
Hampir sepuluh bulan setelah bencana, dua kata Mendagri itu menarik untuk dibawa kembali ke Gayo. Bukan untuk memperdebatkan istilahnya. Pertanyaannya jauh lebih sederhana: atensi khusus itu sekarang sudah menjadi apa?
Sebab petani kopi tidak bisa membawa hasil kebunnya dengan atensi. Anak sekolah tidak dapat menyeberangi sungai dengan dashboard. Orang sakit tetap membutuhkan jalan menuju puskesmas. Pedagang membutuhkan kendaraan yang bisa masuk ke kampung. Dan ketika hujan turun lama di pegunungan, keluarga yang rumahnya berada di balik lereng rawan longsor tentu lebih ingin tahu apakah besok pagi jalan masih ada daripada warna kabupatennya di layar komputer pemerintah.
Di situlah Gayo mempunyai cerita pemulihan yang agak berbeda dari pesisir Aceh.
Di dataran rendah, bencana sering merusak hamparan. Air meluap, rumah terendam, sawah tertimbun, saluran irigasi rusak. Kerusakannya melebar. Karena itu ukuran pemulihannya pun mudah dibayangkan: berapa rumah selesai, berapa hektare sawah kembali ditanami, berapa kilometer irigasi berfungsi.
Di pegunungan, satu titik kecil bisa membuat urusan menjadi besar.
Longsor beberapa puluh meter dapat memutus hubungan beberapa kampung. Sebuah jembatan hilang bisa membuat perjalanan setengah jam menjadi berjam-jam. Jalan kebun yang putus mungkin hanya beberapa kilometer, tetapi di belakangnya ada petani, kopi, cabai, sayuran, anak sekolah, ibu hamil, pedagang, dan orang sakit.
Di pesisir, bencana banyak merusak ruang. Di Gayo, bencana juga memutus jaringan kehidupan.
Aceh Tengah pernah mengalami itu dalam skala yang tidak kecil. Setelah bencana, 101 desa sempat terisolasi. Ketika keadaan bergerak dari fase darurat menuju pemulihan, jumlah desa yang belum dapat diakses secara normal telah turun menjadi delapan. Itu kemajuan besar dan patut disebut sebagai kemajuan. Sejumlah ruas di Ketol dan Linge serta beberapa jembatan ketika itu masih membutuhkan penanganan.
Dari 101 menjadi delapan bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada pintu kampung yang kembali terbuka. Ada anak yang lebih mudah ke sekolah, orang yang bisa kembali ke pasar, kendaraan yang masuk, dan hasil kebun yang dapat keluar.
Tetapi setelah berbulan-bulan, pertanyaannya tentu berubah.
Bukan lagi sekadar, “sudah bisa lewat?”
Melainkan, “sudah normal?”
Dan setelah normal, muncul pertanyaan berikutnya: “kalau hujan besar datang lagi, apakah akan putus lagi?”
Tiga pertanyaan itu sebaiknya menjadi cara sederhana membaca rehab-rekon Gayo.
Mulailah dari jalan.
Bukan hanya jalan nasional yang lebar dan gampang terlihat ketika pejabat datang. Masuk sedikit lebih dalam: jalan kabupaten, jalan kecamatan, jalan desa, jembatan kecil, dan jalan menuju sentra produksi. Di situlah denyut ekonomi Gayo sebenarnya berlangsung.
Di Gayo, jalan menuju kebun bukan sekadar infrastruktur. Ia bagian dari mesin kopi.
Kopi Gayo yang sampai ke New York, London, Tokyo atau Milan tidak meloncat sendiri dari pohonnya ke dalam cangkir. Perjalanan global itu justru dimulai dari sesuatu yang sangat lokal. Pupuk harus masuk. Petani harus sampai ke kebun. Buah merah harus turun. Sepeda motor dan mobil bak harus lewat. Pengumpul datang, prosesor bekerja, pedagang membeli, baru eksportir mengirimnya ke dunia.
Seluruh cerita globalisasi kopi Gayo yang terdengar gagah itu bisa berhenti gara-gara lima kilometer jalan kampung.
Karena itu “atensi khusus” seharusnya pertama-tama dapat diterjemahkan ke dalam angka yang sangat bersahaja. Berapa kilometer jalan kabupaten masih rusak? Berapa jalan kecamatan dan desa belum normal? Berapa kilometer jalan sentra produksi belum berfungsi baik? Berapa jembatan masih darurat? Berapa sudah permanen?
Pertanyaan serupa berlaku di Bener Meriah dan Gayo Lues. Di kedua kabupaten itu, jalan dan jembatan tetap menjadi bagian penting pemulihan. Ada akses sementara yang harus dipertahankan sambil menunggu pekerjaan permanen, dan ada jembatan yang masih perlu dibangun kembali.
Tetapi urusan Gayo tidak boleh berhenti setelah mobil sudah bisa lewat.
Di sinilah istilah lain yang sering terdengar dalam rehab-rekon muncul: build back better. Bahasa Inggrisnya memang bagus. Bahasa kampungnya mungkin lebih gampang: kalau dulu gampang rusak, jangan dibangun supaya gampang rusak lagi.
Sebuah jalan longsor lalu dibangun kembali di tempat yang sama. Itu bisa benar. Tetapi kalau drainasenya tetap sama, taludnya sama, sementara lereng di atasnya tidak disentuh, pertanyaannya menjadi wajar: apa yang sudah menjadi better?
Begitu juga jembatan. Kalau jembatan yang hanyut dibangun kembali tanpa belajar dari besarnya debit, perubahan aliran sungai dan material yang dibawa banjir, beton baru belum tentu berarti risiko baru sudah lebih kecil.
Jangan sampai yang dibangun kembali bukan hanya jalan dan jembatan, tetapi juga kerentanannya.
Tentu tidak semua jalan harus dipindahkan. Tidak semua lereng perlu ditembok. Gayo juga tidak perlu dibungkus semen supaya selamat. Justru di situlah kecerdasan rekonstruksi diperlukan: mana yang cukup diperbaiki, mana yang harus diperkuat, mana yang desainnya perlu diubah, dan pada tempat tertentu, mana yang sebaiknya tidak lagi dikembalikan seperti semula.
Sampai di sini, mata akhirnya harus melihat ke atas jalan.
Ada lereng. Ada kebun. Ada hutan. Lebih jauh ada daerah tangkapan air. Air turun ke anak sungai, kemudian sungai, melewati gorong-gorong, menghantam tebing dan akhirnya bertemu jembatan di bawah.
Tiba-tiba sebuah kata yang tadinya terdengar seperti bahasa seminar menjadi sangat sederhana: lanskap.
Jalan tidak longsor karena sedang apes. Jembatan juga tidak bangun suatu pagi lalu memutuskan hanyut. Ada cerita panjang sebelum tanah bergerak dan air tiba di bawah.
Karena itu memperbaiki jalan tetapi melupakan apa yang terjadi di atasnya mirip mengepel lantai sementara keran masih terbuka.
Nah, di sinilah “atensi khusus” semestinya mulai naik ke tingkat berikutnya. Setelah angka kilometer jalan dan jumlah jembatan, masyarakat juga perlu diperlihatkan angka lain: berapa titik lereng kritis ditangani, berapa kawasan tangkapan air dipulihkan, berapa titik longsor yang mengancam jalan strategis diamankan, berapa hektare DAS direhabilitasi, dan bagaimana kebun pada lereng rawan dikelola agar tetap menghasilkan tanpa memperbesar erosi.
Angka-angka semacam itu jauh lebih sulit ditemukan di ruang publik.
Bukan berarti pekerjaannya tidak ada. Bisa saja sedang dilakukan oleh berbagai kementerian, dinas, atau pemerintah kabupaten. Justru karena itu perlu dikumpulkan dan diperlihatkan. Masyarakat jangan hanya diberi angka berapa miliar atau triliun rupiah telah dialokasikan. Angka anggaran penting, tetapi uang adalah input. Yang ingin diketahui orang adalah apa yang berubah setelah uang itu turun.
Pada awal Oktober, Kemenko PMK mulai melihat pemulihan Aceh Tengah dengan kacamata yang lebih luas. Bukan hanya kerusakan fisik, tetapi juga kerugian ekonomi terhadap PDRB, pertanian, aset produktif, permukiman dan infrastruktur kritis. Arah ini menarik karena bencana memang tidak selesai ketika excavator pulang.
Jalan bisa terbuka, tetapi ongkos membawa kopi belum tentu kembali normal. Kebun bisa berbuah, tetapi kalau mobil pengumpul sulit masuk, kerugian tetap berjalan. Rumah bisa selesai dibangun, tetapi keluarga yang kehilangan sumber pendapatan belum tentu sudah pulih.
Mungkin di situlah arti sesungguhnya dari “atensi khusus” perlu dicari.
Mulailah dari yang paling dekat dengan kaki manusia: jalan kampung. Sambungkan dengan jalan kecamatan dan jalan kabupaten. Pastikan jalan produksi kembali membawa kopi dan hasil kebun keluar. Ganti jembatan darurat dengan yang permanen. Setelah itu jangan berhenti. Naik sedikit ke lereng, ikuti perjalanan air, lihat DAS, hutan dan kebun yang menentukan berapa lama jalan dan jembatan baru itu akan bertahan.
Dengan cara itu ukuran keberhasilan rehab-rekon Gayo menjadi mudah dipahami: sekian kilometer jalan produksi kembali normal, sekian jembatan darurat menjadi permanen, sekian kampung tidak lagi terancam terisolasi, sekian titik longsor diamankan, dan sekian hektare lanskap kritis mulai dipulihkan.
Dashboard akhirnya tidak hanya mempunyai warna. Ia mempunyai cerita tentang manusia.
Hampir sepuluh bulan setelah bencana, pertanyaan kepada dua kata Mendagri itu karena itu tidak perlu dibuat rumit:
Atensi khusus itu sudah sampai di mana?
Kalau jawabannya terlihat pada jalan yang tersambung, jembatan yang permanen, kopi yang kembali mudah keluar dari kebun, lereng yang lebih aman, dan DAS yang mulai pulih, orang Gayo tidak perlu lagi dijelaskan panjang-panjang apa arti “atensi khusus”.
Mereka akan merasakannya.
Kalau belum, jangan-jangan yang khusus baru atensinya.





