Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Sudah 35 tahun semenjak tahun 1991 saya mengajar di Fakultas Syariah dengan mata kuliah yang sampai saat ini belum berubah, yaitu mata kuliah Ushul Fiqih. Saya masih teringat ketika pertama sekali mengajar mata kuliah ini sebagai asisten dari Dr. Alyasa Abubakar.
Pada saat pertama sekali kuliah, kami tidak berjanji siapa yang masuk, apakah saya sebagai asisten atau beliau sebagai dosen. Yang jelas, pada hari yang telah ditentukan, saya datang sebelum tiba jam mengajar.
Saya menunggu beliau dengan rasa jantung berdebar karena saya tidak berpengalaman dalam hal mengajar mahasiswa dan saya juga tidak terbiasa sebagai tutor atau bahkan moderator dalam acara-acara tertentu. Jadi, mengajar adalah suatu beban yang sangat berat bagi saya karena saya harus berbicara di depan orang lain atau mahasiswa.
Pada hari itu, saya sebentar-sebentar melihat keluar dari kantor Fakultas Syariah, ingin tahu apakah Pak Alisa sudah datang atau belum. Ternyata, sampai jam 8 beliau belum hadir dan saya harus masuk ke dalam ruangan dengan pengalaman yang baru dan juga persiapan yang baru.
Untungnya, sebelum saya mengajar, saya sudah diberikan satu buah diktat. Diktat yang diberikan tersebut saya hafal, bukan hanya kalimat, tetapi bahkan huruf-huruf yang ada dalam diktat tersebut saya hafal. Materi yang saya hafal tersebutlah yang saya ajarkan kepada mahasiswa.
Mungkin karena mahasiswa tidak dibagikan atau tidak membaca diktat yang saya pegang, maka mahasiswa tidak tahu kalau sebenarnya saya sedang menghafalkan diktat yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah.
Kemudian, saya terus mengajarkan diktat tersebut sampai berakhirnya jam kuliah. Saya merasa lega karena saya sudah menyelesaikan satu hari perkuliahan, walaupun dengan kendala dan keadaan yang saya sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Karena saya hanya mengasuh mata kuliah Ushul Fiqih 2 SKS, selesailah saya mengajar satu semester dengan 16 kali pertemuan.
Untuk semester selanjutnya, saya dipercayakan kembali untuk mengajar mata kuliah Ushul Fiqih 2 dengan dosen yang sama, yaitu Dr. Alyasa Abubakar, yang pada saat itu belum profesor. Materi yang saya ajarkan pada Ushul Fiqih 2 berhubungan dengan penalaran bayani atau kaidah kebahasaan.
Berbeda dengan semester sebelumnya, ketika itu saya menghafalkan diktat kepada mahasiswa. Namun, pada semester ini saya sudah mulai agak tenang dan mempersiapkan diri dengan membaca diktat yang diberikan serta menambah sedikit buku lain untuk dibaca.
Namun, di luar dugaan saya, pada semester yang kedua ini, yang seharusnya saya mengajar secara penuh karena saya sudah berpengalaman mengajar pada semester sebelumnya, ternyata berbeda dengan yang saya duga.
Pada semester ini, dosen pengasuh masuk mengajar lebih sering daripada saya, dan materi yang disampaikan juga masih seputaran materi-materi yang ada di dalam diktat.
Hanya saja, pada semester ini saya berposisi sebagai pendengar dan mengikuti secara cermat materi-materi yang diajarkan oleh dosen pengasuh. Dari situ, saya mendapatkan pengalaman baru yang berbeda dengan metode yang saya ajarkan pada semester sebelumnya. Yang mau saya katakan di sini, pada semester ini saya juga tetap mengajar mata kuliah Ushul Fiqih dengan jenjang Ushul Fiqih 1 dan Ushul Fiqih 2.
Kemudian, pada tahun-tahun selanjutnya, di samping di Fakultas Syariah, saya tetap mengajar mata kuliah Ushul Fiqih. Pada saat itu, ada istilah pengajaran yang berbasis MKDU, yaitu mata kuliah dasar umum yang diasuh oleh satu lembaga.
Saya mengajar mata kuliah MKDU ini di beberapa fakultas, termasuk Fakultas Ushuluddin dengan mata kuliah Dirāsah Islamiyah. Kemudian, di Fakultas Dakwah juga dengan mata kuliah yang sama, yaitu Dirāsah Islamiyah.
Dalam perkembangannya, saya juga mengajar Ushul Fiqih di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Dakwah. Jadi, pengalaman mengajar sudah mulai banyak, tetapi materi yang saya ajarkan tetap berputar dalam mata kuliah Ushul Fiqih.
Bahkan, sudah 35 tahun sebagaimana saya katakan di atas, saya mengajar di Fakultas Syariah dengan mata kuliah Ushul Fiqih.
Dalam rentang tahun seperti yang saya sebutkan, sepanjang ingatan saya, ketika saya ingin atau sampai pada jadwal mengajar, setiap malam menjelang mengajar saya pasti mempersiapkan diri dengan membaca buku-buku atau materi-materi yang akan diajarkan untuk esok hari.
Terkadang, materi-materi itu saya tulis dan saya kirim di media online, kendati materi itu tidak saya kirim kepada mahasiswa.
Saya teringat betul ketika terjadi COVID-19 pada tahun 2019, ketika itu saya sudah menyiapkan materi-materi kuliah Ushul Fiqih yang berbasis tontonan YouTube.
Jadi, saya mempunyai materi-materi Ushul Fiqih yang lengkap untuk pelajaran Ushul Fiqih, mulai dari awal sampai akhir.
Kendati materi-materi yang disampaikan di dalam YouTube tersebut sifatnya global, materi itu merupakan ide-ide atau garis besar yang akan disampaikan dalam pelajaran Ushul Fiqih.
Kemudian, YouTube tersebut juga memuat beberapa materi atau kajian keislaman yang tidak hanya terpaku pada materi-materi perkuliahan, tetapi terkadang juga berhubungan dengan masalah ketauhidan, budaya, dan lain-lain.
Bila kita lihat dari sisi mahasiswa, pada awal-awal saya mengajar pada tahun 1991, mungkin sampai tahun 2000-an, mahasiswa yang saya ajar kebanyakan tamatan pesantren tradisional serta beberapa orang tamatan pesantren modern.
Yang jelas, pengetahuan mereka tentang membaca kitab dan pengetahuan tentang Fiqih sangat mendalam. Merekalah yang saya ajar untuk mata kuliah Ushul Fiqih.
Alhamdulillah, dengan berbagai rintangan dan berbagai pertanyaan yang terkadang masih saya ingat sampai sekarang, mahasiswa sering sekali mengajukan pertanyaan yang belum pernah kita baca sebelumnya. Kualitas pertanyaan mereka juga sangat baik, baik untuk mata kuliah maupun materi-materi Fiqih ataupun Ushul Fiqih.
Ditambah lagi pengalaman yang juga berkesan ketika mengajar beberapa mata kuliah yang berhubungan dengan Ushul Fiqih, seperti Fiqih Muqaranah, Ushul Fiqih, atau Ijtihad Kontemporer. Kemudian, ditambah dengan mata pelajaran Fiqih yang lain.
Saya teringat juga ketika menjadi asisten dari salah seorang dosen di Fakultas Syariah, yaitu almarhum Jihad Hasballah, MA. Beliau adalah orang yang sangat cerdas dalam bidang Tafsir dan juga sangat cerdas dalam bidang Fiqih. Ketika saya menjadi asisten beliau, kami berdiskusi dengan mahasiswa.
Biasanya, pada setiap akhir diskusi dengan mahasiswa, kami sebagai asisten diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat tentang materi-materi yang didiskusikan. Dengan demikian, kami juga harus mengambil konklusi dari materi yang diajarkan tersebut.
Jadi, pengalaman yang panjang selama bertahun-tahun dengan beragam mata kuliah, kendati tidak jauh berbeda, sangat berkesan karena nuansa mahasiswa yang diajarkan sangat beragam.
Mulai dari mahasiswa tamatan pesantren, bahkan ada yang sudah menjadi guru di dayah, kemudian mahasiswa tamatan Aliyah. Banyak juga mahasiswa yang kuliah di Fakultas Syariah pada tahun 1990-an dan 2000-an berasal dari Malaysia.
Terkadang, mereka sudah mendapatkan materi pendidikan di Timur Tengah dan biasanya melanjutkan pendidikan mereka di IAIN Ar-Raniry pada saat itu. Jadi, tantangan mengajar itu sangat beragam dan sangat berkesan dalam benak kita ketika menjadi dosen pada saat itu.
Kemudian, bila kita lihat pada saat sekarang ini, dengan kemajuan teknologi, masa globalisasi, modernisme, atau apa pun namanya, nuansa pelajaran yang kita ajarkan kepada mahasiswa, kendati materinya sama, tetap berbeda.
Pengetahuan atau pemahaman mereka yang berbeda membuat kita setiap hari harus mempersiapkan diri dengan contoh-contoh atau materi-materi yang berhubungan dengan modernisasi atau globalisasi yang dihadapi pada saat sekarang ini.
Bagi saya sendiri, setiap hari sebelum mengajar, pada malam harinya harus mempersiapkan diri. Dalam benak saya, kita tidak pernah bisa mengajar dengan baik kalau tidak mempersiapkan diri tentang materi apa yang harus kita ajarkan pada keesokan harinya.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa perbedaan pembelajaran pada masa lalu dengan sekarang terletak pada tingkatan materi, contoh, atau nuansanya.
Dahulu, pembelajaran masih bersifat bayani atau kebahasaan, sedangkan sekarang sudah mengarah kepada materi yang bersifat modernisasi, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, kita harus tetap membaca apa yang akan kita ajarkan esok hari, kendati pengalaman yang kita hadapi berbeda dengan masa lalu. []





