Ilmu yang Kupunya Belum Sebaris

oleh

Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Semenjak mata saya bermasalah dan tidak bisa melihat sejak bulan Mei tahun 2025, dan kini sudah Oktober tahun 2026, berarti sudah 1,5 tahun lebih sejak itu. Saya mencoba mengisi kekosongan dengan membaca buku-buku melalui notebook yang tersedia dalam laptop atau iPad.

Dari situ saya banyak mendapatkan informasi dan bahkan buku-buku yang saya dengar melebihi dari apa yang saya baca ketika saya masih bisa melihat.

Namun, sesudah beberapa buku saya baca, saya merasa diri bahwa sudah memiliki banyak ilmu. Kemudian, tibalah bacaan saya kepada sebuah buku yang ditulis oleh Abul Fadil tentang Islam Puritan.

Di dalam buku tersebut dikatakan kalau beliau sudah memiliki koleksi buku di perpustakaan pribadinya sebanyak 19.000 judul buku. Saya kagum dan tersentak malu. Padahal, saya baru membaca beberapa buku dan dibanding dengan apa yang dimiliki atau yang telah dibaca oleh Abul Fadil, belumlah seberapa.

Kemudian, di balik itu saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh guru saya ketika kuliah. Pada tahun 1990-an terkenal modernisasi terjadi di Indonesia. Banyak tokoh-tokoh yang menganut aliran liberalisme, di antaranya adalah Nurcholis Madjid, Gus Dur, termasuk Quraish Shihab.

Pada saat itu banyak orang mencerca, mencemooh, dan mengatakan bahwa mereka adalah orang yang liberal, orang yang terkadang berpikir terlalu jauh dengan agama itu sendiri.

Ketika itulah dosen saya mengatakan, kalian jangan terlalu mudah menilai orang. Padahal, kalian baru membaca dua buah buku, sedangkan orang yang Anda katakan salah itu sudah membaca dua lemari buku.

Karena itu, hendaklah kita berhati-hati untuk menilai orang, apakah orang itu baik atau juga apakah orang itu salah atau juga benar. Karena boleh jadi apa yang dikatakan oleh orang lain itu benar, padahal Anda sendiri belum tahu karena belum membaca apa yang dikatakan oleh orang tersebut.

Kemudian, juga saya teringat ketika tahun 2004 terjadi gelombang tsunami yang sangat dahsyat di Aceh yang meluluhlantakkan daerah Aceh.

Kemudian, pada saat itu pimpinan di IAIN Ar-Raniry diberi kesempatan untuk belajar ke Kanada di McGill University. Pada saat itu saya dengan beberapa kawan berkesempatan berkunjung ke ruangan pribadi Wael B. Hallaq.

Beliau adalah ahli yurisprudensi atau ahli dalam bidang ushul fiqih yang berskala internasional dan banyak buku-buku yang diterbitkan.

Ketika kami masuk ke dalam ruangan beliau, beliau mempunyai ruangan yang sangat luas. Dalam ingatan saya, ruangannya tidak kurang dari 8 × 8 meter atau bahkan lebih, di mana semua dinding dari ruangan beliau dipenuhi dengan buku-buku dan kitab-kitab. Hampir tidak ada celah yang kosong. Di setiap dindingnya diisi oleh buku, bahkan beberapa meja yang ada juga dipenuhi buku.

Pada saat itu saya berpikir, apakah buku-buku yang ada itu semua sudah dibaca atau hanya sebagai sebuah koleksi? Terlepas dari bayangan itu semua, itulah gambaran ilmuwan memiliki buku di perpustakaan pribadi di ruang kerja mereka dengan jumlah yang tidak bisa dihitung, bahkan melebihi dari perpustakaan yang ada di daerah kita.

Wel B. Hallaq tidak menyebutkan berapa jumlah buku yang ada dan apa saja buku yang dimiliki, tapi semua orang seluruh dunia, khususnya dalam bidang akademik, mengenal beliau sebagai profesor di bidang yurisprudensi atau ushul fiqih.

Ketika saya bandingkan dengan ruangan-ruangan dosen yang ada di Aceh, baik di Universitas Islam Negeri atau UIN, di mana terkadang ada ruangan-ruangan dosen yang tidak memuat walaupun itu satu atau dua buku.

Bahkan banyak ruangan-ruangan yang tidak kita dapatkan adanya buku-buku bacaan. Lalu kita tahu ketika para dosen butuh akan bahan bacaan, mereka akan mencari buku di perpustakaan-perpustakaan yang ada. Tetapi juga terkadang di perpustakaan tidak bisa kita mendapatkan semua buku yang kita harapkan.

Demikian juga dengan dosen-dosen di Universitas Syiah Kuala, tidak jauh berbeda dengan dosen-dosen di UIN. Tidak juga banyak memiliki koleksi buku sebagaimana yang saya sebutkan di atas, seperti Abul Fadil. Dia memiliki buku yang sangat luar biasa jumlahnya.

Bahkan dalam ungkapan di buku yang saya sebutkan di atas bahwa dia sedang melacak beberapa buku yang akan dijadikan koleksi sebagai kelengkapan pustaka di ruangan pribadinya.

Kondisi yang seperti ini kapan kita bisa dapatkan dalam pustaka-pustaka pribadi kita, sehingga ruangan-ruangan milik pribadi, baik itu di kantor atau di rumah, dipenuhi dengan buku-buku.

Hal ini menjadi tidak mungkin untuk kita sendiri, apalagi pada saat ini kehidupan para akademisi sangat tergantung kepada kemajuan teknologi.

Karena teknologi menyajikan semua bahan-bahan yang diperlukan, sehingga kita lupa bahwa banyak orang-orang yang memiliki buku-buku yang menjadi koleksi atau bahan bacaan mereka. Kendati teknologi di daerah mereka itu jauh melampaui teknologi yang ada di daerah kita.

Karena itu, mungkin kita bisa katakan bahwa pengetahuan yang kita miliki itu masih sangat sedikit bila dibanding dengan orang lain. Ketika saya membaca buku-buku yang ada di perpustakaan atau lemari saya, atau saya mencari buku yang ada PDF-nya untuk selanjutnya saya baca melalui audiobook, saya terkagum dan terkadang tercengang membaca buku-buku para ahli atau ilmuwan, baik dari dalam negeri atau dari luar.

Mereka memiliki rujukan yang luar biasa, baik itu dari kitab-kitab yang berasal dari imam mazhab atau ulama-ulama lain, tetapi juga mereka merujuk dari buku-buku yang berbahasa asing, seperti halnya bahasa Inggris, Prancis, dan lain-lain.

Ketika saya mendengar itu semua, saya sering katakan, hebat sekali para ilmuwan. Banyak sekali mereka menulis, luar biasa ilmuwan-ilmuwan dengan ilmu yang dikemukakan, dengan temuan-temuan yang mereka sajikan, melebihi apa yang kita bayangkan.

Sampai akhirnya saya katakan bahwa ilmu saya belum sebaris dibanding dengan puluhan karya dari para tokoh, bahkan ratusan artikel yang mereka tulis. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.