Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Mempelajari dan memperhatikan kehidupan makhluk Allah yang ada di alam ini, secara nyata kita dapat melihat bahwa tidak ada satu pun di antara makhluk-makhluk tersebut yang tidak bekerja, terlebih lagi makhluk-makhluk selain manusia.
Kenapa kita katakan makhluk lain selain manusia itu lebih banyak bekerja daripada manusia itu sendiri? Di antaranya dikarenakan tujuan bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia ini.
Seperti kita lihat, burung mulai pagi bekerja, terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain. Terkadang ada burung yang pergi pagi dan pulang sore. Mereka bekerja mencari makan. Mereka harus bekerja setiap saat dan setiap hari tanpa mengenal lelah.
Di antara penyebabnya adalah mereka tidak bisa menyimpan makanan. Artinya, begitu mereka mendapatkan makanan, mereka memakannya. Kemudian, untuk selanjutnya, mereka bekerja dan mendapatkan makanan, lalu memakannya, dan seterusnya setiap hari, setiap waktu, tanpa henti.
Mungkin bagi burung, mereka tidak mengenal kata pensiun karena kalau mereka berhenti bekerja berarti berhenti makan. Kalau mereka berhenti mencari, boleh jadi mereka juga akan berhenti makan karena makanan tidak tersedia dan tidak tersaji begitu saja. Karena itu, mereka harus mencari makanan di mana-mana.
Sebagian burung, di antaranya burung bangau, pergi pagi beramai-ramai ke tempat yang jauh. Terkadang mereka menelusuri pantai dan pulau. Setiap hari mereka melakukan hal tersebut. Mereka hanya membawa pulang makanan yang tersimpan di dalam paruh mereka. Mungkin mereka harus terbang lagi ke tempat yang sama atau tempat yang berbeda untuk keesokan harinya.
Demikian juga, mereka bekerja untuk menyiapkan perlindungan bagi diri sendiri, keluarga, atau anak-anak mereka. Mereka menyiapkan sarang untuk bertelur dan membesarkan anak-anak mereka. Kemudian, untuk anak-anak mereka, mereka juga harus mencarikan makanan.
Terkadang ada burung yang salah satunya menjaga anaknya, sedangkan yang lainnya mencari makanan. Burung yang seperti ini bisa kita ambil sebagai sebuah contoh. Ada burung yang jantannya menjaga anak dan tidak pergi ke mana-mana, sedangkan betinanya berusaha setiap hari mencari nafkah untuk sang suami dan anak-anak yang ditinggalkan.
Kebanyakan burung juga ada yang betinanya tinggal menjaga anak-anak, kemudian yang jantan mencari makanan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Tentu saja mereka ini sama dengan burung-burung yang lain. Mereka tidak pernah berhenti bekerja mencari dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ketika mereka berhenti bekerja, mungkin umur mereka tidak akan lama.
Makanan yang mereka dapatkan hanya sebanyak isi paruh mereka. Mereka tidak bisa membawa lebih banyak dan juga tidak bisa menyimpan makanan untuk kemudian hari. Ketika paruh mereka kosong, mereka harus kembali mencari makanan.
Mungkin hal ini berlaku untuk semua makhluk yang ada di dunia, baik itu serigala, harimau, kerbau, maupun yang lainnya. Mereka harus selalu bekerja. Terkadang mereka hanya beristirahat pada malam hari.
Begitu matahari mulai terbit, tema yang sering sekali kita dengar adalah kicauan burung di dahan-dahan dan di pohon-pohon di sekitar rumah kita. Bagi sebagian burung, makanan banyak tersedia ketika mereka terbang dari sarangnya. Laba-laba yang menjadi mangsa mereka sangat tampak jelas ketika pagi mulai datang.
Pada saat itu, burung-burung mulai terbang di pohon-pohon di sekitar kebun rumah dan pohon-pohon lainnya, baik yang dekat maupun yang jauh dari tempat tinggal kita.
Sore hari juga terkadang ditutup dengan berakhirnya kicauan burung.
Artinya, mereka sudah mulai kembali ke sarang untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga agar besok dapat bekerja kembali. Mereka tidak mengenal istilah bahwa besok adalah hari libur atau bahwa besok adalah hari yang berharga bagi kehidupan mereka. Tidak ada istilah Hari Pahlawan yang menyebabkan mereka harus libur bekerja.
Itulah kondisi kehidupan di antara makhluk-makhluk yang ada di alam ini.
Contoh yang paling dekat dengan kita adalah ayam. Dalam sejarah panjang kehidupan manusia, manusia sangat tergantung kepada ayam. Artinya, manusia pada pagi hari dibangunkan oleh ayam.
Ketika kita tidak punya jam, orang tua kita, masyarakat kita, dan semua orang selalu berkata, “Ayam sudah berkokok.” Kita pun bergegas bangun, apakah untuk beribadah atau untuk mempersiapkan diri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang akan kita kerjakan.
Sehingga muncul sebuah ungkapan dari orang tua kita kepada kita sebagai anaknya, atau ungkapan kita kepada anak-anak kita, “Jangan sampai rezeki kamu dipatok ayam.” Ini artinya bahwa ayam adalah makhluk yang lebih cepat mencari rezeki atau mencari nafkah untuk dirinya.
Dalam ilustrasi tersebut dikatakan bahwa ketika kita terlambat bangun, rezeki kita diambil oleh ayam. Bahkan, sebagian orang mengatakan, “Jangan terlambat bangun, nanti jodoh kamu diambil ayam.”
Ungkapan ini memberi isyarat kepada kita bahwa makhluk selain manusia lebih gesit atau lebih cepat dalam mencari dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Boleh jadi, sebagaimana yang kita sebutkan di atas, hal itu karena mereka tidak bisa menyimpan makanan dan tidak bisa menabung untuk memenuhi kebutuhan mereka pada hari esok dan seterusnya.
Atau juga boleh kita katakan, secara agama, kita membuat sebuah pemahaman bahwa semua yang ada di alam ini, apakah itu tumbuh-tumbuhan atau hewan, termasuk ayam, adalah tanda bagi manusia.
Apakah tanda bahwa malam menjelang pagi melalui kokokan ayam, atau bunyi binatang-binatang yang ada di pohon sebagai pertanda bahwa hari menjelang sore atau malam? Suara elang pada siang hari juga dapat menjadi isyarat atau pertanda yang menunjukkan tengah hari.
Ada pula suara burung-burung yang menunjukkan bahwa hari akan hujan, atau suara binatang-binatang pegunungan yang menjadi pertanda bagi manusia bahwa hujan akan datang, atau pertanda yang lainnya.
Terlepas dari semua itu, kita merenung dan memahami bahwa tidak ada makhluk di alam ini yang hidup tanpa bekerja.
Sebagai manusia, kita hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk yang seperti disebutkan di atas.
Mungkin kita bisa membandingkan bahwa kita sebagai manusia masih bisa mengatakan bahwa kita beristirahat karena lelah bekerja. Kita mempunyai hari libur untuk bekerja karena alasan atau pertimbangan tertentu, apakah itu pertimbangan kenegaraan atau penghormatan terhadap hari-hari besar keagamaan.
Yang jelas, kita mempunyai hari istirahat atau libur. Lebih dari itu, kita masih mengenal kata pensiun bagi pegawai negeri, TNI, Polri, dosen, guru, serta yang lainnya.
Kita bisa mengatakan bahwa nanti, ketika berumur 58 tahun, 60 tahun, atau 70 tahun, pada saat itu kita sudah pensiun dan tidak bekerja lagi. Lalu kita mengatakan, “Pada saat itu nanti saya tidak bekerja lagi. Saya akan fokus beribadah.”
Kita membedakan pekerjaan dengan ibadah. Padahal, agama itu sendiri mengatakan bahwa ibadah adalah sebuah pekerjaan. Ibadah bukan sesuatu yang bersifat tanpa kerja. Dalam istilah fikih disebut dengan perbuatan, sedangkan dalam istilah Al-Qur’an juga disebut dengan ‘amal, yaitu perbuatan.Jadi, semuanya berhubungan dengan pekerjaan.
Semakin menjelang usia tua, kita seharusnya tidak mengenal kata pensiun dalam beribadah. Dalam agama, hal ini disebut menjadi orang yang lebih bertakwa. Artinya, orang yang tidak lagi mengenal kata istirahat dalam meningkatkan ketakwaan akan selalu bekerja dan bekerja.
Karena itulah, saya mengatakan bahwa diri saya masih terlalu banyak beristirahat bila dibandingkan dengan waktu untuk bekerja.
Mari, sepanjang kita masih hidup, kita pahami bahwa hidup adalah kerja. []





