Super El Niño Indonesia, Aceh, dan Gayo: Gudang Air Aceh

oleh

Oleh : Prof Ahmad Humam Hamid*

Orang Indonesia sedang menengadah ke langit menunggu hujan. Di tengah El Niño yang sangat kuat, sebagian besar wilayah negeri ini menghadapi kondisi yang lebih kering dan ancaman berkurangnya persediaan air. Aceh mempunyai cerita yang sedikit berbeda. Di provinsi ini, El Niño tidak serta-merta berarti ketiadaan hujan. Ketika wilayah lain menunggu awan, sebagian Aceh masih dapat menerima hujan lebat dalam waktu singkat, dengan risiko yang sama sekali tidak kecil.

Untuk memahami paradoks itu, lihatlah ke Gayo. Sebab jika ingin mengetahui sebagian dari masa depan air Aceh, salah satu tempat terbaik untuk melihatnya bukanlah pantai, melainkan pegunungan. Di sanalah hujan ditangkap, sebagian air disimpan di dalam lanskap, mata air dipelihara, dan aliran sungai dilepaskan menuju dataran rendah.

Gayo selama ini terkenal karena kopi. Kopinya sudah pergi ke Amerika, Eropa, Jepang, dan berbagai sudut dunia. Tetapi ada satu “komoditas” Gayo yang jauh lebih tua, dikirim setiap hari tanpa truk, tanpa kontainer, tanpa faktur, bahkan tanpa ongkos ekspedisi: air. Ia turun dari pegunungan, memasuki anak-anak sungai, bertemu sungai yang lebih besar, kemudian melakukan perjalanan panjang ke berbagai bagian Aceh.

BMKG pada awal Oktober 2026 mencatat El Niño berada pada kategori sangat kuat. Secara nasional, sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia pada Dasarian I Oktober diprakirakan mengalami curah hujan rendah. Kekeringan, kekurangan air serta berbagai dampaknya menjadi perhatian besar. Namun untuk periode 6–9 Oktober, Aceh justru masuk kategori Siaga potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Sifat hujan di sejumlah wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara juga menunjukkan kemungkinan kondisi di atas normal pada periode tertentu.

Sepintas keadaan ini tampak bertentangan. Sebenarnya tidak. El Niño bukan surat edaran kepada setiap awan di Indonesia agar berhenti menurunkan hujan. Ia memengaruhi pola dan probabilitas hujan dalam skala luas, sementara dinamika atmosfer regional dan lokal tetap memungkinkan hujan lebat terjadi di suatu wilayah ketika sebagian besar Indonesia sedang mengalami kondisi lebih kering.

Buktinya sudah turun dari langit. Pada 21–30 September, BMKG mencatat curah hujan kategori tinggi, 151–300 milimeter dalam sepuluh hari, di sejumlah kawasan pegunungan Aceh. Ketol di Aceh Tengah termasuk di dalamnya, demikian pula Timang Gajah di Bener Meriah serta Pentan Cuaca, Blangkejeren, Puteri Betung dan Pining di Gayo Lues.

Angka-angka tersebut penting karena air tidak mengenal batas administrasi kabupaten. Hujan yang jatuh di pegunungan tidak berhenti di tempat ia menyentuh tanah. Sebagian meresap, sebagian mengisi mata air dan anak sungai, sementara sebagian lainnya bergerak menuju sungai-sungai yang lebih besar. Dari sanalah perjalanan menuju dataran rendah dimulai.

Dataran tinggi tengah Aceh berhubungan dengan sejumlah sistem daerah aliran sungai (DAS) penting. Peusangan merupakan contoh paling jelas, sementara sistem Jambo Aye dan beberapa DAS lainnya memperlihatkan hubungan hidrologis antara kawasan pegunungan dengan wilayah yang jauh lebih rendah. Karena itulah Gayo layak disebut sebagai salah satu gudang air terpenting Aceh.

Sebutan itu tentu tidak berarti seluruh air Aceh berasal dari Gayo. Aceh mempunyai pegunungan dan daerah tangkapan air lain yang sangat luas. Namun dataran tinggi tengah merupakan salah satu simpul hidrologis penting, tempat air yang jatuh di pegunungan mempunyai konsekuensi jauh melampaui batas kabupaten tempat hujan itu turun.

Peusangan memberikan gambaran yang paling mudah dibaca. DAS Peusangan memiliki luas sekitar 249 ribu hektare. Di hulunya terdapat Danau Lut Tawar, bentangan air sekitar 5.700 hektare yang menjadi salah satu jantung hidrologis dataran tinggi Aceh. Dari kawasan danau, air mengalir melalui Krueng Peusangan menuju dataran yang lebih rendah.

Danau Lut Tawar karena itu bukan sekadar panorama Takengon. Air dari sistem ini berkaitan dengan pertanian, kebutuhan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan energi. PLTA Peusangan 1 dan 2 mempunyai kapasitas terpasang gabungan 88 MW. Air yang jatuh sebagai hujan di pegunungan pada akhirnya dapat mengalir ke sawah, memenuhi kebutuhan masyarakat, menggerakkan turbin pembangkit, lalu meneruskan perjalanan menuju laut.

Hidrologi di sini bukan lagi pelajaran geografi. Ia telah menjadi ekonomi.

Jambo Aye memberikan gambaran lain. Daerah Irigasi Jambo Aye memiliki jaringan dengan cakupan sekitar 22.500 hektare yang berkaitan dengan kawasan pertanian Aceh Utara dan Aceh Timur. Pada titik ini istilah “gudang air” berhenti menjadi metafora. Air berubah menjadi padi, padi menjadi pendapatan petani, dan pendapatan kemudian bergerak lagi menghidupkan pasar, warung, sekolah, bengkel, toko pupuk, serta ekonomi kampung.

Namun perjalanan air dari pegunungan Aceh tidak hanya menuju pantai utara dan timur. Sebagian justru bergerak ke arah berlawanan, menuruni lereng Bukit Barisan menuju Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam, hingga Aceh Singkil. Di sinilah cerita gudang air Gayo menjadi lebih luas dan lebih menarik.

Krueng Tripa merupakan salah satu contohnya. Sistem daerah aliran sungai ini menjangkau kawasan Gayo Lues, Aceh Tengah, Nagan Raya dan Aceh Barat Daya. Hujan yang jatuh di sebagian kawasan pegunungan tengah dapat memasuki jaringan sungai yang akhirnya mengalir ke pesisir barat. Dengan demikian, hubungan antara Gayo dan Nagan Raya bukan hanya hubungan perdagangan kopi, perjalanan manusia atau jalan lintas pegunungan. Ada hubungan yang jauh lebih tua, dibentuk oleh gravitasi dan air.

Lebih jauh ke selatan terdapat sistem Alas–Singkil. Air dari kawasan Gayo Lues mengalir melalui jaringan hulu Lawe Alas, melintasi Aceh Tenggara, kemudian meneruskan perjalanan melalui sistem Lae Soraya menuju Subulussalam dan Aceh Singkil. Sebagian air yang akhirnya mencapai pesisir selatan-barat Aceh dengan demikian telah menempuh perjalanan panjang melalui pegunungan dan lembah yang secara administratif berada di beberapa kabupaten.

Sementara itu, Krueng Kluet dan sejumlah sungai lain di Aceh Selatan mempunyai daerah tangkapan air di kawasan pegunungan bagian selatan Bukit Barisan. Tidak semua hulunya berada di Gayo. Justru di sinilah pentingnya melihat Gayo Lues, Aceh Tenggara dan pegunungan sekitarnya sebagai bagian dari bentang hidrologis yang lebih besar, dengan beberapa sistem sungai yang mengalir ke arah berbeda.

Peta administrasi membagi Aceh menjadi kabupaten dan kota. Peta air tidak selalu menghormati pembagian itu. Hujan yang turun di satu kabupaten dapat menjadi sumber kehidupan, sekaligus sumber ancaman, bagi masyarakat di kabupaten lain. Petani di hilir mungkin tidak pernah mengunjungi hutan di hulu. Namun keadaan hutan tersebut dapat ikut menentukan apakah sawahnya memperoleh air, apakah sungainya membawa sedimen berlebihan, dan apakah kampungnya menghadapi risiko banjir.

Karena itu, gudang air Aceh bukan hanya cerita tentang Danau Lut Tawar, Peusangan dan Jambo Aye. Ia juga cerita tentang Tripa, Alas–Singkil, Kluet dan jaringan sungai yang menghubungkan pegunungan tengah dengan pantai barat dan selatan. Airnya bergerak ke berbagai arah, tetapi pesan kebijakannya sama: kerusakan di hulu tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan orang yang tinggal di hulu.

Masalahnya, sebuah gudang tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak barang yang masuk. Keadaan atap, lantai dan dinding menentukan apakah barang itu dapat disimpan dengan baik. Pertanyaan yang sama berlaku terhadap Gayo: bagaimana keadaan gudang air Aceh itu sekarang?

Bener Meriah memberikan salah satu petunjuk. Sebagian besar wilayah kabupaten ini berada dalam bentang alam penting Kawasan Ekosistem Leuser. Pada saat yang sama, berbagai pemantauan tutupan hutan menunjukkan adanya tekanan terhadap kawasan berhutan dalam dua dekade terakhir. Angkanya penting, tetapi pesan yang lebih besar berada di balik angka itu: hutan di kawasan hulu bukan dekorasi hijau untuk foto drone.

Hutan adalah bagian dari mesin air. Tanah, akar, vegetasi dan lantai hutan membantu memperlambat perjalanan air sehingga sebagian mempunyai kesempatan meresap, tersimpan dan dilepaskan kembali secara lebih bertahap. Ketika tutupan lahan berubah, respons suatu DAS terhadap hujan juga dapat berubah. Limpasan permukaan, erosi dan sedimentasi kemudian menjadi bagian dari persoalan yang harus diperhitungkan.

Sungai yang berubah keruh setelah hujan memberikan satu petunjuk yang patut diperhatikan, walaupun warna air tidak dapat sendirian dijadikan ukuran kerusakan hutan ataupun ramalan datangnya banjir. Kekeruhan dapat disebabkan oleh erosi tebing, longsor, kegiatan pertanian, pekerjaan konstruksi, material dasar sungai dan berbagai faktor lain. Tetapi ketika banyak material bergerak bersama air, pertanyaan yang patut diajukan sederhana: berapa banyak tanah yang sedang turun dari hulu, dan dari mana asalnya?

Pertanyaan itu semakin relevan karena pemerintah pusat menyiapkan pembangunan 40 sabo dam pada enam DAS di Aceh untuk membantu mengendalikan sedimen dan memperkuat mitigasi bencana. Sejumlah laporan pemulihan pascabencana juga menunjukkan bahwa persoalan sedimentasi sungai di kawasan Aceh Tengah masih membutuhkan penanganan.

Di sinilah cerita El Niño bertemu dengan cerita rehab-rekon Aceh.

Wilayah Gayo belum sepenuhnya selesai dengan luka bencana sebelumnya. Jalan dan jembatan masih diperbaiki, lereng yang pernah bergerak tidak otomatis kembali kokoh setelah alat berat meninggalkan lokasi, dan sungai yang dipenuhi material tidak otomatis memperoleh kembali kapasitas lamanya ketika hujan berhenti.

Pada pertengahan September, banjir dan longsor kembali terjadi di sejumlah wilayah Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Pemerintah Aceh juga telah mengingatkan tentang kondisi tanah dan lereng di sejumlah kawasan yang sebelumnya terdampak bencana. Periode hujan berikutnya dengan demikian datang ketika sebagian pekerjaan pemulihan masih berlangsung.

Persoalan Aceh akhirnya bukan sekadar berapa banyak air yang akan turun, tetapi bagaimana gudang air itu menerima, menyimpan dan melepaskannya. Lanskap hulu yang sehat membantu menahan sebagian air ketika hujan banyak dan melepaskannya secara lebih bertahap. Sebaliknya, ketika kemampuan lanskap menahan air menurun, sebagian air dapat bergerak lebih cepat di permukaan sambil membawa tanah dan sedimen menuju sungai.

Dalam keadaan ekstrem, yang bergerak ke hilir bahkan bukan hanya air. Material tanah, batu dan kayu dapat ikut bergerak. Masyarakat di bawah kemudian menerima kiriman yang tidak pernah mereka pesan. Di situlah ironi hidrologinya: gudangnya berada di atas, tetapi kalau gudangnya bocor, yang pertama sibuk sering kali orang yang tinggal di lantai bawah.

Karena itu Gayo tidak boleh dibaca hanya sebagai persoalan Aceh Tengah, Bener Meriah atau Gayo Lues. Kondisi hulunya merupakan kepentingan Aceh. Menjaga hutan Gayo bukan hanya urusan kehutanan, normalisasi sungai bukan sekadar pekerjaan dinas teknis, memperbaiki lereng bukan hanya proyek jalan, dan menjaga Danau Lut Tawar bukan semata-mata urusan pariwisata Takengon. Semuanya merupakan bagian dari satu sistem air yang saling terhubung.

Kepentingan itu juga harus menjangkau Aceh Tenggara dan kabupaten-kabupaten di sepanjang pantai barat-selatan. Ketika kawasan hulu di Gayo Lues atau Aceh Tenggara mengalami perubahan tutupan lahan, dampaknya tidak selalu berhenti pada kabupaten tempat perubahan itu terjadi. Dalam sistem DAS yang sama, konsekuensinya dapat bergerak menuju Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Subulussalam atau Aceh Singkil.

Menjelang periode hujan berikutnya, Pemerintah Aceh membutuhkan sistem pemantauan yang menghubungkan hulu dengan hilir. Curah hujan di kawasan pegunungan, tinggi muka air sungai, lokasi sedimentasi berat, kondisi tanggul, stabilitas lereng, jembatan yang berpotensi menjadi titik sumbatan, serta gampong yang harus menerima peringatan paling awal semestinya dapat dibaca dalam satu sistem yang menghubungkan BMKG, BPBD, Balai Wilayah Sungai, pemerintah kabupaten dan masyarakat.

Sistem itu harus mengikuti batas DAS, bukan berhenti pada batas kabupaten. Peusangan, Jambo Aye, Tripa, Alas–Singkil dan sistem sungai lainnya membutuhkan pemantauan yang memahami hubungan sebab-akibat dari hulu sampai muara. Pemerintah di kawasan pegunungan dan pemerintah di kawasan pesisir harus mempunyai informasi yang saling terhubung, termasuk prosedur peringatan yang dapat menjangkau masyarakat sebelum air dan material tiba.

Perlindungan kawasan tangkapan air juga tidak dapat dipisahkan dari penanganan sungai di bawahnya. Perlindungan hutan, rehabilitasi lahan, pemulihan mata air, penguatan lereng dan pengendalian erosi harus bertemu dengan pengelolaan sedimentasi, pemeliharaan jembatan, tanggul, sabo dam serta sistem peringatan dini. Hulu dan hilir tidak boleh terus diperlakukan seperti dua urusan pemerintahan yang berbeda.

Keberhasilannya kelak tidak cukup dihitung dari berapa sabo dam dibangun, berapa kilometer sungai dinormalisasi, atau berapa hektare lahan ditanami kembali. Ukuran yang lebih penting adalah apakah risiko banjir dan longsor menurun, apakah air tersedia lebih andal pada musim kering, apakah sawah kembali produktif, apakah rumah tangga lebih aman, dan apakah kehidupan ekonomi masyarakat di sepanjang DAS menjadi lebih tangguh.

Super El Niño memberi Aceh satu pelajaran penting: Aceh tidak dapat dibaca hanya dari peta cuaca Indonesia. Ketika sebagian negeri sedang menunggu hujan, Aceh masih dapat mengalami episode hujan lebat. Ketika daerah lain mengkhawatirkan kekurangan air, masyarakat di sekitar lereng dan sungai Aceh dapat menghadapi persoalan sebaliknya, terlalu banyak air yang datang dalam waktu terlalu singkat.

Untuk memahami paradoks itu, lihatlah ke Gayo. Kopi memang membuat Gayo dikenal dunia, tetapi jauh sebelum kopi pertama ditanam di sana, pegunungan itu sudah mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih tua: menangkap hujan, menyimpan sebagian airnya, lalu mengalirkannya menuju berbagai penjuru Aceh, baik ke utara dan timur maupun ke barat dan selatan.

Pekerjaan itu berlangsung setiap hari dan tidak pernah meminta APBA.

El Niño boleh mengubah pola hujan, tetapi ia tidak sendirian menentukan nasib air Aceh. Nasib itu juga ditentukan oleh keadaan gudangnya: apakah hutan masih mampu menahan air, apakah danau masih mampu menyimpannya, apakah sungai masih mampu mengalirkannya, dan apakah hulu serta hilir dikelola sebagai satu kesatuan.

Karena itu pertanyaan akhirnya bukan hanya berapa banyak hujan yang akan turun. Pertanyaannya jauh lebih mendasar:

Masihkah Aceh menjaga gudang airnya dengan baik?

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.