Kita Butuh Pemimpin yang Solutif : Bukan Sekadar Pajangan

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie (Pemerhati Sosial Kemasyarakatan, ASN Kementerian Agama)

Hari ini kita dihadapkan pada berbagai problem kepemimpinan. Bukan hanya di tingkat negara, tetapi juga di provinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan kampung dan organisasi kemasyarakatan. Persoalannya bukan semata-mata siapa yang menjadi pemimpin, melainkan seperti apa kualitas kepemimpinan yang dijalankan.

Kita membutuhkan pemimpin yang ideal: substantif, solutif, berani, cerdas, tanggap, dan ligat membaca persoalan. Pemimpin tidak cukup hanya hadir dalam seremoni, berpidato, memotong pita, menghadiri acara, lalu tampil dalam dokumentasi. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir ketika persoalan muncul dan mampu mencari jalan keluar ketika rakyat menghadapi kesulitan.

Pemimpin bukan pajangan. Pemimpin adalah pengambil keputusan dan pemikul tanggung jawab.

Dalam konteks demokrasi, rakyat memang memilih pemimpinnya. Karena itu, pemimpin yang lahir dari proses demokrasi semestinya memiliki keberanian untuk berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan menjadi sekadar perpanjangan kepentingan para pemodal, tim sukses, kelompok pendukung, atau lingkaran kekuasaan.

Kritik terhadap praktik politik semacam ini bukan berarti menolak demokrasi. Justru sebaliknya, demokrasi harus dikembalikan kepada substansinya: kekuasaan yang berasal dari rakyat dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Islam sendiri menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang berat. Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah yang berkaitan dengan kepemimpinan, antara lain ulil amri, khalifah, dan imam. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 124, Allah menegaskan bahwa amanah kepemimpinan tidak diberikan kepada orang-orang yang zalim.

Rasulullah SAW juga memberikan teladan kepemimpinan yang sangat kuat. Beliau bukan hanya seorang pemimpin yang memiliki otoritas, tetapi pemimpin yang merasakan penderitaan umat, menginginkan keselamatan mereka, serta memiliki kasih sayang kepada rakyatnya. Gambaran ini antara lain ditegaskan dalam QS. At-Taubah ayat 128.

Karena itu, ukuran seorang pemimpin tidak boleh berhenti pada popularitas, banyaknya baliho, kemampuan berbicara, atau besarnya dukungan politik. Kita harus melihat integritas, kapasitas, keberanian, keadilan, kepedulian, dan rekam jejaknya dalam menyelesaikan persoalan.

Pemimpin yang baik tidak selalu menjanjikan banyak hal. Tetapi ketika persoalan datang, ia hadir.

Ketika masyarakat mengalami bencana, ia bergerak.
Ketika pelayanan publik bermasalah, ia memperbaikinya.
Ketika rakyat kesulitan, ia mencari solusi.
Ketika bawahannya keliru, ia membina dan mengoreksi.
Ketika ada kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan rakyat, ia berani mengambil sikap.
Itulah pemimpin substantif.

Pemimpin juga harus ligat: cepat membaca keadaan, cekatan mengambil langkah, dan tidak lamban menghadapi persoalan. Sebab masyarakat tidak hidup dalam ruang teori. Mereka berhadapan dengan kebutuhan nyata: ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, keamanan, pelayanan administrasi, lapangan pekerjaan, hingga persoalan sosial dan kebencanaan.

Maka kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai menjelaskan mengapa masalah terjadi. Kita membutuhkan pemimpin yang bertanya:

“Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelesaikannya?”

Di sinilah pentingnya keberanian. Ada keputusan yang tidak populer, tetapi benar. Ada kepentingan kelompok yang harus ditolak demi kepentingan masyarakat luas. Ada persoalan yang membutuhkan tindakan cepat, bukan rapat yang berulang-ulang tanpa hasil.

Tentu, pemimpin tidak mungkin menyelesaikan semua persoalan sendirian. Ia membutuhkan birokrasi, organisasi, masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya. Namun pemimpinlah yang menentukan arah, membangun sinergi, menggerakkan sumber daya, dan memastikan solusi benar-benar berjalan.

Kepemimpinan pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi seseorang duduk di kursi kekuasaan, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keberadaannya.

Karena itu, baik dalam pemerintahan maupun organisasi, mari kita membangun budaya kepemimpinan yang lebih sehat. Jangan memilih atau mempertahankan pemimpin hanya karena kedekatan, popularitas, transaksi kepentingan, atau sekadar pencitraan.

Kita membutuhkan pemimpin yang berintegritas, berkapasitas, berani, adil, peduli, cerdas, cepat bertindak, dan mampu memberikan solusi.

Sebab jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah ujian. Dan setiap keputusan seorang pemimpin pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban—bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT.

Kita tidak membutuhkan pemimpin pajangan. Kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar memimpin.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.