Menjaga Marwah Dakwah di Tengah Riuhnya Panggung

oleh

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (S1, 2000), Prodi Pendidikan Agama Islam PPs IAIN Takengon (S2, 2023), Wakil Ketua PCNU Aceh Tengah 2026-2031, Ketua Dewan Pengawas Dayah Al-Huda Jagong Jeget Aceh Tengah, serta Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Dakwah hari ini hidup di tengah perubahan zaman yang sangat cepat. Mimbar tidak lagi hanya berada di masjid, meunasah, dayah, atau majelis pengajian. Ia telah berpindah ke berbagai ruang publik, panggung terbuka, televisi, YouTube, TikTok, Facebook, dan berbagai platform media sosial.

Perubahan itu tentu membawa peluang besar. Pesan agama dapat menjangkau jamaah yang jauh lebih luas. Seorang dai yang berbicara di sebuah masjid di pelosok daerah, misalnya, dapat didengar oleh ribuan bahkan jutaan orang melalui potongan video yang beredar di media sosial.

Namun, di balik peluang itu terdapat tantangan yang tidak sederhana. Ketika dakwah bertemu dengan budaya popularitas, algoritma media sosial, selera jamaah, dan tuntutan hiburan, ada satu hal yang tidak boleh hilang: hikmah.

Dakwah bukan sekadar bagaimana membuat orang datang, tertawa, bertepuk tangan, tersentuh, atau menjadikan sebuah ceramah viral. Dakwah adalah amanah untuk mengajak manusia menuju kebaikan, ilmu, ketakwaan, akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT.

๐๐จ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ซ๐ข๐ญ๐š๐ฌ ๐๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐”๐ค๐ฎ๐ซ๐š๐ง ๐“๐ฎ๐ง๐ ๐ ๐š๐ฅ

Kita tidak perlu memusuhi popularitas. Seorang dai yang populer tidak otomatis dangkal, sebagaimana dai yang tidak populer tidak otomatis lebih berilmu.

Popularitas dapat menjadi kekuatan dakwah apabila berjalan bersama ilmu, akhlak, keteladanan, dan tanggung jawab. Persoalan muncul ketika popularitas berubah menjadi tujuan utama.

Ketika keberhasilan dakwah mulai diukur dari banyaknya undangan, jumlah jamaah, ramainya tepuk tangan, banyaknya penonton, atau viralnya potongan ceramah, kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana: setelah jamaah pulang, apa yang berubah?

Apakah ilmunya bertambah? Apakah akhlaknya membaik? Apakah hubungannya dengan keluarga dan sesama semakin baik? Apakah kecintaannya kepada Allah SWT semakin kuat?

Atau jamaah hanya pulang membawa emosi, kemarahan, bahkan kebencian kepada kelompok atau pihak tertentu? Dakwah semestinya tidak berhenti pada riuhnya panggung. Ukuran yang lebih penting justru terlihat setelah panggung selesai.

Sebab suara mikrofon akan berhenti. Lampu panggung akan dipadamkan. Jamaah akan pulang ke rumah masing-masing. Yang tersisa adalah pesan yang menetap dalam pikiran dan hati. Di situlah sesungguhnya dakwah diuji.

๐“๐ž๐ ๐š๐ฌ ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐‡๐š๐ซ๐ฎ๐ฌ ๐Š๐š๐ฌ๐š๐ซ

Dai tentu tidak harus diam ketika melihat ketidakadilan, kekeliruan, atau persoalan sosial yang membutuhkan perhatian. Islam mengajarkan amar makruf nahi mungkar. Dakwah juga memiliki dimensi sosial: mengingatkan, meluruskan, dan membela nilai-nilai kebenaran.

Namun, keberanian menyampaikan kritik harus berjalan bersama ilmu, data, keadilan, dan adab. Kritik yang lahir dari kepedulian berbeda dengan kritik yang lahir dari kebencian. Kritik yang mendidik berbeda dengan cercaan. Kritik yang solutif berbeda dengan ucapan yang sekadar membakar emosi.

Mimbar dakwah jangan berubah menjadi tempat melampiaskan kekecewaan pribadi. Jamaah juga jangan ditempatkan sebagai massa yang sengaja dipancing emosinya.

Dai yang berani bukan selalu dai yang paling keras suaranya atau paling tajam celaannya. Keberanian seorang dai justru terlihat ketika ia mampu menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan keadilan dan adab.

Tegas tidak harus kasar. Kritis tidak harus sinis. Berani tidak harus provokatif. Amar makruf nahi mungkar tidak membutuhkan penghinaan kepada orang lain.

๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐“๐ž๐ซ๐ฃ๐ž๐›๐š๐ค ๐๐ฎ๐๐š๐ฒ๐š ๐’๐จ๐ค ๐“๐š๐ก๐ฎ

Tantangan dakwah lainnya adalah kecenderungan untuk berbicara tentang segala hal. Padahal, tidak semua persoalan harus dijawab oleh seorang dai. Tidak semua pertanyaan harus dipaksakan memiliki jawaban seketika. Persoalan hukum, kesehatan, ekonomi, teknologi, sosial, bahkan persoalan keagamaan yang sangat spesifik terkadang membutuhkan keahlian yang berbeda.

Ada kalanya seorang dai perlu berkata, โ€œSaya belum mengetahui persoalan ini secara mendalam.โ€ Ada pula saatnya mengatakan, โ€œUntuk masalah ini, sebaiknya kita bertanya kepada ahlinya.โ€

Sikap semacam itu bukan kelemahan. Justru di situlah letak kejujuran ilmiah. Jamaah tidak membutuhkan seorang dai yang seolah-olah mengetahui segala sesuatu. Jamaah membutuhkan dai yang jujur terhadap batas ilmunya.

Sebab kesalahan seorang pembicara biasa mungkin berhenti pada dirinya sendiri. Tetapi kekeliruan seorang dai dapat diikuti oleh banyak orang karena ia berbicara membawa otoritas agama.

Karena itu, semakin luas pengaruh seorang dai, semestinya semakin besar pula kehati-hatiannya. Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling tahu.

๐ƒ๐š๐ข ๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐Œ๐ž๐ง๐ฃ๐ข๐ฅ๐š๐ญ, ๐‰๐š๐ฆ๐š๐š๐ก ๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ƒ๐ข๐ฉ๐š๐ง๐œ๐ข๐ง๐ 

Dakwah juga harus terbebas dari budaya menjilat. Dai jangan hanya berani mengkritik yang lemah, tetapi kehilangan suara ketika berhadapan dengan yang kuat. Jangan pula terlalu mudah memberikan pujian kepada pejabat hanya karena sedang berada di atas panggung yang sama.

Dakwah bukan alat mencari kedekatan dengan kekuasaan. Tetapi dakwah juga bukan alat untuk memusuhi kekuasaan. Dai harus berdiri pada posisi moralnya: menyampaikan yang benar dengan cara yang benar.

Jika pemerintah melakukan hal yang baik, sampaikan penghargaan. Jika ada kebijakan yang perlu diperbaiki, sampaikan kritik. Jika ada persoalan masyarakat yang membutuhkan perhatian, sampaikan dengan argumentasi dan solusi. Semuanya dilakukan secara proporsional.

Demikian pula jamaah. Mereka bukan sekadar penonton yang harus dibuat tertawa atau marah. Jamaah adalah umat yang harus dididik agar semakin cerdas dan dewasa.

Jamaah perlu dibimbing untuk membedakan informasi dengan propaganda, kritik dengan hujatan, keberanian dengan provokasi, dan ketegasan dengan kebencian. Dakwah seharusnya mencerdaskan umat, bukan membuat umat kehilangan kejernihan berpikir.

๐ˆ๐ฅ๐ฆ๐ฎ, ๐€๐๐š๐›, ๐๐š๐ง ๐Š๐ž๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐๐š๐ง๐š๐ง

Aceh memiliki warisan dakwah yang panjang. Dayah, meunasah, masjid, dan majelis pengajian telah menjadi ruang pendidikan umat dari generasi ke generasi. Kita memiliki banyak ulama yang tidak hanya dikenal karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena keteladanan dan akhlaknya.

Dari sana kita belajar bahwa dakwah bukan sekadar persoalan apa yang dikatakan, tetapi juga siapa yang mengatakan, bagaimana cara mengatakannya, dan apa dampaknya bagi orang yang mendengarkan.

Ilmu tanpa hikmah dapat terasa kering. Retorika tanpa ilmu dapat menyesatkan. Keberanian tanpa adab dapat berubah menjadi kekasaran. Popularitas tanpa integritas dapat menjadi jebakan.

Dan kritik tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi provokasi. Karena itu, seorang dai idealnya tidak hanya bertanya, โ€œApa yang akan saya sampaikan?โ€

Ia juga perlu bertanya: Mengapa saya menyampaikannya? Bagaimana cara menyampaikannya? Dan apa akibatnya bagi jamaah?

Pertanyaan terakhir sangat penting. Sebab dakwah bukan hanya tentang pesan yang keluar dari mulut seorang dai, tetapi juga tentang bekas yang ditinggalkannya di hati jamaah.

๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ฆ๐›๐š๐ฅ๐ข๐ค๐š๐ง ๐ƒ๐š๐ค๐ฐ๐š๐ก ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐Š๐ก๐ข๐ญ๐ญ๐š๐ก

Yang perlu kita bangun bukan sekadar panggung dakwah yang semakin ramai, tetapi ekosistem dakwah yang semakin sehat. Dai perlu terus belajar dan memperbarui wawasan. Panitia kegiatan keagamaan perlu memahami kebutuhan tema dan karakter jamaah. Lembaga keagamaan perlu memperkuat pembinaan dan peningkatan kompetensi para dai.

Jamaah pun memiliki tanggung jawab untuk belajar memilih, mendengar, dan menyaring materi dakwah dengan lebih kritis. Semua pihak mempunyai peran dalam menjaga marwah dakwah. Kita tidak sedang membutuhkan panggung dakwah yang semakin gaduh. Kita membutuhkan panggung dakwah yang semakin bermutu.

Humor tidak perlu dimatikan. Gaya komunikasi yang menarik tidak perlu dihilangkan. Dai yang populer tidak perlu dipertentangkan dengan dai yang berilmu. Yang perlu dipertemukan adalah popularitas dengan ilmu, retorika dengan substansi, keberanian dengan hikmah, kritik dengan keadilan, serta dakwah dengan keteladanan.

Dakwah bukan perlombaan siapa yang paling banyak penontonnya. Dakwah adalah ikhtiar mengantarkan manusia semakin mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, memperbaiki akhlak, menjaga persaudaraan, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Mimbar boleh tinggi. Mikrofon boleh keras. Jamaah boleh memenuhi lapangan. Video boleh viral. Tetapi jangan sampai semakin besar panggung, semakin kecil ilmu. Jangan sampai semakin ramai jamaah, semakin hilang adab. Dan jangan sampai atas nama dakwah, kita justru kehilangan hikmah.

Sebab dakwah yang baik bukan selalu dakwah yang paling gaduh terdengar, melainkan dakwah yang paling lama meninggalkan kebaikan dalam kehidupan umat.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.