Metode Penggunaan Herbisida dalam Menjaga Kesuburan Tanah Kebun Kopi Arabika

oleh

(Konsep Pengelolaan Perkebunan Kopi Berkelanjutan)

Oleh : Eliyin, S.Hut., M.P. (Dosen Program Studi Pengelolaan Perkebunan Kopi, Universitas Gajah Putih)

Keuntungan dan Kekurangan Penggunaan Herbisida

Gulma merupakan salah satu faktor pengganggu utama dalam budidaya tanaman kopi arabika. Apabila tidak dikendalikan, gulma akan bersaing dengan tanaman kopi dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya matahari, dan ruang tumbuh.

Persaingan tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kopi terhambat, produktivitas menurun, bahkan pada kondisi tertentu dapat mengakibatkan kematian pada tanaman kopi.

Pengendalian gulma dapat dilakukan secara mekanis maupun kimiawi. Pengendalian secara mekanis meliputi pencangkulan, penggaruan, penyiangan, dan pembabatan. Sementara itu, pengendalian secara kimiawi dilakukan menggunakan herbisida ( bahan kimia).

Penggunaan herbisida memberikan banyak keuntungan bagi petani, terutama pada areal perkebunan yang luas. Penggunaan herbisida mampu menghemat biaya tenaga kerja, mempercepat pekerjaan, serta lebih efisien dibandingkan penyiangan manual.

Namun demikian, penggunaan herbisida yang tidak tepat, baik dari segi jenis, dosis, frekuensi maupun cara aplikasinya, dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas tanah dan lingkungan.

Beberapa bahan aktif herbisida dapat meninggalkan residu di dalam tanah, mempengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah, mengganggu keseimbangan unsur hara, serta dalam jangka panjang berpotensi menurunkan kesuburan tanah apabila digunakan secara terus-menerus tanpa disertai pengelolaan tanah yang baik.

Beberapa jenis herbisida yang menurunkan kesuburan tanah :

1. Herbisida berbahan aktif Glifosat

Glifosat merupakan herbisida sistemik yang paling banyak digunakan pada perkebunan kopi.

Penggunaan glifosat secara berulang dalam jangka panjang dapat menurunkan aktivitas beberapa mikroorganisme tanah;
mengganggu perkembangan jamur mikoriza yang membantu penyerapan unsur hara oleh akar kopi; mempengaruhi ketersediaan beberapa unsur hara mikro pada kondisi tertentu; meningkatkan risiko pemadatan tanah apabila tidak diimbangi penambahan bahan organik.

Beberapa merek dagang yang mengandung glifosat antara lain Roundup, Ranger, Noxone, dan Kleenup.

2. Herbisida berbahan aktif Diuron

Diuron termasuk herbisida sistemik yang memiliki persistensi relatif lebih lama dibandingkan beberapa herbisida lainnya.

Penggunaan berulang dapat menyebabkan: residu bertahan lebih lama di dalam tanah; menghambat pertumbuhan gulma dalam waktu cukup panjang; berpotensi mempengaruhi organisme tanah apabila digunakan terus-menerus. Contoh merek dagang antara lain Karmex, Diuron 80 WP, dan Velpar.

3. Herbisida dengan Konsentrasi Bahan Aktif Tinggi

Herbisida dengan dosis aplikasi tinggi atau konsentrasi bahan aktif yang besar berpotensi menyebabkan: stres pada tanaman apabila terkena percikan atau uap semprotan; penurunan aktivitas mikroorganisme tanah; penurunan pH tanah apabila digunakan secara terus-menerus tanpa pemberian dolomit atau pengapuran; terganggunya pertumbuhan akar muda.

4. Herbisida berbahan aktif Metsulfuron Methyl

Metsulfuron merupakan herbisida sistemik dari golongan sulfonylurea yang efektif mengendalikan gulma daun lebar. Apabila digunakan secara berlebihan dapat menyebabkan: pertumbuhan akar tanaman menjadi lambat; residu bertahan lebih lama pada kondisi tanah tertentu, menghambat pertumbuhan tanaman yang sensitif.
Contoh merek dagang antara lain Ally, Nominee, dan Convey.

Beberapa Jenis Herbisida yang Relatif Lebih Ramah terhadap Kesuburan Tanah

1. Glufosinat Amonium

Glufosinat amonium merupakan herbisida kontak yang relatif cepat terdegradasi di lingkungan. Keunggulannya antara lain: residu relatif singkat; tidak bersifat sistemik pada tanaman sasaran; pengaruh terhadap mikroorganisme tanah relatif lebih kecil dibanding beberapa herbisida sistemik apabila digunakan sesuai dosis. Contoh merek dagang: Basta 150 SL dan Finale.

2. Paraquat Diklorida

Paraquat merupakan herbisida kontak yang sangat cepat mengeringkan jaringan gulma. Ketika mengenai tanah, paraquat umumnya akan terikat kuat oleh partikel tanah sehingga mobilitasnya rendah.

Namun demikian, paraquat sangat beracun bagi manusia, sehingga penggunaannya harus mengikuti ketentuan keselamatan kerja secara ketat dan memperhatikan regulasi yang berlaku di masing-masing negara.

3. Herbisida Organik

Herbisida organik dibuat dari bahan-bahan alami seperti: cuka, garam dan sabun cair atau bahan nabati tertentu. Herbisida organik umumnya memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil, meskipun efektivitasnya memang lebih rendah dibandingkan herbisida sintetis.

Metode Penggunaan Herbisida Dalam Mempertahankan Kesuburan Tanah

Agar penggunaan herbisida tidak mempercepat penurunan kesuburan tanah, beberapa prinsip berikut perlu diterapkan.

1. Memilih herbisida yang lebih ramah lingkungan

Utamakan penggunaan herbisida kontak atau herbisida yang memiliki persistensi rendah.

2. Hindari penyemprotan pada daerah perakaran.

Penyemprotan sebaiknya hanya dilakukan pada gulma yang berada di luar zona perakaran aktif, yaitu mulai dari batas luar tajuk tanaman hingga area antarbarisan.

3. Terapkan rotasi pengendalian gulma
Pengendalian gulma dilakukan secara bergantian antara: penyiangan mekanis, pembabatan, penggunaan herbisida. Cara ini mampu menjaga keseimbangan ekosistem tanah.

4. Lakukan perbaikan kesuburan tanah secara berkala

Setiap enam bulan dianjurkan melakukan: pemberian dolomit apabila pH tanah rendah; penambahan pupuk organik;
pemupukan anorganik berdasarkan hasil analisis tanah dan kebutuhan tanaman.

Pemulihan Tanah yang Telah Mengalami Penurunan Kesuburan Tanah.

Tanah yang mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan herbisida berulang umumnya memiliki ciri-ciri: pH tanah rendah (masam); tanah menjadi padat;
kandungan bahan organik rendah; populasi mikroorganisme menurun;
pertumbuhan (fase vegetativel) dan perkembangan (fase generativ) tanaman lambat; produktivitas menurun.

Untuk memulihkan kondisi tersebut dapat dilakukan langkah-langkah berikut.

1. Direkomendasikan dilakukan Analisis kesuburan tanah minimal, meliputi: pH tanah, C-organik, N-total, P tersedia, K tersedia, Ca, Mg, KTK dan tekstur tanah.
2. Pengolahan tanah dengan pencangkulan atau penggaruan sedalam ±20 cm di luar zona perakaran aktif tanaman.
3. Pemberian dolomit kurang lebih sekitar 1 ton/ha, disesuaikan dengan hasil analisis pH tanah.
4. Penambahan bahan organik berupa kompos kulit kopi,
pupuk kandang yang telah matang, biochar sekam padi, kompos limbah pertanian. Aplikasi dilakukan sekitar 2–4 minggu setelah pemberian dolomit.
5. Aplikasi mikroorganisme dengan pemberian bioaktivator seperti EM4 Pertanian yang dicampur molase dapat membantu mempercepat pemulihan populasi mikroorganisme tanah.
6. Pemupukan sesuai kebutuhan atau dilakukan berdasarkan hasil analisis tanah agar unsur hara yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan tanaman.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut sebaiknya dilaksanakan pada awal musim hujan sehingga proses perbaikan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah berlangsung lebih efektif.

Kesimpulan

Herbisida merupakan salah satu teknologi pengendalian gulma yang sangat membantu petani kopi dalam menekan biaya dan meningkatkan efisiensi kerja.

Namun demikian, penggunaan herbisida harus dilakukan secara bijaksana, tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, dan tepat sasaran.

Dalam konsep Pengelolaan Perkebunan Kopi Berkelanjutan, pengendalian gulma tidak hanya bertujuan membersihkan kebun, tetapi juga menjaga kesehatan tanah sebagai modal utama keberlanjutan produksi kopi arabika.

Kombinasi antara penggunaan herbisida yang bijaksana, pengendalian gulma secara mekanis, pemberian dolomit atau pengapuran, penambahan bahan organik dan pemupukan berbasis analisis tanah merupakan strategi terbaik untuk mempertahankan meningkatkan produktivitas kebun kopi dalam jangka panjang. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.