Oleh : Rizkan Abqa*
Dewasa ini kita sangat memahami bahwasanya kehidupan akhirat lebih penting dan lebih banyak manfaatnya bagi seorang Muslim. Sudah kita ketahui pula kehidupan di dunia ini hanya sementara dan kehidupan yang abadi itu di akhirat kelak. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Umur umatku hanya sekitar 60 sampai 70 tahun”.
Rasulullah SAW juga pernah berkata: Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu
Akan tetapi pada kenyataanya, kesadaran dan keyakinan itu tidak mengetuk pintu hati kita bahkan tidak membuat jati diri seseorang itu sadar akan sepenuhnya. Mengapa ini bisa terjadi?
Mungkin dapat kita lihat dan perhatikan, betapa banyak orang yang mengabaikan akhirat, mereka sibuk dan asyik dengan dunia, seolah-olah merasa bahwa akan tinggal selamanya. Mereka lupa, bahwa mereka sedang berjalan menuju akhirat. Lalu tidakah segala peristiwa seperti kematian dan bencana, tidakkah menjadikan pelajaran berharga bagi kita ?
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allah SWT akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan.
Allah SWT juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rezeki yang Allah SWT karuniakan kepadanya. Allah SWT berfirman:
Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid : 20)
Tentunya dalam mensukseskan tujuan hidup yaitu akhirat sangat diperlukan Planning (perencanaan) yang matang, penuh kajian ilmu, disiplin serta memiliki komitmen agar kita tetap pada jalur yang benar sehingga kita tetap Istiqamah dalam menjalankan amal Shaleh Sehari-hari.
Semua kita pasti takut akan kematian, Mengapa ? Karena persiapan yang kurang. Banyak harta dan aset yang akan kita tinggalkan. Banyak keluarga yang menyayangi kita. Tetapi kita lupa bahwa kita ada kontrak dengan Sang Pencipta kita yang ditanda tangani sewaktu di alam ruh dan di alam kandungan ibu kita. Ajal setiap manusia dirahasiakan Allah SWT.
Tidak ada satupun makhluk yang tahu termasuk malaikat pencabut nyawa sekalipun. Namun secara alami kita diberi tahu oleh tubuh kita sendiri.
Diantaranya, rambut mulai memutih, gigi mulai runtuh, ingatan mulai berkurang, banyak makannan yang tidak dapat diterima oleh tubuh. selera makan berkurang, mata kabur dan banyak tanda-tanda yang Allah sampaikan kepada hambanya.
Persiapan menuju akhirat yang pantas kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Caranya? Adalah menjaga iman dan amal shaleh. Iman mesti dijaga supaya tidak mengakui tuhan selain Allah SWT dan mengakui Muhammad SAW utusan Allah SWT.
Adapun beberapa trik mengapai kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat Adalah:
Taqwa, takwa kepada Allah SWT berarti menjalankan perintah-Nya, melaksanakan kewajiban, serta menghindari larangan-Nya agar terjaga dari hukuman-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.
Artinya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.
Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah (Q.S. Luqman :33)
Allah SWT juga menyebutkan ciri-ciri orang yang bertaqwa :
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (Q.S.Al-A’raf :201)
Amal Saleh yang Istikamah, Amal merupakan jembatan agar selalu dekat dengan Allah. Melalui amal seorang hamba dapat meraih kemuliaan dan kedudukan yang tinggi disisi Allah. Salah satu contoh yaitu, Shalat Berjamaah, Berzikir, Membaca Al-Qur’an, bersedekah dan lainnya. Hal itu disertai dengan kesungguhan dan istiqamah dalam melaksanakan amal-amal tersebut.
Amal saleh juga dikaitkan dengan amal jariyah, yaitu perbuatan yang pahalanya akan terus mengalir meski kita telah meninggal dunia. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Artinya :”Apabila anak Adam (manusia) telah meninggal, maka terputuslah darinya semua pahala amal kebaikannya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).
Berbekal Ilmu, Adalah usaha sadar menyiapkan diri dengan pemahaman agama dan pengetahuan yang benar, agar menjadi panduan hidup di dunia, melandasi setiap amal ibadah, serta menyelamatkan diri di akhirat.
Karena Amal tanpa ilmu tidak akan diterima dan ibadah menjadi tidak sah atau keliru. Hakikat ilmu juga sebagai Cahaya kehidupan yang menuntun hati, memperbaiki akhlak, dan membedakan antara yang benar (haq) dan salah (bathil).
Sabar dan Syukur. Merupakan dua kunci utama keimanan yang saling melengkapi: sabar dalam menghadapi ujian, dan syukur dalam menerima nikmat. Kedua sifat ini membuat hati menjadi tenang dan hidup penuh keberkahan.
Sabar bukanlah tanda kelemahan, bukan pula bentuk kepasrahan tanpa daya. Sabar adalah seni ketahanan jiwa, kekuatan untuk tetap teguh di tengah badai, ketenangan yang lahir dari keyakinan bahwa di balik kepedihan, ada hikmah, di balik ujian, ada kemuliaan; dan di balik air mata, ada cahaya yang menanti di ujung jalan. Allah SWT. berfirman:
Artinya : ….. Dan bersabarlah! Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Jika sabar adalah benteng ketahanan, maka syukur adalah mata air yang menyegarkan. Syukur bukan hanya tentang menerima nikmat, tetapi juga kemampuan melihat cahaya di tengah kegelapan, menemukan harapan di antara reruntuhan, dan memahami bahwa setiap detik kehidupan adalah anugerah yang tak ternilai.
Syukur bukan sekadar ungkapan lisan, akan tetapi sebuah cara pandang, sebuah sikap hidup, sebuah energi yang menghidupkan jiwa. Syukur mengajarkan bahwa bahkan di saat tersulit pun, selalu ada sesuatu hal yang patut disyukuri, seperti napas yang masih berhembus, langkah kaki yang masih mampu digerkakkan, senyum yang masih bisa diberikan, dan doa yang masih bisa dilantunkan.
Wallahu a’lam bish-shawabi





