Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA.Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah. Salah satu Penulis Buku Aspek Manusia dalam Bencana di Aceh)
Aceh adalah daerah yang akrab dengan bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga berbagai bencana hidrometeorologi lainnya telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Aceh. Namun, di balik setiap bencana, sesungguhnya ada kisah yang sering luput dari perhatian: kisah tentang manusia.
Itulah kesan yang saya tangkap saat mengikuti bedah buku Aspek Manusia dalam Bencana di Aceh yang diselenggarakan oleh IAIN Takengon bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tengah pada 17 Juni 2026. Kegiatan ini bukan sekadar membedah sebuah buku, melainkan mengajak kita melihat bencana dari sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan: sisi kemanusiaan.
Selama ini, ketika berbicara tentang bencana, perhatian kita sering tertuju pada angka. Berapa korban meninggal, berapa rumah rusak, berapa kerugian yang ditimbulkan. Semua itu memang penting. Namun ada sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana manusia menghadapi, merasakan, dan bangkit dari peristiwa tersebut.
Buku ini mengingatkan kita bahwa di balik tenda pengungsian ada harapan yang sedang diperjuangkan. Di balik bantuan yang disalurkan ada solidaritas yang tumbuh. Di balik air mata para penyintas ada keteguhan hati yang menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan hidup.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa aspek manusia perlu dibahas dalam kebencanaan?
Karena bencana pada hakikatnya bukan hanya persoalan alam, melainkan juga persoalan manusia. Ketika lingkungan rusak akibat ulah manusia, risiko bencana meningkat. Ketika masyarakat tidak memiliki kesiapsiagaan, dampak bencana menjadi lebih besar. Sebaliknya, ketika masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, dan solidaritas, maka daya tahan terhadap bencana akan semakin kuat.
Di sinilah pentingnya literasi kebencanaan. Literasi bukan sekadar mengetahui definisi bencana, tetapi memahami bagaimana cara mencegah risiko, mengurangi dampak, dan membangun ketangguhan bersama. Literasi juga berarti menanamkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan masyarakat yang lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.
Kehadiran para siswa SMP dan SMA dalam kegiatan bedah buku ini menjadi pemandangan yang menggembirakan. Mereka bukan hanya peserta, tetapi generasi yang kelak akan menjadi garda terdepan dalam membangun budaya sadar bencana. Kesadaran seperti ini tidak bisa dibangun secara instan. Ia harus ditanamkan melalui pendidikan, dialog, dan pembiasaan sejak dini.
Yang menarik, buku ini lahir dari kolaborasi banyak penulis dengan latar belakang yang berbeda. Ada akademisi, peneliti, praktisi, relawan, hingga tokoh masyarakat. Ini menunjukkan bahwa urusan kebencanaan tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama, gotong royong, dan sinergi berbagai elemen masyarakat.
Penyerahan buku kepada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Aceh Tengah di akhir kegiatan juga memiliki makna simbolik yang mendalam. Buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dicetak, melainkan jembatan pengetahuan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kesiapsiagaan masa depan.
Ketangguhan sebuah daerah tidak hanya diukur dari kuatnya infrastruktur yang dimiliki, tetapi juga dari kuatnya nilai-nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakatnya. Bencana mungkin tidak dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, dan solidaritas.
Karena itu, merawat kemanusiaan sesungguhnya adalah bagian penting dari membangun ketangguhan. Dan buku Aspek Manusia dalam Bencana di Aceh mengingatkan kita bahwa di balik setiap bencana, selalu ada pelajaran tentang kemanusiaan yang patut diwariskan kepada generasi berikutnya.
Takengon, 17 Juni 2026.





