Oleh : Radensyah, S.Pd (Wen Simahgoda)
Konten kreator
Dahsyatnya bencana tidak akan menghilangkan perilaku buruk manusia di suatu negeri, jika manusia itu masih presisi dalam ketidaksadaran. Belum kering tanah-tanah yang menghantam pemukiman, rusaknya jembatan, kebun dan sarana lainnya, akibat bencana, itu semua hanya menjadi tontonan instan musiman.
Faktanya, kasus seperti Pembunuhan, perjudian, korupsi, perbuatan asusila, pelanggaran qanun tidak mengalami penurunan, baik dikehidupan sehari-hari masyarakat maupun dalam tubuh birokrasi pemerintahan.
Tsunami, gempa di Gayo, bencana hidrometeorologi dan bencana lain bisa jadi hanya catatan saku untuk diketahui, tidak menjadi refleksi kedalam hati.
Yang menjadi kebutuhan manusia, baik indevidu maupun sosial sekarang adalah adalah aktualisasi pendidikan yang berakar dan punya power yang kuat menyadarkan manusia, ekosistem pendidikan sudah saatnya hijrah dari urusan otak atau intelektual oriented saja.
Artinya, pengaturan default pendidikan hendaknya mengikat manusia itu dengan Agama secara totalitas. Jika memang kita beragama islam, seharusnya nyawa, gen dan darah pendidikan itu adalah ajaran islam itu sendiri.
Terkait hal ini, penulis beberapa kali mendiskusikan ini dengan Dr. Joni MN, M.Pd, B.I. (ketika beliau masih di Aceh Tengah, maupun ketika sudah pindah ke Jawa Tengah). Salah satu poin penting yang penulis analisis adalah ungkapan Beliau yakni “pendidiken ni ike male i diskusinen, tujuen pendidikan ni mulo kite pehemi, sana tujuen ne”.
Sebagai alumni tarbiyah, penulis mencoba menganalisis apa yang Beliau sampaikan.
Setidaknya ada dua kesimpulan penting menurut penulis;
Pertama; tujuan Pendidikan serta keadaan dilapangan
Ada ratusan referensi segar saat ini yang menyatakan bahwa pendidikan indonesia saat ini cederung kepada industri daripada mendidik jiwa. Lembaga pendidikan lebih kepada menciptakan pekerja, padahal ada sisi spiritual peserta didik yang juga harus ditumbuhkan disamping tuntutan skill.
Ketidakseriusan memahami tujuan pendidian akan berakibat fatal. Saat ini paradigma barat masih menyelimuti tujuan pendidikan itu sendiri, akhirnya roda pendidikan itu berjalan ala barat.
Misal, masih sakralnya nilai diatas kertas, asesmen terhadap manusia (makhluk berjiwa) masih berorientasi pada digit angka (kuantitatif).
Masih adanya konsep-konsep dan teori pendidikan menjadi pegangan guru dan dosen yang itu adalah produk intelektual barat, padahal ada banyak konsep dan teori didalam tubuh agama islam itu sendiri, ini tidak digali dan tidak dikembangkan.
Ketika tujuan pendidikan tidak dipahami secara disiplin dan benar, maka turunannya akan rentan melenceng. Dalam hal kemampuan penalaran siswa misalnya, Di era artificial intelegence (AI) ini, ada banyak pemikir yang menyetujui bahwa proses belajar mengajar harus melibatkan AI dan alat modern yag canggih.
Padahal menggunakan alat-alat manual seperti buku catatan dan pulpen masih sangat diperlukan untuk menumbuhkan daya belajar dan kemampuan bernalar siswa/mahasiswa.
Jika dunia pendidikan tidak selektif, penggunaan alat-alat canggih hanya akan menurunkan kemampuan belajar siswa/mahasiswa, yang terjadi bahkan sebaliknya, copy paste, plagiat, tugas dan proses belajar semua serba instan dari chat gpt, bukan dari buku buku yang ada di perpustakaan.
Informasi terkini, Finlandia saat ini sudah beralih ke alat-alat belajar manual seperti buku dan pulpen dan membawa buku buku bacaan dan buku paket. Tidak lagi berhubungan dengan layar monitor dan yang semacamnya.
Kedua; pedidikan kesadaran ( insaf )
Kesadaran atau keinsafan seseorang tidak dapat dibangun dengan gaya pendidikan yang mengedepankan kulit saja. Artinya, dibutuhkan pendidikan yang tertanam kedalam diri, bukan yang hanya melekat kepada diri.
Pendidikan harus mampu memicu ilmu dan amal seseorang sebagai suatu komponen yang dengan adanya itu perangai dan perilaku manusia itu menjadi lebih baik sembari menyongsong usia muda menuju tua.
Gelar akademik berlimpah, piala berjejer, fasih bicara didepan orang, punya jabatan, itu semua adalah masih berupa “melekat kepada diri”. Sementara itu, ada kesempatan namun tidak mencuri, didepan dan dibelakang orang mengatakan hal yang sama, berjanji ditepati, diberi jabatan amanah, inilah yang disebut pendidikan yang tertanam kedalam diri.
Manusia bukan robot. Untuk itu, segala bentuk paham tentang ‘otak adalah segalanya” harus diklarifikasi dan diperjelas. Manusia memiliki perasaan, jiwa dan memiliki fitrah.
Pendidikan dalam agama islam tidak hanya membicarakan akal dalam paket kecil, tetapi islam juga sangat menekankan keadaan niat, isi hati dan ahlak seseorang. Agama islam sangat menekankan perlunya generasi muda memiliki skill, namun skill itu harus mendekatkan generasi muda itu kepada Tuhan, bukan semakin jauh dari Tuhan. []





