Oleh : Radensyah, S.Pd/Wen Simahgoda (Konten kreator dan peneliti dunia pendidikan)
Akhlak tidak hanya estetika, tetapi adalah kondisi dan indikator spiritual. Manusia modern sejatinya telah maju secara fisik, namun dari segi spiritual keadaanya sangat memprihatinkan. Banyak indikator mendukung hal ini.
Faktanya, kemerosotan akhlak sebenarnya tidak hanya terjadi di sekolah dan pada generasi muda saja, tapi terjadi disemua lini kehidupan, yakni di masyarakat, media sosial, tatanan birokrasi bahkan sampai juga ke lembaga-lembaga “suci”.
Seperti korupsi, suap, money politik dan lain-lain. Itu semua potret segar kemerosotan akhlak secara jujur.
Sebagai masyarakat penganut agama islam, persfektif dasar dalam melihat kemerosotan akhlak tentu harus merujuk kepada informasi autentik Ilahiah. Filsuf dunia timur dan ulama tasawwuf telah membedah dan memetakan pendidikan akhlak yang murni.
Makna murni disini adalah akhlak erat kaitanya dan menyentuh sisi spiritual terdalam, seperti keadaan batin dan perasaan seseorang.
Dalam mendidik, para tasawwuf terdahulu banyak menyentuh kejiwaan, empati, perasaan, dan dalam mendidik banyak menggunakan perumpamaan. Disamping itu, terus mengembangkan nalar muridnya.
Keutamaan pendidikan akhlak disini, bahkan sampai pada kausalitas akhlak buruk dan baik dipengaruhi oleh faktor sumber makanan apakah dari sumber yang halal atau yang haram. konsep dan teori sedalam ini jarang kita temui pada toeri pendidikan akhlak modern.
Teori sebab akibat modern dari barat banyak yang tidak bisa menjawab fenomena ini. jadi sebenarnya, panduan operasional tentang pendidikan akhlak sudah tersedia didalam kitab-kitab ulama terdahulu dan literasi sejarah yang mereka tinggalkan.
Kerusakan akhlak tidak dapat diperbaiki dan tidak akan dapat di minimalisir jika hanya di sikapi dan ditindak secara normatif. Perlu diimbangi dengan penyadaran berkelanjutan.
Ujaran kebencian, cacian dan laknat hanya bersifat sementara dan hanya menyasar akibatnya bukan sebabnya.
Inilah bagian rumit, jika tidak jeli kita akan terjebak pada fakta-fakta akibat, dan kehilangan fakta-fakta sebab. Dalam dunia pendidikan, untuk mewujudkan tindakan solutif, perlu melakukan upaya kausal.
Dengan merefer kepada sebab, kita bisa meperbaiki, memetakan, dan merefleksi atas apa yang selama ini telah dilakukan. Untuk solusi jangka pendek, penegakkan norma dan efek jera tetap kita butuhkan, namun untuk solusi jangka panjang, upaya instan dan bersifat musiman bukanlah pilihan yang tepat.
Penumbuhan karater dan akhlak mulia terikat erat dengan waktu. toeri dan konsep “long life education” banyak memperdalami itu. Dalam bebrapa literasi pendidikan, dibutuhkan waktu 10 tahun untuk melihat hasil perubahan generasi. bahkan, bisa lebih lama lagi seperti peribahasa kuno tiongkok, yakni “Butuh waktu 10 tahun untuk menanam pohon tumbuh ideal, namun butuh waktu 100 tahun untuk mendidik manusia.”
Buah dari ilmu pengetahun salah satunya adalah menjadi sadar. Penyadaran agar manusia menjadi sadar adalah goal yang harus dituju oleh dunia pendidikan seperti lembaga sekolah, perguruan tinggi dan majelis ilmu.
Menumbuhkan akhlakul karimah disetiap lini, baik itu dirumah, kelaurga, disekolah, dan di tatanan birokrasi tidak dapat terwujud hanya dengan kecendurangan kepada norma, qanun, undang undang dan pertaturan. tapi harus disertai dengan penyadaran. Ini harus dilakukan secara istiqomah.
Intinya sekarang, apakah dunia pendidikan dan masyarakat islam mau lebih komitmen, bersabar dengan proses durasi waktu yang panjang melakukan penyadaran secara terus menerus. jika ini kita lakukan dan membuat regulasinya, mudah mudahan 10 tahun, 20 tahun, atau 30 tahun yang akan datang, akan lahir generasi yang berakhlak mulia. []





