Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado Bagian 10: Sayangi Anak Yatim

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Ada yang keliru dalam cara kita melihat anak yatim. Ketika seorang anak yatim berbuat nakal, yang terlihat justru kenakalannya. Kita lupa melihat apa yang ada di balik perilaku itu: kesepian, kehilangan, dan kebutuhan akan kasih sayang.

Allah SWT telah mengingatkan:“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha: 9)

Dan dalam QS. Al-Ma’un ayat 1–2, Allah mengecam orang yang menghardik anak yatim. Ayat ini semestinya menjadi cermin bagi setiap pemimpin.

Bupati bukan sekadar orang yang duduk di kursi tertinggi pemerintahan kabupaten. Bupati adalah pemimpin seluruh rakyat, termasuk mereka yang tidak punya kekuatan untuk membela dirinya sendiri. Termasuk anak yatim.

Kalau seorang anak yatim agak nakal, tugas seorang pemimpin bukan mempermalukannya. Tugasnya adalah mencari tahu mengapa anak itu berbuat demikian.

Mungkin ia kehilangan ayah. Mungkin ia kehilangan ibu. Mungkin di rumahnya tidak ada lagi suara yang menegur dengan kasih sayang.

Kenakalan anak bisa jadi adalah jeritan yang tidak mampu diterjemahkan menjadi kata-kata.

Lalu apa yang dilakukan seorang pemimpin? Apakah kenakalan itu perlu diviralkan? Apakah kesalahan seorang anak harus dipertontonkan kepada publik?

Kalau benar seorang bupati ikut memviralkan kenakalan anak yatim, maka pertanyaannya sederhana: di mana empati seorang pemimpin?

Bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Anak tetap harus dididik. Tetapi ada perbedaan besar antara mendidik anak dengan mempermalukan anak.

Kesalahan bisa diperbaiki. Kenakalan bisa dibina. Tetapi harga diri anak jangan dihancurkan.

Sebab seorang anak yang dipermalukan di depan banyak orang mungkin tidak akan melupakan pengalaman itu sepanjang hidupnya.

Haili Yoga harus ingat, kekuasaan memberikan seseorang kemampuan untuk menghukum, tetapi kepemimpinan menuntut kebijaksanaan untuk memilih kapan harus merangkul.

Kalau seorang anak yatim melakukan kesalahan, panggil dia. Dudukkan. Dengarkan. Nasihati. Kalau perlu, tegur dengan keras.Tetapi setelah itu, peluk dia sebagai anak negeri.

Bukankah pemimpin seharusnya menjadi pengganti orang tua bagi rakyat yang kehilangan tempat berlindung?

Jangan sampai seorang anak yatim sudah kehilangan kasih sayang orang tuanya, kemudian kehilangan pula rasa aman dari pemimpinnya.

Bupati jangan menjadi kamera yang merekam kenakalan anak. Jadilah tangan yang mengangkatnya ketika ia jatuh.

Haili Yoga, inilah saatnya belajar dari Awan Prado: bahwa memimpin bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling mampu menjaga martabat manusia.

Karena ukuran seorang pemimpin bukan ketika ia berdiri di hadapan orang-orang penting.

Ukuran seorang pemimpin justru terlihat ketika ia berhadapan dengan anak kecil yang tidak punya siapa-siapa.

Jika anak itu nakal, bina. Jika ia salah, arahkan. Jika ia terluka, obati. Jika ia kehilangan orang tua, jadilah bagian dari keluarga besarnya.

Jangan jadikan kenakalannya sebagai tontonan.

Sayangi anak yatim. Sebab bisa jadi, doa merekalah yang kelak menjadi sebab seorang pemimpin diselamatkan Allah atau sebaliknya, menjadi saksi atas bagaimana mereka diperlakukan.

(Mendale, Agustus 28, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.