Haili Yoga Belajarlah dari Awan Prado, Bagian 13: Dark Psychology Bupati

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Ada pemimpin yang mengira suara paling keras adalah tanda paling berkuasa. Kalau rakyat bertanya, dibentak. Kalau dikritik, diserang. Kalau berbeda pendapat, dicap tidak tahu diri.

Barangkali inilah bentuk dark psychology paling sederhana dalam politik lokal: membuat orang takut agar kekuasaan terlihat kuat.

Padahal, kekuasaan yang sehat tidak membutuhkan ketakutan sebagai pengeras suara.

Bupati bukan mandor yang harus membuat seluruh kampung diam ketika ia bicara. Bupati adalah pemegang mandat rakyat. Maka kritik seharusnya dibaca sebagai cermin, bukan dianggap batu yang harus dilempar balik.

Masalahnya, ego kekuasaan kadang punya penyakit unik: semakin tinggi kursi, semakin mudah tersinggung. Kritik kecil terasa seperti penghinaan. Pertanyaan sederhana dianggap pembangkangan. Perbedaan pendapat dibaca sebagai permusuhan.

Lalu keluarlah jurus klasik: marah, membentak, menyalahkan, kemudian merasa menang, bukan saja kepada rakyat, tapi lebih kepada bawahannya langsung.

Padahal, menang debat tidak otomatis membuat jalan rakyat mulus. Suara keras tidak otomatis memperbaiki sekolah. Hujatan tidak membuat pelayanan publik menjadi lebih baik. Dan tepuk tangan para pengikut tidak selalu berarti rakyat sedang bahagia.

Di sinilah Haili Yoga perlu belajar dari Awan Prado.

Bukan belajar bagaimana memenangkan pertengkaran, tetapi bagaimana membaca tanda-tanda ketika kekuasaan mulai terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.

Awan Prado mengajarkan satu hal sederhana: jangan sampai kursi membuat seseorang lupa bahwa di bawah kursi itu ada rakyat yang setiap hari membayar harga dari setiap keputusan pemerintah.

Sebab pemimpin yang alergi kritik akhirnya hanya akan dikelilingi orang-orang yang pandai berkata, “Siap, Pak!”

Semua mengangguk. Semua tersenyum. Semua bilang bagus. Sampai suatu hari, kenyataan datang mengetuk pintu dengan cara yang tidak bisa disensor.

Maka jangan salah mengira diam sebagai dukungan. Bisa jadi rakyat sedang malas berdebat.

Dan jangan pula mengira rasa takut sebagai wibawa. Wibawa membuat orang hormat; ketakutan hanya membuat orang pura-pura patuh.

Dalam Islam, semakin tinggi kedudukan, semakin berat pertanggungjawaban. Jabatan bukan mahkota, melainkan amanah. Suara yang keras tidak akan lebih tinggi daripada suara hati nurani di hadapan Allah.

Gunung tidak perlu berteriak bahwa dirinya tinggi. Begitu pula bupati. Kalau memang tinggi, biarlah rakyat yang mengatakannya.

Sebab jabatan memiliki masa kedaluwarsa. Kekuasaan berganti. Kursi berpindah.

Tetapi jejak kepemimpinan akan tinggal lama: apakah rakyat mengenang seorang bupati karena keberaniannya mendengar, atau karena kepiawaiannya membuat orang takut berbicara?

(Mendale, Oktober 5, 2026)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.