Membaca untuk Orientasi Hari Esok

oleh

Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Membaca adalah suatu usaha atau upaya untuk menemukan atau mendapatkan informasi, baik informasi tentang masa lalu maupun informasi pada masa sekarang. Membaca diperintahkan atau merupakan suatu kewajiban bagi semua umat manusia tanpa mengenal agama, bangsa, dan usia.

Karena itu, membaca merupakan suatu kewajiban setiap orang. Allah memerintahkan manusia melalui Nabi untuk membaca. Kemudian, sejak masa awal, semenjak masa Nabi Adam, manusia sudah disuruh membaca.

Kendati membaca tersebut bukanlah membaca dalam makna membaca sesuatu yang tertulis, membaca itu sendiri dapat dilakukan dengan melihat sesuatu, mendengar sesuatu, atau juga bisa dengan meraba.

Karena dengan kegiatan-kegiatan tersebut kita mendapatkan suatu informasi, baik informasi tentang masa yang telah jauh terjadi, kejadian yang baru terjadi, maupun kejadian yang ada sekarang, bahkan informasi tentang diri kita sendiri.

Dengan banyak membaca, tentu manusia akan banyak mendapatkan informasi karena informasi yang tersedia melebihi kebutuhan manusia itu sendiri. Informasi itu tidak hanya khusus didapatkan dari individu atau masyarakat, tetapi informasi itu sendiri dapat ditemukan dari fenomena alam atau dari alam itu sendiri.

Bahkan, informasi tentang Allah merupakan suatu kewajiban yang harus diketahui oleh manusia itu sendiri karena hakikat keberadaan Allah juga memerlukan sebuah pengetahuan, sehingga manusia mengenal Sang Khalik yang menciptakan manusia dan seluruh alam beserta isinya.

Karena membaca, kita banyak mendapatkan informasi. Dengan banyaknya informasi yang kita dapat, tentu kita mempunyai kemampuan untuk melihat apa yang sudah terjadi dalam kehidupan manusia dan apa yang terjadi pada alam itu sendiri, sehingga manusia mampu memprediksi kejadian-kejadian yang akan terjadi.

Kendati kejadian-kejadian itu belum atau tidak pernah terjadi, kemampuan atau pengalaman yang didapat berdasarkan bacaan atau temuan dari hasil bacaan tersebut berasal dari banyaknya himpunan informasi yang disajikan dalam setiap bacaan.

Membaca pikiran-pikiran para ilmuwan, agama, tokoh masyarakat, serta apa yang terjadi di sekitar kita, maka kita bisa mengetahui apa sebenarnya yang akan terjadi nanti pada suatu saat.

Hal ini bisa kita ukur dengan pengalaman-pengalaman yang kita alami karena biasanya sebuah kejadian hampir kebanyakan mempunyai sebab. Dari pengalaman itulah orang biasanya mengetahui akibat dari sebuah sebab, sehingga dia bisa mengatakan bahwa apabila seseorang melakukan suatu sebab, biasanya akan terjadi suatu akibat.

Prediksi akibat yang diduga itu biasanya tidak jauh dari apa yang pernah terjadi. Pola pemikiran ini merupakan sebuah pola yang diajarkan di dalam metode pemikiran yang disebut dengan pemikiran yang kedua, di mana pemikiran yang pertama merupakan sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan dugaan atau kemungkinan yang akan terjadi merupakan sesuatu yang kemungkinan akan terjadi dan menjadi pemikiran yang kedua.

Selanjutnya, pemikiran yang kedua ini juga menjadi pemikiran yang pertama untuk menduga atau memprediksi apa yang terjadi. Apabila sebab dan akibat dari sesuatu yang pernah terjadi berdasarkan pengalaman itu berulang, manusia akan mengatakan kemungkinan hal yang sama akan terjadi bila hal itu kembali berulang.

Juga berdasarkan pemahaman-pemahaman yang kita alami dari pemahaman para ulama, di mana mereka melihat bila ada sebuah ajaran atau pola pikir, dari pola pikir itu kita bisa memahami apakah nanti suatu saat manusia atau masyarakat itu akan berubah, atau masyarakat itu akan tetap stagnan pada posisi sebagaimana awalnya.

Hal ini karena sistem atau pola pikir yang dianut bukanlah merupakan suatu pola pikir yang bersifat berhaluan ke depan, tetapi tetap dalam keadaan-keadaan sediakala.

Banyak orang mengatakan bahwa ketika seseorang hanya berpahamkan tentang bahasa, maka ia akan terbuai atau terlena dalam pemahaman kebahasaan tanpa ia jauh berbicara pada maksud dari bahasa itu sendiri.

Bahkan, hal ini merupakan satu pola yang bisa kita ambil dari manfaat membaca. Sebagai seorang Islam, kita diajarkan dalam agama kita bahwa yang pertama sekali diperintahkan oleh Allah adalah membaca. Namun, kita juga tidak terpaku dengan perintah membaca. Allah menambahkan bahwasanya perintah membaca itu adalah untuk membaca nama Allah, untuk membaca kekuasaan Allah dalam menciptakan alam ini sendiri.

Jadi, tidak hanya terpaku bahwa arti dari bacaan yang kita baca itu adalah sebuah hafalan tentang lafaz, tetapi juga memahami apa yang ada di balik ungkapan atau di balik makna yang dikehendaki oleh yang memerintahkan kita untuk membaca.

Bagaimana pola diajarkan dalam membaca? Saya teringat sebuah cerita atau sebuah pernyataan dari seorang dosen yang dulu mengajarkan saya ketika kuliah.

Beliau mengatakan bahwa dia pernah menjadi guru atau tenaga pengajar di negara tetangga kita, yaitu Malaysia. Beliau mengajar dalam hitungan tahun yang cukup lama. Beliau mengajarkan mata pelajaran agama dan lain-lain pada saat itu.

Kemudian, mereka yang mengajar di Malaysia kembali ke Aceh sebagai tempat mengabdi, asal mereka. Lalu, mereka juga mengajarkan orang-orang Aceh untuk belajar agama dan ilmu pengetahuan yang lain.

Artinya, bisa kita pahami bahwa Malaysia merupakan tempat di mana guru-guru yang ada di Aceh mengabdi dan mengajarkan ilmu. Sama halnya dengan di negara asal mereka, mereka juga sebagai guru dan mengajarkan ilmu-ilmu kepada masyarakat Aceh.

Namun, dalam perkembangan kekinian, kita bisa melihat bahwa seharusnya Aceh yang memiliki guru yang dikirim ke luar daerah seharusnya mempunyai atau lebih mengarah kepada kemajuan-kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Tetapi, kenyataannya berbeda. Kita melihat sekarang negara Malaysia lebih maju dari Aceh itu sendiri.

Dari sini bisa kita pahami bagaimana mereka yang diajarkan oleh guru yang sama lalu mengembangkan metode pemahaman dari apa yang mereka baca. Orientasi yang dikembangkan oleh negara Malaysia adalah mengarah kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berimbas kepada kemajuan perekonomian negara dan masyarakat.

Sedangkan Aceh atau Indonesia pada umumnya adalah negara yang tetap memahami dan berorientasi pada pemahaman yang sifatnya membaca teks dan mengetahui makna dari apa yang mereka baca, tetapi mereka tidak sampai kepada mengetahui maksud dan tujuan dari apa yang mereka baca.

Akhirnya, mereka terhenti pada arti dan makna dari apa yang dibaca. Akhir yang tampak sekarang ini adalah negara tetangga lebih maju daripada negara kita, Indonesia, khususnya Aceh itu sendiri.

Bila kita melihat apa yang terjadi, khususnya di Aceh pada saat ini, bahwa orientasi bacaan yang ada di Aceh secara keseluruhan orientasinya adalah menghafal. Anak-anak di Aceh punya kecondongan untuk masuk ke lembaga-lembaga yang sifatnya kebahasaan dan paling tinggi adalah hafalan.

Dalam makna apa yang kita pahami dari yang telah diuraikan, berarti adalah pada tingkatan tidak sampai kepada maksud atau tujuan dari bacaan itu sendiri.

Sehingga kita bisa memprediksi suatu saat ketika generasi sekarang diajarkan dalam makna tahapan pembacaan pada lafaz, arti, dan makna dari sebuah teks, dan paling jauh adalah menghafal teks-teks yang ada, baik itu dalam kitab suci ataupun dalam kitab-kitab ulama.

Sehingga kita bisa katakan, ketika mereka nanti selesai menambah ilmu atau memperbanyak informasi yang mereka dapat, maka akhirnya tetap pada tingkatan yang paling dasar, sebagaimana yang dikatakan oleh ilmuwan, yaitu pada tingkatan makna bahasa dan hafalan itu sendiri.

Sehingga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dikhawatirkan mungkin akan tidak dapat atau tidak tercapai pada maksud dari bacaan itu sendiri. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.