Hentikan Kekerasan Senioritas di Sekolah : Saatnya Pendidikan Karakter, Akhlak dan Adab Diperkuat

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Pemerhati sosial kemasyarakatan dan generasi muda, ASN Kemenag)

Miris. Saya sangat prihatin dan menyesalkan jika dugaan kekerasan berbasis senioritas kembali terjadi di lingkungan pendidikan di Tanoh Gayo.

Berita dan video yang beredar di media sosial tentang dugaan pengeroyokan seorang siswa kelas 2 oleh sejumlah siswa kelas 3 di salah satu SMA di Kabupaten Bener Meriah pada Sabtu, 22 Agustus 2026, tentu mengusik hati kita semua.

Jika informasi tersebut benar, ini bukan sekadar persoalan kenakalan remaja. Ini adalah alarm keras bagi keluarga, sekolah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, karakter, persahabatan, dan masa depan. Bukan tempat seorang anak merasa takut kepada seniornya. Senior seharusnya menjadi teladan bagi junior, bukan menjadi pihak yang merasa memiliki kuasa untuk merendahkan, mengintimidasi, apalagi melakukan kekerasan.

Lebih menyedihkan lagi apabila kekerasan dilakukan secara bersama-sama dan korban yang sudah tidak berdaya masih mendapatkan perlakuan kasar. Pada titik ini, kita perlu bertanya: ke mana pendidikan karakter kita? Ke mana akhlak dan adab kita?

Tanoh Gayo memiliki kekayaan nilai adat dan budaya yang sangat kuat. Nilai penghormatan kepada yang lebih tua, kasih sayang kepada yang lebih muda, serta semangat kebersamaan dan saling menjaga semestinya menjadi benteng moral generasi muda.

Jangan sampai nilai-nilai luhur itu hanya menjadi slogan yang kita ucapkan dalam berbagai seremoni, tetapi tidak hadir dalam perilaku anak-anak kita.

𝐇𝐞𝐧𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐫𝐚𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐁𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐞𝐤𝐚𝐝𝐚𝐫 𝐓𝐞𝐨𝐫𝐢

Sudah waktunya pendidikan karakter, akhlak mulia, adat dan adab benar-benar diaktualisasikan dalam kehidupan peserta didik.

Pengajian remaja perlu diperkuat dan dibuat lebih relevan dengan persoalan kehidupan mereka. Anak-anak kita perlu ruang untuk berdiskusi tentang pergaulan, emosi, media sosial, bullying, kekerasan, tanggung jawab, pergaulan antara senior dan junior, serta konsekuensi dari setiap tindakan.

Guru agama juga dituntut lebih peka, inovatif, cerdas membaca perkembangan zaman, dan mampu menyentuh dunia anak didik.

Pendidikan agama jangan berhenti pada hafalan dan teori, tetapi harus menjelma menjadi akhlak.

Sebab ukuran keberhasilan pendidikan agama bukan hanya seberapa banyak ayat dan hadis yang dapat dihafal, tetapi seberapa jauh ilmu itu membentuk perilaku.

𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐀𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐫𝐭𝐚𝐦𝐚

Orang tua juga tidak boleh menyerahkan seluruh persoalan pendidikan kepada sekolah.

Di rumah harus ada pengawasan, komunikasi dan ketegasan. Orang tua perlu mengetahui dengan siapa anak bergaul, bagaimana perilakunya, apa yang mereka lihat di media sosial, serta apa yang sedang mereka pikirkan dan rasakan.

Anak yang terlihat baik di rumah belum tentu tidak menghadapi persoalan di luar rumah. Karena itu, komunikasi antara orang tua dan anak harus dibangun sebelum muncul masalah, bukan setelah terjadi tragedi.

Namun kita juga tidak boleh membangun pendidikan dengan kekerasan.

Ketegasan berbeda dengan kekerasan. Disiplin berbeda dengan intimidasi.

𝐊𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚, 𝐒𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐇𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐁𝐞𝐫𝐠𝐞𝐫𝐚𝐤 𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚

Tidak cukup hanya mencari siapa yang salah setelah sebuah peristiwa terjadi. Kita perlu membangun sistem pencegahan.

Sekolah harus memiliki mekanisme yang jelas untuk mencegah bullying, senioritas berlebihan, perkelahian dan kekerasan. Guru dan wali kelas harus peka terhadap perubahan perilaku siswa. Teman sebaya harus didorong berani melapor ketika melihat tindakan yang membahayakan.

Keluarga, sekolah, pemerintah, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat harus duduk bersama.

𝐀𝐧𝐚𝐤-𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚

Jangan hanya marah ketika video kekerasan sudah viral. Jangan baru bergerak setelah korban terbaring di rumah sakit. Pencegahan harus dilakukan sebelum kekerasan terjadi.

Dan jika dugaan tindak kekerasan benar-benar terbukti, tentu harus ada penanganan yang tegas, adil dan sesuai ketentuan. Perlindungan terhadap korban harus menjadi prioritas, sementara pembinaan terhadap pelaku juga harus dilakukan secara serius agar kejadian serupa tidak berulang.

Kita tidak ingin budaya senioritas berubah menjadi budaya kekerasan. Kita tidak ingin anak-anak Gayo tumbuh dengan mental bahwa yang kuat boleh menindas yang lemah.

Kita ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat tetapi santun, berani tetapi beradab, cerdas tetapi bermoral, memiliki solidaritas tetapi tidak membela kesalahan. Mudah-mudahan peristiwa ini menjadi yang terakhir. Jangan biarkan kekerasan menjadi tradisi.

Mari kita kembalikan pendidikan kepada hakikatnya: memanusiakan manusia, membentuk akhlak, mencerdaskan pikiran, dan menyiapkan generasi yang mampu hidup bersama dengan saling menghormati.

Karena sejatinya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak kita menjadi pintar. Pendidikan berhasil ketika kepintaran itu melahirkan akhlak.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.