Tamasya Untuk Merawat Setia, Sebuah Cerita Persahabatan

oleh

Oleh : Zarkasyi, Mukhlisuddin, Ahyar, Ridwan dan Sayuthi Nur (Penulis ASN Kementerian Agama)

“Persahabatan yang paling indah bukanlah yang selalu bertemu setiap hari, tetapi yang tetap saling mendoakan meski masing-masing sibuk menjalani takdirnya.”

Kalimat itu terasa sangat tepat untuk menggambarkan perjalanan kami. Tahun 2026 menjadi saksi bahwa ikatan yang Allah satukan sejak tahun 2005 masih tetap utuh. Dua puluh satu tahun bukanlah waktu yang singkat.

Banyak persahabatan yang lahir dengan penuh semangat, namun perlahan memudar oleh kesibukan, jarak, bahkan perubahan status kehidupan. Namun, atas izin Allah, persahabatan kami tetap terjaga.

Kami menamai persahabatan ini The Genk Sufi.

Sebagian orang mungkin tersenyum mendengar nama itu. “Genk” identik dengan anak muda yang penuh canda dan petualangan, sedangkan “Sufi” identik dengan kelembutan hati, kesederhanaan, dan perjalanan menuju Allah.

Dua kata yang seolah bertolak belakang, tetapi justru di situlah filosofi kami. Kami ingin tetap akrab, santai, penuh tawa, namun tidak kehilangan arah hidup. Kami ingin menikmati dunia tanpa melupakan tujuan akhir perjalanan, yaitu ridha Allah.

Kami dipertemukan ketika masih mengenakan sarung sebagai santri, masih duduk di bangku kuliah, masih memikirkan masa depan yang belum jelas arahnya. Kini semuanya berubah.

Kami telah memiliki keluarga, anak-anak yang mulai tumbuh besar, serta pekerjaan dan amanah masing-masing. Namun ada satu hal yang tidak berubah: rasa memiliki satu sama lain sebagai saudara.

Karena itulah, tahun ini kami berikhtiar merawat persaudaraan itu melalui sebuah Family Gathering menuju Agrowisata Kilo Nam Geumpang pada 1–2 Juli 2026.

Dari enam anggota, hanya Tgk. Helmi Abu yang belum dapat bergabung karena suatu halangan. Maka berangkatlah lima keluarga: saya, Tgk. Zarkasyi Yusuf, Tgk. Sayuthi Nur, Tgk. Ridwan Husen, dan Tgk. Ahyar M. Gade beserta istri dan seluruh anak-anak.

Perjalanan ini tidak lahir secara spontan. Beberapa pekan sebelumnya kami telah berdiskusi panjang; mulai dari memilih lokasi, memesan enam tenda camping, menyusun jadwal perjalanan, hingga menghitung estimasi biaya agar semuanya ditanggung bersama secara gotong royong.

Bagi kami, kebersamaan bukan hanya soal menikmati perjalanan, tetapi juga belajar saling memikul tanggung jawab.

Pagi 1 Juli kami memulai perjalanan dengan doa bersama. Kami sadar bahwa setiap langkah manusia berada dalam penjagaan Allah. Setelah itu kendaraan bergerak perlahan meninggalkan Lamlo menuju Tangse.

Persinggahan pertama adalah Taman Bunga Celocia Genie. Hamparan bunga yang bermekaran dengan berbagai warna seolah menyambut kedatangan kami. Anak-anak berlarian riang, para ibu sibuk mengabadikan momen, sementara kami menikmati udara pegunungan yang bersih.

Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, tempat ini benar-benar menjadi destinasi yang layak dikunjungi siapa pun yang ingin menikmati keindahan alam Pidie.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Tangse. Kami singgah di Qahwa Kuphi untuk menikmati kopi Tangse yang terkenal memiliki cita rasa khas. Warung kopi sederhana yang berada di dekat jembatan itu justru menghadirkan kenyamanan luar biasa.

Di hadapan kami mengalir Krueng Tangse yang jernih, sementara aroma kopi berpadu dengan semilir angin pegunungan. Sesekali terdengar tawa anak-anak yang bermain di sekitar warung, menambah hangat suasana siang itu.

Ketika azan Zuhur berkumandang, kami menuju Masjid Istiqamah Tangse untuk melaksanakan salat berjamaah dengan jamak dan qashar. Ada satu hal yang sangat membekas di hati kami: tempat wudhunya yang begitu bersih dengan air pegunungan yang sangat dingin. Rasanya ingin berlama-lama membasuh wajah, seakan setiap tetes air turut menyegarkan jiwa.

Usai salat, perut mulai mengingatkan haknya. Kami menuju Warung Makan Lhok Kuala di perbatasan Tangse dan Mane. Di sanalah kami menikmati salah satu kekayaan kuliner Aceh yang sulit ditemukan di tempat lain: Ungkot Kerelieng Tangse dengan kuah asam keueng dan pepes, kari ileih, serta sajian daging rusa. Dengan harga yang sangat bersahabat, hidangan itu menjadi pelengkap kebahagiaan perjalanan kami.

Menjelang sore kami singgah bersilaturahmi di kediaman guru kami, Aba Furqan, Imum Syik Masjid Bangkeh Geumpang. Kehangatan sambutan beliau menjadi pengingat bahwa perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga menyambung tali kasih dengan guru-guru yang telah membimbing kami.

Sekitar pukul lima sore kami akhirnya tiba di Agrowisata Kilo Nam Geumpang.

Begitu memasuki kawasan itu, rasa lelah seakan menghilang. Hamparan pegunungan hijau, udara yang sangat sejuk, kabut tipis yang perlahan turun, serta panorama hutan yang luas membuat kami seakan sedang berdiri di negeri di atas awan.

Enam tenda yang telah kami pesan segera dipersiapkan. Para ayah bekerja sama mendirikan tenda, sementara ibu-ibu GS dengan penuh kekompakan menyiapkan berbagai keperluan makan malam. Tidak ada yang merasa lebih penting. Semua saling membantu sesuai kemampuan masing-masing.

Menjelang Magrib, kami menikmati matahari yang perlahan tenggelam di balik pegunungan. Cahaya jingga menyelimuti langit, angin sepoi-sepoi menyapa wajah, sementara anak-anak bermain dengan riang. Saat itu kami benar-benar merasakan satu nikmat yang sering terlupakan: kebersamaan.

Malam pun tiba.

Di tengah dinginnya udara gunung, kami menikmati ikan bakar hasil masakan bersama. Setelah itu kami duduk melingkar, berbincang, bercanda, mengenang masa-masa ketika masih mondok, mengingat guru-guru kami, dan sesekali tertawa karena kisah-kisah lama yang kembali muncul. Tidak ada yang sibuk dengan dunia masing-masing. Telepon genggam seolah kehilangan daya tariknya.

Yang paling mengesankan adalah suasana malam Kilo Nam. Suara burung malam, serangga, dan berbagai penghuni hutan terdengar saling bersahutan. Di telinga kami, semuanya terasa seperti lantunan tasbih alam yang tidak pernah berhenti memuji Sang Pencipta hingga datangnya waktu Subuh.

Pagi harinya kami disuguhi pemandangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Gumpalan awan berada jauh di bawah puncak bukit, mengalir perlahan melewati ujung-ujung pepohonan.

Kami benar-benar merasa berada di atas awan. Di sanalah kami menyadari bahwa Allah tidak hanya menciptakan keindahan untuk dipandang, tetapi juga untuk mengingatkan manusia betapa kecil dirinya di hadapan kebesaran-Nya.

Setelah sarapan bersama, perjalanan berlanjut menuju Camp Lobang Emas di arah Pameu, Aceh Tengah. Sekitar satu jam perjalanan kami menikmati jalan hotmix baru yang berkelok mengikuti kontur pegunungan. Sepanjang perjalanan terlihat aktivitas masyarakat menggali emas.

Kami menyaksikan langsung bagaimana Allah menyimpan kekayaan alam Aceh yang luar biasa. Namun kami juga belajar bahwa sebesar apa pun kekayaan bumi, nilainya tidak akan pernah melebihi kekayaan hati yang dipenuhi rasa syukur.

Siang harinya kami kembali mendapat kehormatan dijamu Aba Furqan dan Ummu Eka dengan sajian daging rusa yang begitu istimewa. Kebersamaan kembali terasa hangat di meja makan. Jamuan itu bukan sekadar hidangan, tetapi juga bentuk kasih sayang yang akan terus kami kenang.

Dalam perjalanan pulang, kami menyempatkan diri mandi di Krueng Genie. Anak-anak bermain air dengan penuh kegembiraan, sementara para orang tua menikmati dinginnya aliran sungai yang jernih. Sebelum benar-benar mengakhiri perjalanan, kami singgah di Bendungan Rukoh untuk berfoto bersama di gerbang Kupiah Meuketop sebagai penutup perjalanan yang indah.

Sesungguhnya, tujuan perjalanan ini bukanlah sekadar mendaki bukit, menikmati kopi, atau berburu panorama. Yang paling kami cari adalah kesempatan untuk kembali saling mendengar, saling menguatkan, dan mengingat bahwa persaudaraan juga membutuhkan waktu untuk dirawat.

Kini kami semakin memahami bahwa rahasia panjangnya sebuah persahabatan bukanlah karena tidak pernah berbeda pendapat, melainkan karena selalu memilih untuk saling memahami. Bukan karena selalu memiliki waktu luang, tetapi karena selalu meluangkan waktu.

Semoga Allah terus menjaga The Genk Sufi, menjaga keluarga kami, menjaga anak-anak kami agar kelak mereka pun mengenal indahnya persaudaraan yang dibangun di atas iman dan kasih sayang. Dan semoga suatu hari nanti, setelah perjalanan panjang di dunia ini selesai, Allah kembali mempertemukan kami dalam perjalanan yang lebih abadi—berkumpul bersama di surga-Nya.

Karena sejatinya, perjalanan terbaik bukanlah menuju puncak gunung, melainkan perjalanan menuju ridha Allah bersama sahabat-sahabat yang saling menggandeng tangan hingga akhir hayat. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.