Pandemi Game Online

oleh

Oleh : Nirwanudin*

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pandemi adalah wabah yang menjangkit serempak dimana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Sementara itu Word Hearth Organization (WHO) mendefinisikan pandemi sebagai suatu situasi dimana seluruh popilisai dunia besar kemungkinan terkena infeksi dan besar kemungkin sebahagian dari mereka jatuh sakit.

Berdasarkan argumentasi diatas dapat kita tarik benang merahnya bahwa satu situasi yang mewabah sebagimana yang terjadi hari ini akan berpotensi menjadi pandemi global kalau tidak cepat dan tepat dalam penanganannya. Ini menunjukan bahwa kita tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Dalam tulisan kali ini kita menyoroti pandemi yang juga tidak kalah dahsyatnya dari pandemi corona virus. Yaitu pendemi game online yang pada dasarnya telah mewabah paling tidak dapat kita lihat di indonesia hari ini. Pandemi game online ini telah menjangkit begitu luas di masyarakat kita yang akibat dari itu semua menjadikan kita menjadi malas dan tidak tau apa yang harus kita buat karena telah merasakan sensasi dari pandemi game online ini.

Kalau dalam pandemi corona virus, seseorang dikatakan terdampak atau dalam bahasa lain terjangkit virus corona dapat kita lihat dari ciri-cirinya seperti demam, ingusan, sakit kepala, hilangnya indra penciuman dan lain-lain yang serumpun dengannya yang akibatnya dapat menular ketika tidak diisolasi (isolasi mandiri), hal yang hampir sama juga terjadi pada game online.

Seseorang yang telah candu dalam bermain game online, dia berdampak pada kesehatan pelakunya. Keasyikan dengan game online dapat kita lihat seseorang telat dalam beristerahat (tidur), itu akan berdampak pada kesehatan pelaku game online.

Hal lain yang dapat kita cermati dampak dari game online ini adalah terbuangnya waktu sia-sia yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk hal-hal positif lainnya. Belum lagi kalau kita berbicara tentang dampak negatif lain seperti terjadinya pencurian karena kalah dalam permainan judi online tersebut, terlambatnya pergi sekoah bagi remaja akibat dari larut malamnya dalam beristerahat.

Sederat dampak negatif tersebut akan menjerumuskan kita kepada ‘kecelakaan’ maha besar kalau kita tidak dengan cepat mengatasinya.

Pandangan Agama

Dalam islam, pandangan tentang game online dan hal yang serumpun dengannya adalah perbuatan yang tidak dapat dikerjakan atau diduplikasi sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surah al-Ma’idah ayat 90-91, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.

Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (memunum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.

Pandangan yang sama dapat kita jumpai pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, dari Abi Musa bahwa nabi Muhammad SAW bersabda “siapa yang bermain dengan dadu, ia sungguh telah maksiat kepada Allah dan Rasulnya”.

Dari dua pandangan diatas baik Al-Qur’an maupun Hadits telah dengan jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa game online tidak padat kita kerjakan, paling tidak ada beberapa mudarat yang akan menimpa bagi siapa yang mengerjakannya Pertama, waktu habis sia-sia.

Hal ini dapat kita lihat dari mereka yang telah candu dengan game online menghabiskan durasi waktu yang tidak bermanfaat, lihat saja apa yang mereka dapatkan hari demi hari, mereka terus disibukan dengan permainan-permainan yang muaranya tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya menyia-nyiakan waktu yang semestinya dapat dimanfaatkan pada hal-hal lain yang memberikan dapak pesitif bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat sekitar.

Kedua, kerugian secara materil. Karugian ini dapat dengan jelas kita jumpai, berapa banyak uang yang telah dikumpulkan itu hangus sia-sia karena kecanduan game online tadi sehingga terus-menerus melakukan top up atau pembelian chip (koin emas) melalui provider atau penyedia jasa internet, yang pada gilirannya secara tidak kita sadari kita terus dipaksa untuk bermain dengan terus membayangkan bahwa kita akan mendapatkan keuntungan besar dari permainan itu.

Padahal, kalau kita berpikir sejenak saja, bahwa kita telah terbuai dan terperangkap dalam lembah kesesatan karena uang yang kita indam-idamkan itu tidak kunjung datang disebabkan kita terus saja kalah dan kalah dalam permainan itu.

Katiga, generasi kita ‘rusak’. Iya, generasi kita rusak, coba kita banyangkan bagaimana daya rusak generasi kita akibat dari game online ini. Seyogyanya generasi muda pemegang estafet masa depan bangsa haruslah berdasarkan pada tujuan pendidikan itu sendiri sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1 tentang arti pendidikan.

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Pertanyaan mendasarnya, apakah generasi muda kita sudah mengarah pada tujuan pendidikan itu sendiri? Sebagaimana kalimat “Mencerdaskan kehidupan bangsa” yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 elinea ke-4 yang menggambarkan tentang cita-cita bangsa.

Daya rusak game online terhadap generasi bangsa ini sepertinya telah sampai pada tahap endemi, dia tidak lagi pandemi, namun jauh dari itu lagi daya rusaknya. Ini dapat kita lihat dari fakta yang ada sebagimana saya diskusi dengan seorang pelajar yang telah kecanduan dengan game online.

Dalam diskusi itu saya bertanya tentang beberapa hal, seperti apa dampak dari game online? Bagaimana proses belajar di sekolah dalam keadaan hoyong? Terus apa hal lain yang dilakukan kalau tidak main game?

Beberapa pertanyan itu dijawab dengan polos dan jawabannya cukup menyayat hati kita. Bagaimana tidak, terhadap pertanyaan pertama hasil yang didapatkan hanya mengantuk dan membuat sakit kepala ketika bangun. Kenapa demikian, karena tidur tidak lagi teratur, kesehatan tidak terjaga.

Terhadap pertanyaan kedua dia menjawab bahwa kesekolah hanya karena takut pada guru, karena mata pelajaran yang diberikan tidak dapat ditangkap atau dipahami karena mengantuk, dan bahkan ada yang kadang-kadang tertidur di sekolah karena tidak tahan lagi. Terhadap pertanyaan ketiga jawabannya adalah tidur, karena mengantuk dan persiapan bergadang malam.

Jawaban tersebut jelas sangat miris dan memuakan kita dalam mendengarnya, mestinya sekolah adalah jantung pendidikan karena sebagaimana pendapat Ki Hajar Dewantara bahwa “Pendidikan itu daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak”. Sekarang sekolah berubah arah menjadi tempat tidur. Ini jelas mudarat yang dahsyat dari game online itu sendiri, apa lagi didalamnya mempunyai unsur judi yang muaranya berdampak tidak baik.

Yang Mesti Dilakukan

Uraian diatas mestinya telah cukup untuk kita tidak nyeleneh bahwa game online itu ada unsur kebaikan didalamnya. Kita mesti berpikir lebih keras lagi untuk menyelamatkan genari bangsa ini dengan sesuatu gerakan yang jelas dan terukur, agar generasi kita ini tidak terus terjerumus dalam lembah hitam pekatnya game online.

Cukup sudah generasi hari ini terbuai dengan sesuatu yang sebenarnya menyesatkan mereka, kita mesti hentikan ini dengan cepat dan sangat cepat yaitu dengan memblokir semua situs game online yang ada dalam platform berbasis Android dan IOS.

Kominfo mesti bertindak lebih cepat secepat kilat dalam pemblokiran game online tersebut. Jangan lagi ada alasan yang bernaga ngeses ini itu, karena ini memang sudah menjadi endemi yang daya rusaknya sangat mengerikan.

Wallahu’allambisawab.

*Founder Komunitas Warkop Literasi dan Ketua Badan Kemakmuran Mesjid Taqwa Al-Mizan Kecamatan Alafan, Simeulue.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.