Oleh : Zuhra Ruhmi, M.Pd*
Ada sebuah celah kecil di masa lalu yang tanpa sadar kita biarkan menganga, menjadi ruang gelap tempat tumbuhnya benih-benih kelonggaran moral. Ruang itu bernama ruang kelas matematika sekolah dasar. Di sana, saat jemari kecil kita meraba angka-angka, kita dikenalkan pada sebuah konsep operasi hitung yang sekilas tampak biasa, namun menyimpan kecacatan filosofis yang sistemik, yaitu pola pengurangan dengan metode meminjam.
Ingatkah kita saat angka satuan tak cukup besar untuk dikurangi, lalu dengan ringannya diucapkan instruksi untuk meminjam satu dari angka puluhan di sebelahnya? Detik itu juga, sebuah transaksi moral terjadi di bawah sadar anak-anak kita. Angka satuan mengambil hak puluhan, menyelesaikan masalah instannya, lalu kalkulasi selesai. Ketukan palu kepasrahan berbunyi, dan pelajaran ditutup tanpa pernah ada kalimat yang mengingatkan untuk mengembalikan satu yang dipinjam tadi ke tempat semula. Kita meminjam, kita menyelesaikan urusan kita, dan kita melupakannya begitu saja.
Istilah meminjam digunakan untuk sesuatu yang beralih fungsi secara permanen tanpa ada kewajiban memulangkan, kita sedang menanam tabiat buruk sejak dini. Kita sedang menormalisasi tindakan mengambil hak pihak lain demi menutupi kekurangan diri, lalu menganggapnya sah-sah saja asalkan hasil akhirnya benar. Bukankah ini miniatur dari perilaku korupsi yang hari ini menjangkiti peradaban kita? Korupsi tidak selalu dimulai dari keserakahan yang megah, melainkan seringkali berakar dari mentalitas meminjam fasilitas negara, meminjam uang rakyat, atau meminjam wewenang jabatan untuk menyelesaikan urusan pribadi, dengan keyakinan bawah sadar yang sama seperti di bangku sekolah dulu, bahwa apa yang dipinjam di awal, tidak perlu dipulangkan di akhir. Kita telah merawat generasi yang fasih mengambil, namun amnesia dalam mengembalikan.
Sudah saatnya kita melakukan tobat pedagogis dan membasuh bahasa matematika kita dari diksi yang mencederai karakter. Matematika tidak boleh hanya menjadi mesin hitung yang melahirkan manusia-manusia logis yang culas, melainkan harus menjadi ekosistem yang mengajarkan tanggung jawab dan empati. Kita bisa mengubah gaya mengajar kita melalui metode mengurai atau berbagi. Jangan lagi sebut itu sebagai tindakan meminjam, melainkan katakan bahwa angka puluhan dengan sukarela mengurai dirinya atau berbagi sebagian nilainya untuk membantu satuan yang sedang kekurangan, sehingga anak belajar tentang nilai solidaritas dan kepedulian sosial bahwa yang berlebih bertugas menopang yang lemah.
Namun, jika kita tetap ingin menggunakan analogi sosial berupa peminjaman, maka kita harus menuntaskan analogi itu secara bertanggung jawab. Di akhir penyelesaian soal, ajarkan anak-anak untuk secara simbolis memulangkan atau memahami bahwa setiap pinjaman melahirkan kewajiban, dan setiap hak orang lain yang kita bawa memiliki waktu kedaluwarsa yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan nurani.
Pendidikan sejati adalah seni merawat fitrah kemanusiaan, dan matematika pada hakikatnya adalah tentang keseimbangan. Ketika kita mengajarkan pengurangan dengan cara yang pincang secara moral, kita sedang merusak simetri jiwa anak-anak kita. Mari kita kembalikan ruang kelas sebagai hulu dari aliran sungai integritas bangsa. Dengan mengubah cara kita berbahasa dalam logika, kita sedang mengubah cara satu generasi memandang dunia, memastikan anak-anak kita tumbuh menjadi nakhoda masa depan yang tidak hanya pandai menghitung keuntungan, tetapi juga memiliki kepekaan untuk selalu mengembalikan apa yang bukan menjadi hak miliknya.
*Penulis adalah guru matematika di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah





