TAKENGON-LintasGAYO.co : Presiden Mahasiswa Universitas Gajah Putih (UGP), Asraf, melontarkan kritik keras terhadap kondisi pelayanan air bersih di Kabupaten Aceh Tengah yang dinilai semakin memprihatinkan.
Menurutnya, krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Takengon merupakan ironi bagi daerah yang memiliki sumber daya air melimpah dari pegunungan dan Danau Lut Tawar.
Asraf mengaku telah berkomunikasi langsung dengan masyarakat bersama sejumlah rekannya untuk mendengar keluhan warga terkait pelayanan PDAM Tirta Tawar. Dari hasil komunikasi tersebut, ditemukan banyak kawasan yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
“Banyak wilayah di Takengon yang mengalami kekeringan. Keran warga tidak mengalir, dan kalaupun ada air yang keluar, kondisinya keruh berwarna coklat sehingga tidak layak dikonsumsi,” ujar Asraf dalam keterangannya, Selasa 9 Juni 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya terjadi di Aceh Tengah yang memiliki sumber mata air yang melimpah. Ia menilai persoalan utama terletak pada tata kelola dan manajemen PDAM Tirta Tawar yang dinilai tidak berjalan optimal.
“Mustahil Aceh Tengah kekurangan air. Sumber air kita melimpah dari gunung dan Danau Lut Tawar. Namun, jika masyarakat tetap kesulitan mendapatkan air bersih, maka ada persoalan serius dalam pengelolaan,” tegasnya.
Selain menyoroti distribusi air, Asraf juga mengungkap sejumlah keluhan masyarakat terkait sistem penagihan PDAM. Ia menyebut adanya dugaan pembayaran ganda terhadap penggunaan air yang sama, serta pembengkakan biaya pengecekan yang menurut warga dibebankan sekaligus dalam satu bulan.
“Banyak warga mengeluhkan tagihan yang dianggap tidak wajar. Keluhan-keluhan ini harus menjadi perhatian serius karena menyangkut hak dasar masyarakat,” katanya.
Asraf kemudian mengingatkan komitmen Bupati Aceh Tengah yang pernah disampaikan saat pelantikan Direktur PDAM Tirta Tawar. Dalam pernyataan tersebut, Bupati menegaskan akan melakukan pergantian apabila dalam enam bulan tidak terjadi perubahan signifikan pada kinerja perusahaan daerah tersebut.
“Enam bulan sudah berlalu. Kini masyarakat menunggu realisasi komitmen itu. Yang dibutuhkan rakyat adalah solusi dan ketegasan,” ujarnya.
Atas kondisi tersebut, Presiden Mahasiswa UGP menyampaikan tiga tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah. Pertama, meminta Bupati Aceh Tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PDAM Tirta Tawar dan mempertimbangkan pencopotan direktur apabila dinilai gagal memenuhi harapan masyarakat.
Kedua, meminta dilakukan audit investigatif terhadap pengelolaan keuangan serta sistem penagihan yang selama ini dikeluhkan pelanggan.
Ketiga, mendesak adanya langkah cepat dan konkret untuk memastikan pasokan air bersih dapat mengalir secara normal ke rumah-rumah warga.
“Kami menunggu ketegasan pimpinan daerah. Komitmen Bupati sedang diuji hari ini. Jika dalam waktu dekat tidak ada penyelesaian yang jelas, maka Presma UGP bersama masyarakat Aceh Tengah siap melakukan aksi sebagai bentuk penyampaian aspirasi,” tutup Asraf.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan di tengah meningkatnya keluhan masyarakat terhadap pelayanan air bersih di Aceh Tengah. Warga kini berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.
[Fa]





