Menikah Itu Ibadah

oleh

Oleh : Roni Haldi*

Menikah adalah salah satu fase dalam hidup yang lazimnya dijalani seorang muslim. Fase terpanjang dan terlama yang akan dijalani oleh pasangan suami istri. Menikah disamping sebagai sarana pemenuhan kebutuhan biologis [gharizah insaniyah], juga bentuk bukti ketaatan hamba kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Agar ketaatan itu diraih, maka dimulai dari pemahaman yang baik dari arti sebuah pernikahan itu sendiri. Karena dengan pemahaman yang baik akan mengantarkan pada hasil yang tentu baik pula.

Makna Kata “Nikah”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kata nikah berasal dari kata “kawin” yang diartikan membentuk keluarga dengan lawan jenis. Sedangkan menurut istilah adalah akad yang menghalalkan hubungan suami istri antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan menggunakan lafadz tertentu.

Dikalangan para fuqaha terdapat beberapa pemaknaan terhadap nikah. Dalam Mazhab Hanafi nikah dimaknai suatu akad dengan tujuan memiliki kesenangan dengan sengaja. Adapaun Mazhab Hanbali mendefenisikan nikah adalah suatu akad dengan mempergunakan lafadz-lafadz nikah atau tazwij guna membolehkan manfaat bersenang-senang dengan wanita.

Sedangkan dikalaangan mazhab Syafi’i member makna nikah adalah suatu akad yang mengandung kepemilikan dan kebolehan hubungan suami istri dengan menggunakan lafadz nikah atau tazwij atau yang semakna dengan keduanya.

Dalam Undang-undang perkawinan nomor 1 tahun 1974 pada pasal 1 ayat [1] dijelaskan perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga [rumah tangga] yang bahagia kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Anjuran Menikah

Banyak ayat dan hadits tentang anjuran untuk menikah. Diantaranya dalam al-Quran Allah tegaskan bahwa manusia telah diciptakan hidup berpasang-pasangan saling kasih mengasihi agar memperoleh ketenangan dan ketenteraman.

Dalam Surat Ar-Rum ayat 21 Allah berfirman, “Dan diantara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.”

Dalam haditsnya Rasulullah shallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan..” [HR. Bukhari-Muslim].

Dalam hadits yang lain Rasulullah shallahu alaihi wasalam juga pernah bersabda, “Nikah itu adalah sunnahku, maka barangsiapa yang meninggalkan sunnahku maka ia bukan termasuk umatku.” [ HR. Muttafaqun Alaihi].

Demikian anjuran Allah SWT dan Rasulullah shallahu alaihi wasallam untuk melaksanakan pernikahan. Menikah akan mendatangkan ketenangan dan ketenteraman karena secara fitrah manusia ingin hidup berpasang-pasangan.

Ada kecenderungan terhadap lawan jenis dimaknai sunnatullah yang solutif bagi manusia. Dengan menikah, seorang laki-laki dan perempuan akan ditautakan kasih dan sayang di dalam hati keduanya jauh dari penyimpangan berujung kerusakan. Dan dengan menika seorang hamba telah memposisikan kedudukannya sebagaimana yang diinginkan Penciptanya.

Menikah adalah penjagaan diri dari keburukan nafsu yang selalu melulu. Nafsu yang tak terbimbing akan cenderung ke tunduk pada keburukan dan kemudharatan. Hingga tersimpulkan bahwa nikah adalah bagian dari ibadah.

Ketika nikah adalah bagian dari oibadah, maka sebuah pernikahan haruslah didasarkan semata-mata untuk menjalankan perintah Allah SWT. Seorang laki-laki menikahi seorang perempuan karena ketaatannya kepada Allah begitu juga sebaliknya, bukan kerena materi kekayaan, kecantikan atau ketampanan, status dan jabatan.

Karena jika didasari oleh semua itu, sebuah pernikahan akan menuju ambang kehancuran. Mengapa demikian?Karena jika seseorang menikah karena materi, kasih dan sayangnya pun akan berkurang saat pasangan hidupnya kesulitan materi atau jatuh miskin.

Kalau didasarkan karena kecantikan atau ketampanan, keduanya akan pudar dan berakhir. Dan kalau cintanya dilandasi status dan jabatan, kedua pasti berubah bahkan hilang. Maka pada ujungnya mahligai rumah tangga yang dibangun karena materi duniawi akan berakhir dengan perceraian.

Sungguh jauh berbeda ketika sebuah pernikahan dilangsungkan sebagai bentuk ibadah bukti dari ketaatan kepada Allah SWT. Pastilah kehidupan rumah tangganya akan langgeng berkelanjutan karena yang diharap semata ridha dari Allah semata.

Karena nikah itu adalah ibadah maka kuncinya adalah kekuatan iman kepada Allah SWT. Menikahlah karena nikah adalah pembuktian kekuatan imanmu kepada Allah Taala.

*Kepala KUA Kec. Susoh, Aceh Barat Daya

Comments

comments