Wahai Diri, Maafkan Si Anak Manja Ini

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” kata pepatah yang menggambarkan bentuk, sifat dan ciri-ciri lainnya yang diwariskan orang tua kepada anaknya.

Masalahnya, peribahasa itu hanya berlaku untuk pokok kayu yang tumbuh di tanah datar. Kalau tanaman itu berada pada lahan miring, tentu buahnya akan menggelincir jauh dari pohonnya; jatuh ke sungai dan diteruskan ke muara sampai ke lautan luas.

Setidaknya, demikianlah gambaran diriku, sebagai pengelana yang lahir pada hari ini, 49 tahun lalu, tepatnya 22 Mei 1972, merupakan anak dari ayah yang petani dan ibu yang berprofesi sebagai guru, yang anaknya bukan pekebun dan bukan juga pengajar.

Sudah menjadi nasibku terlahir sebagai anak yang dimanjakan. Wajar saja, karena aku terlahir sebagai cucu pertama dan laki-laki yang tentu saja banyak harapan yang disandarkan untuk meneruskan cita-cita “kebijakan” keluarga kelak.

Sebagai cucu dan anak seorang petani, sejak kecil aku sering dibawa ke kebun dan ke sawah. Biasa “ibi-ibiku” atau adik perempuan dari bapak yang menggendong dan menjagaku. Ketika mereka bekerja aku ditempatkan di atas nampan agar selalu bersih.

Apa boleh buat, sudah nasibku sebagai “intan payung”, meskipun hari ini dan kelak, aku jauh dari sifat kolokan, akan tetapi barangkali “pengelana” ini akan berlabuh dalam jangka waktu yang lama kalau ada “perempuan tangguh” yang bisa mengembalikan kemanjaanku yang dulu.

By the way, pada usiaku yang sudah tidak muda lagi, aku lebih sering menyendiri dan banyak berkontemplasi untuk keselamatan pada kehidupan masa yang akan datang daripada hidup bermanja-manja.

Biarlah anugerah masa kecil itu menjadi kenangan perjalanan hidup. Setidaknya dengan dimanja kala bocah dulu dalam kasih sayang, jiwa terpuaskan sehingga jauh dari penyakit hati; iri, dengki, sombong, su’uzon dan lain sebagainya tersingkirkan.

Buah dari perenungan itu, ternyata diri ini adalah representasi dari alam semesta dan Allahu Akbar, tetapi secara teknik, komponen bagian manakah dari diri ini yang diwakilkan oleh tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta isinya, dan Allahus Samad menempatkan diri-Nya dalam bentuk dan rupa apa dalam kesatuan tubuh ini? Itu perlu pembahasan lebih lanjut.

Sejujurnya, dulu aku sering gelisah pada usia yang menuju senja. Apakah hidup ini biasa-biasa saja dalam bingkai ilmunya Allah yang orang anggap hanya semangkok tinta?
Kadangkala tidak sabar dalam berjalan menuju alamat “tauhid”. Ingin rasanya melompat jauh, menangkap “tahu diri” sebenar diri, tidak hanya pada tataran syari’at; diri yang diperi-perikan, diri berdiri, diri terdiri, diri didirikan dan diri berdiri sendiri.

Pernah pada masanya diri ini melewati kegelisahan dan ketidaksabaran yang semakin mengkhawarkan organisasi suasana kebathinan dari ketidaktahuan posisi perjalanan spiritual di antara Hindu, Budha, Kristen dan Islam.

Benarlah dalam status formal aku tercatat sebagai Islam, tetapi mungkin pada kenyataannya sejatinya diri ini masih sekedar hidup (Hindu), atau sudah berbudaya (Budha), atau sudah menjalani lika liku hidup menuju kesempurnaan (Kristen), atau sudah sampaikah aku pada jalan keselamatan (Islam)?

Mencari jawaban dalam kontemplasi, uzlah atau bertapa di dalam gua yang menembus ruang dan waktu adalah salah satu jalan dari banyak jalan untuk menemukan hakikat diri.
Alangkah malunya aku, kalau kelak yang dititipi barang diri ini tetapi tidak mengenal apa isinya. Itukah isyarat bahwa aku belum mampu mengurai ungkapan para sufi; “Man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu,” akibat masih tertutup kabut kesalahan, dosa dan najis bathin.

Wahai diri! Maafkan si “anak manja” ini yang lalai berkelana sehingga lupa diri. Bimbinglah “Intan payung” ini dalam setiap tafakur agar selalu lurus dan mulus untuk berkumpul dengan golongan orang-orang yang selamat dari episode ke episode selanjutnya dalam panggung sandiwara kehidupan ini.

(Mendale, 22 Mei 2021)

Comments

comments