Apalah Artinya Pujian

oleh

Oleh : Agung Pangeran Bungsu S.Sos*

Dewasa ini popularitas sudah seperti barang mewah yang didambakan bagi banyak orang. Hal ini tidak hanya terjadi pada publik figur dan juga para politisi saja, akan tetapi popularitas juga diperebutkan oleh kalangan masyarakat biasa.

Popularitas bahkan kerap dipertuhankan oleh sebagian orang, kalimat yang terkesan berlebihan akan tetapi begitulah fakta yang terjadi dihadapan kita semua. Akhir-akhir ini ada sebuah istilah yang sering menggema di jagat media sosial yaitu “pansos” atau aksi panjat sosial.

Pansos adalah labbeling yang diberikan kepada orang-orang yang kerap mencari perhatian dan membuat sensasi di depan khalayak. Demi mendongkrak popularitas dan ketenaran terkadang seseorang rela menjadi orang lain, menjadi pribadi yang sebenarnya bukanlah dirinya.

Bahkan untuk membenarkan perilaku yang ada sering terlontar kalimat “siapa saja bisa menjadi apa saja” dari lisan orang-orang yang mendewakan popularitas.

Pengakuan dan penghargaan yang diberikan khalayak kepada seseorang tentunya memang merupakan bagian dari aktualisasi diri yang dibutuhkan oleh setiap individu. Sehingga sejatinya setiap orang ingin diakui keberadaannya, ingin dihormati kedudukannya dan ingin dihargai usaha yang dilakukannya. Akan tetapi pengakuan dan penghargaan yang ada bukan berarti tanpa batasan yang jelas.

Seorang mukmin haruslah selalu mengedepankan sikap qanaah meski dipuji oleh saudaranya yang lain, hal ini bertujuan untuk menghindarkan diri dari sikap riya, ujub dan juga takabbur. Media sosial yang menguasai masyarakat telah banyak mengubah kehidupan dan sikap maupun perilaku seseorang.

Kini tidak sedikit orang yang merasa lebih dihargai apabila jumlah like dan komentar yang diberikan untuk sebuah postingan yang dia kirimkan di media sosial dibanjiri oleh pujian dan penghargaan. Seseorang akan merasa senang dan gembira apabila tayangan video yang dia bagikan disaksikan oleh banyak orang.

Begitu pula sebaliknya ia akan merasa tidak dihargai dan merasa tercela apabila mendapati postingannya dengan jumlah likes yang sedikit dan komentar negatif. Padahal bukankah media sosial adalah panggung sandiwara yang penuh dengan kepura-puraan.

Dalam buku panduan “The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition DSM – V, 2013: 669)” dijelaskan adanya keyakinan berlebihan bahwa seseorang istimewa, unik serta ingin dikagumi dan dipuja bahkan selalu ingin diperhatikan adalah bagian dari gangguan perilaku.

Tanpa disadari fenomena yang terjadi sudah menjadi tradisi di tengah masyarakat, baik kalangan masyarakat kelas atas maupun kalangan menengah ke bawah. Tak lengkap rasanya apabila selepas reuni bercengkrama dengan sahabat lama tanpa mengabadikan dan membagikan momen kebersamaan yang ada di media. Tak cukup rasanya kebahagiaan dan kelekatan yang tercipta bersama keluarga di masa liburan tanpa mengunggahnya di jejaring media sosial.

Lantas bagaimana Islam memandang perilaku narsis, aksi pansos serta para pemuja popularitas. Dalam Islam ada dua istilah yang dekat untuk merepresentasikan fenomena diatas yaitu ujub dan juga takabbur, meskipun perilaku diatas lebih dekat sikap ujub.

Uiub berarti menganggap segala sesuatu yang didapatinya berdasarkan dari hasil usahanya sendiri, baik ilmu pengetahuan, kedudukan, harta dan juga keturunan. Imam Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang makna ujub maka beliau menjawab “Engkau melihat apa yang ada pada dirimu tidak pada orang lain.”(Syu’abul Iman karya Imam Al-Baihaqi 7/50).

Dalam Al-Quran Alla ta’ala berfirman

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS.Luqman 18)

Untuk apa kalau bukan untuk menunjukkan kehebatan dan pencapaian yang telah diraih. Simpan saja kesuksesan dan kebahagiaan yang ada untuk mengingat kuasa dan campur tangan sang Pencipta yaitu Allah. Apakah kita tahu bahwa ada banyak orang-orang di sekitar kita yang kehidupannya tidak jauh lebih beruntung dari kehidupan kita.

Apakah untuk mengekspresikan rasa bahagia hanya dapat dilakukan dengan membagikan setiap momen yang ada di media sosial, tentu saja tidak. Bukankah kebahagiaan terletak di dalam hati orang-orang yang senantiasa bersyukur. Maka dari itu, marilah kita belajar menjadi insan yang lebih bijak untuk menggunakan media.

Jangan sampai apa yang telah kita bagikan di media menjadi sebab tertolaknya amalan yang telah kita lakukan, tentunya karena sebab perilaku narsis, ujub, takabbur dan juga popularitas yang hanya bersifat semu dan sementara.

*Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

comments