Oleh: Ansar Salihin*
Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh 2026 tidak hanya menjadi ajang berkumpul penyair dari berbagai daerah dan negara, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi tentang masa depan kebudayaan. Salah satu agenda yang paling berkesan berlangsung di Temas River Park, Aceh Tengah, Rabu (24/6/2026), melalui Dialog Kebudayaan bertajuk Masa Depan Sastra Lisan Nusantara.
Di tengah kesejukan alam Dataran Tinggi Gayo dan aliran Sungai Pesangan, para penyair serta pegiat sastra mendiskusikan satu persoalan penting: bagaimana menjaga tradisi lisan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Tema yang diangkat terasa sangat relevan. Di era ketika teknologi digital mengubah hampir seluruh cara manusia berkomunikasi, sastra lisan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tradisi yang selama berabad-abad diwariskan melalui tuturan, nyanyian, petuah, dan pertunjukan kini harus bersaing dengan arus informasi yang serba cepat. Pertanyaannya bukan lagi apakah sastra lisan masih penting, melainkan bagaimana menjadikannya tetap bermakna bagi generasi yang tumbuh di dunia digital.
Dialog tersebut diawali dengan sambutan Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Ganjar Harimansyah, S.S., M.Hum., yang mengungkapkan kekagumannya terhadap Tanah Gayo. Menurutnya, kawasan ini bukan hanya dianugerahi bentang alam yang indah, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang terus dijaga oleh masyarakatnya.
Pernyataan itu terasa tepat sebagai pengantar diskusi. Aceh Tengah memang menjadi salah satu daerah yang masih memiliki tradisi lisan yang kuat. Didong, melengkan, sebuku, hingga berbagai bentuk sastra tutur lainnya merupakan bukti bahwa masyarakat Gayo sejak lama menjadikan sastra sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, pembahasan mengenai masa depan sastra lisan menjadi semakin bermakna ketika dilakukan di daerah yang masih memelihara tradisi tersebut.
Paparan pertama disampaikan oleh Ceh M. Din, pelestari seni Didong sekaligus penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia Tahun 2025. Dengan gaya bertutur yang sederhana namun penuh pengalaman, ia mengajak peserta memahami Didong bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan seni, melainkan sebagai sistem pengetahuan masyarakat Gayo.
Menurutnya, Didong dibangun atas tiga unsur utama, yaitu sastra lisan, seni vokal, dan gerak tari. Ketiga unsur tersebut membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Syair menjadi ruh pertunjukan, lagu menghadirkan kekuatan emosional, sedangkan gerak menjadi ekspresi visual yang menghidupkan makna.
Penjelasan itu menunjukkan bahwa dalam tradisi masyarakat Gayo, sastra tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu hadir bersama musik, gerak, dan kehidupan sosial masyarakat. Karena itulah Didong mampu bertahan selama ratusan tahun. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan media pendidikan, dakwah, penyampaian kritik sosial, hingga ruang dialog antarmasyarakat.
Hal lain yang menarik dari penjelasan Ceh M. Din adalah gambaran mengenai sosok ceh, yakni tokoh utama dalam pertunjukan Didong. Seorang ceh tidak cukup hanya memiliki suara yang merdu. Ia harus mampu menciptakan syair, menyusun melodi, memahami persoalan sosial, bahkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan penonton. Dengan kata lain, seorang ceh adalah penyair, komponis, penyanyi, sekaligus komunikator budaya.
Namun, di balik optimisme itu, Ceh M. Din menyampaikan kegelisahan yang patut menjadi perhatian bersama. Menurutnya, tantangan terbesar pelestarian sastra lisan saat ini bukan berkurangnya jumlah pertunjukan, melainkan semakin renggangnya hubungan generasi muda dengan bahasa daerah.
Anak-anak sekarang lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Akibatnya, mereka mulai kesulitan memahami syair-syair Didong yang menggunakan bahasa Gayo. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan hanya bahasa yang hilang, tetapi juga nilai-nilai budaya yang selama ini diwariskan melalui bahasa tersebut.
Pandangan ini sesungguhnya menggambarkan persoalan yang terjadi hampir di seluruh Indonesia. Banyak daerah memiliki tradisi lisan yang kaya, tetapi semakin sedikit anak muda yang mampu memahami bahasa ibunya sendiri. Padahal bahasa merupakan pintu masuk untuk memahami cara berpikir, filosofi hidup, dan identitas suatu masyarakat. Ketika bahasa mulai ditinggalkan, sastra lisan pun perlahan kehilangan ruang hidupnya.
Meski demikian, Ceh M. Din tidak melihat perubahan sebagai ancaman yang harus ditolak. Ia justru menawarkan pendekatan yang lebih adaptif. Menurutnya, syair Didong dapat dibawakan dalam bahasa Indonesia agar pesan-pesannya dapat dipahami masyarakat yang lebih luas. Ia juga membuka peluang kolaborasi Didong dengan berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya.
Gagasan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara kaku. Tradisi justru dapat bertahan apabila mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Dalam konteks inilah inovasi menjadi bagian penting dari upaya pelestarian.
Pandangan tersebut mendapat perspektif yang lebih luas melalui paparan Prof. Dr. Norhayati Abd. Rahman dari Malaysia. Akademisi sekaligus penyair itu menjelaskan bahwa sastra lisan Melayu berkembang dalam berbagai bentuk, seperti pantun, gurindam, syair, cerita rakyat, dan bentuk-bentuk puisi tradisional lainnya. Kesemuanya merupakan rekaman nilai, pengalaman hidup, dan falsafah masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Prof. Norhayati, sastra lisan tidak boleh dipahami hanya sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi ini harus diposisikan sebagai sumber pengetahuan yang tetap relevan untuk menjawab tantangan masa kini. Karena itu, pelestarian sastra lisan harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.
Ia menjelaskan bahwa di Malaysia berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari digitalisasi naskah, dokumentasi audiovisual, hingga transformasi karya sastra lisan menjadi animasi dan media digital. Langkah-langkah tersebut dilakukan agar generasi muda dapat mengenal sastra melalui media yang akrab dengan kehidupan mereka.
Pandangan tersebut memberi pelajaran penting bahwa teknologi tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi tradisi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan baru untuk memperkenalkan sastra lisan kepada khalayak yang lebih luas. Hari ini, sebuah pantun atau syair dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang melalui media sosial. Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan pelaku budaya memanfaatkannya secara kreatif.
Prof. Norhayati juga menyinggung pentingnya keberpihakan negara terhadap para pelaku seni. Menurutnya, di Malaysia pemerintah memberikan berbagai bentuk penghargaan dan dukungan kepada seniman agar mereka dapat terus berkarya sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi.
Pelestarian budaya memerlukan kebijakan yang nyata, bukan hanya seremoni. Seniman tradisi membutuhkan ruang berkarya, dukungan pendanaan, regenerasi, serta penghargaan atas dedikasi mereka menjaga warisan budaya bangsa.
Dialog ini menghadirkan satu kesadaran bahwa masa depan sastra lisan tidak hanya berada di tangan para seniman. Ia juga bergantung pada keberanian pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, media, hingga masyarakat untuk menjadikan tradisi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sastra lisan harus masuk ke sekolah, hadir di ruang digital, menjadi inspirasi industri kreatif, dan terus dipentaskan agar tidak kehilangan penontonnya.
Keistimewaan dialog di Temas River Park tidak hanya terletak pada isi pembahasannya, tetapi juga pada suasana yang melingkupinya. Sebelum diskusi dimulai, peserta disambut oleh penampilan Tari Bines dari Sanggar Umah Supu, Kabupaten Gayo Lues. Tarian yang dimainkan secara berkelompok itu menghadirkan harmoni gerak, syair, dan irama yang mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Gayo-Alas. Penampilan tersebut menjadi pembuka yang tepat, seolah menegaskan bahwa sastra dan seni pertunjukan merupakan dua unsur yang saling melengkapi dalam kebudayaan Nusantara.
Pemilihan Temas River Park sebagai lokasi kegiatan juga memberikan pengalaman yang berbeda. Dialog berlangsung tanpa sekat ruang konferensi. Gemericik Sungai Pesangan, semilir angin pegunungan, dan hijaunya pepohonan menghadirkan suasana yang membuat peserta merasa lebih dekat dengan alam. Barangkali memang demikian hakikat sastra lisan: lahir dari kehidupan masyarakat yang akrab dengan lingkungan sekitarnya, lalu tumbuh menjadi bagian dari ingatan kolektif.
Setelah dialog berakhir, suasana intelektual berganti menjadi perayaan sastra melalui Parade Baca Puisi yang menghadirkan penyair dari 14 negara. Satu per satu penyair membacakan karya mereka dengan bahasa, intonasi, dan gaya yang berbeda-beda. Ada yang membicarakan kemanusiaan, perdamaian, lingkungan, kerinduan, hingga identitas budaya. Meskipun menggunakan bahasa yang beragam, seluruh puisi itu dipersatukan oleh semangat yang sama, yakni menjadikan sastra sebagai jembatan yang melampaui batas negara dan budaya.
Membaca puisi di ruang terbuka, diiringi suara aliran Sungai Pesangan, menghadirkan pengalaman estetik yang sulit dilupakan. Alam seolah menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Tidak hanya para penyair yang berbicara melalui kata-kata, tetapi juga pepohonan, angin, dan gemericik air yang memberi irama alami bagi setiap bait puisi yang dibacakan.
Dialog Kebudayaan “Masa Depan Sastra Lisan Nusantara” pada akhirnya meninggalkan pesan yang lebih besar daripada sekadar forum diskusi. Kegiatan ini mengingatkan bahwa sastra lisan adalah fondasi penting dalam membangun identitas bangsa. Di dalamnya tersimpan bahasa, nilai, etika, sejarah, dan cara pandang masyarakat yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Harapannya, gagasan-gagasan yang lahir dari dialog ini tidak berhenti sebagai wacana dalam sebuah pertemuan tahunan. Perlu ada langkah nyata berupa penguatan pendidikan berbasis budaya, dokumentasi dan digitalisasi tradisi lisan, pemberdayaan komunitas seni, regenerasi pelaku budaya, serta kolaborasi lintas negara untuk saling belajar dalam merawat warisan bersama. Dengan demikian, sastra lisan tidak hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai sumber inspirasi bagi generasi masa depan. Dari tepian Sungai Pesangan, PPN XIV Aceh 2026 telah mengirimkan sebuah pesan yang jelas: tradisi akan tetap bertahan selama ada kesadaran untuk merawatnya, keberanian untuk mengembangkannya, dan kemauan untuk mewariskannya kepada generasi berikutnya.
*) Penulis Peneliti & Editor The Gayo Institute (TGI) dan Peserta PPN XIV Aceh 2026 Asal Aceh-Indonesia





