Marlin Dinamikanto
Lipur Lara. Nama itu lekat. Di pikiran. Ketika aku bicara soal Museum Tambo. Tentang mbah Brewok berpipi tembem. Wajahnya kuyup berdebu. Dia tinggal bersama Che Guevara, Yose Rizal, Tan Malaka dan pejuang-pejuang lainnya.
Di etalase sarang laba-laba yang ditulis Francois Fukuyama sebagai Akhir Sejarah..
“Akhir sejarah dan kita adalah rombongan lelaki terakhir,” kataku dalam sebuah podcast.
Orang-orang tertawa. Padahal aku hanya mengutip Fukuyama. Mungkin karena pembawaanku yang terkesan lucu. Lewat streaming yang diunggah sebuah akun media sosial. Gimik lebih membuat heboh.
Isi cerita tidak penting. Sebab masing-masing sudah punya ceritanya sendiri.
“Tidak ada itu. Hanya bisa-bisanya Pak Marlin yang terlalu lama menelan pil anti gila,” komentar Lipur Lara di sebuah grup WhatsApp. Disambut komentar yang lain. Emoji tertawa bersahutan deras dari atas ke bawah.
Pernyataan pil anti gila itu menancap di pikiran. Dari pemilik akun bernama Lipur Lara. Entah aku tidak tahu siapa nama aslinya. Jenis kelamin perempuan ditulis di akun media sosialnya Tapi aku tidak tahu kebenarannya. Mungkin sekarang akhir kebenaran.
Lipur Lara banyak mengunggah gambar tentang museum dan koleksi yang ada di dalamnya. Termasuk Museum Tambo yang terletak di Sumatera Barat dan Afrika Selatan. Bukan Museum Tambo yang dimaksudkan oleh Francois Fukuyama tentunya.
Karena Tambo adalah genderang perang. Ditabuh untuk berlawan ketidak-adilan. Seiring runtuhnya tembok Berlin para pejuang sudah pensiun. Seperti Tuhan di hari ketujuh dalam Kitab Kejadian.
Mereka tinggal di panti-panti jompo. Atau bahkan mungkin di Memorial Park yang hanya dikenang oleh komunitas dan keluarganya di hari-hari tertentu.
Sekali dua kali mereka berhimpun, menyatakan sikap lewat suatu pertunjukan yang dikiranya besar. Namun hanya mendapatkan liputan kecil di media arus utama.
Selebihnya hanya pesan berantai yang dibagi ke akun media sosial. Sudah itu senyap. Mereka kembali masuk museum dengan membawa luka di hati dan pikiran.
Hening menyergap.
Di etalase berdebu yang dipenuhi sarang laba-laba. Virus, bakteri atau apa pun jasad renik yang membuat gila banyak bertebar di sana. Di Museum Tambo tempat perjuangan melawan ketidakadilan dikerangkeng. Hanya dipertontonkan kepada generasi baru tentang sebuah era yang hanya patut dikenang.
Sejauh ini tidak ada yang namanya pil anti gila. Teknologi farmasi yang sudah berabad-abad hanya mampu membuat pil anti depresi. Bukan pil anti gila seperti diucapkan oleh mbak Lipur Lara.
Aku menyebut mbak karena yakin betul dia seorang perempuan. Mungkin kalau dia ternyata laki-laki aku akan tertawa guling-guling. Seperti emoji yang banyak bertebar di media sosial.
Tiba-tiba saja aku ingin sekali bertemu dengannya. Mungkin di sebuah kafe tidak jauh dari museum. Karena postingannya banyak bicara tentang museum. Jangan-jangan mbak itu memang aparatur sipil negara yang tugas pokok dan fungsinya berkisar soal museum. Terlebih di era ketika semua hal sudah ada museumnya.
Aku chating dia secara pribadi di media sosial. Ternyata, entah kebetulan atau memang dia full timer di media sosial, dalam hitungan detik dia jawab chat saya.
“Wah, saya juga kepengin ketemu Pak Marlin,” jawabnya.
“Tenane?”
“Betul itu karena saya pengen sekali tahu merk pil anti gila apa yang bapak minum.”
“Sama. Saya juga ingin tahu tentang pil anti gila yang mbak Pur sebutkan,” kataku seakan dalam peribahasa Jawa tumbu oleh tutup.
Sama-sama berkeinginan mengupas pil anti gila. Mungkin itu sebuah misteri, semua hal mungkin butuh museum tapi tidak semua hal butuh penjelasan.
“Siap pak. Nanti di pertengahan bulan Sura saya diundang mas Ons Untoro di Museum Sandi, Yogyakarta. Datang ya?” ucapnya.
Sejak kecil hidupku seperti roaling coaster. Mirip cakra manggilingan. Namun cakra manggilingan mengandaikan manusia tidak punya kehendak. Manusia tidak pernah berdaulat atas dirinya. Tapi dia telah berhasil mengatasi keterbatasan fisiknya sehingga dinobatkan oleh berbagai kitab suci menjadi raja di muka bumi.
Kadang aku di barisan pemenang. Kemenangan tidak mungkin diraih tanpa kehendak yang keras. Namun perjuangan itu sekarang hanya perlu dikenang dalam bentuk museum.
Jiwa pemberontakan mesti dikerangkeng seperti lokomotif rongsok di Museum Kereta Api. Begitu juga dengan Pak Brewok yang wajahnya mirip mendiang Amir Husin Daulay. Benarkah harus seperti itu?
Sejarah perlawanan manusia sudah pensiun. Orang-orang miskin hanya perlu diransum seperti bebek. Supaya tidak berisik mengganggu pesta orang-orang berkuasa yang sibuk menggangsir kekayaan negara.
Makan bergizi gratis itu penting. Diberikan tiap hari. Kalau perlu ditambah vitamin agar kerbau bertambah gemuk dan gesit bekerja untuk kepentingan para juragan. Kenapa anda menjadi kerbau adalah garis tangan.
Adalah cakra manggilingan yang memberikan harapan palsu, siapa tahu kelak anda tidak menjadi kerbau. Untuk itu biarkan tangan-tangan tidak terlihat bekerja mewujudkan mimpi-mimpi sebagian besar orang.
Begitu tema-tema postinganku. Tuhan sudah istirahat di hari ketujuh. Setelah itu manusia diangkat menjadi raja di muka bumi. Mungkin itu yang membuat mbak Pur – sebut saja begitu – menyebut aku sebagai lelaki terakhir yang tidak ikut-ikutan gila? Terus pil anti gila seperti apa yang sudah diminum Pak Marlin? Produk herbal kah? Atau produk farmasi?
Bisa jadi mbak Pur hanya menilai dari chasing yang tampil di media sosial. Ibarat buku dia baru sebatas membaca cover dan paling jauh kata pengantar. Tidak membaca hingga kedalaman hasrat yang beyond dari pikiran-pikiran yang dianggap bermutu.
Sehingga gagal menemukan hipokrisi yang membuat praktik-praktik kebohongan terus berlanjut dan berulang.
Mungkin saja mbak Pur terbius serat Kalatida yang ditulis Ki Rangga Warsito. Jaman edan yen ora melu ngedan ora keduman. Terjemahan bebasnya, jaman gila kalau tidak ikut-ikutan berlagak gila tidak kebagian.
Namun seberuntung-beruntungnya orang gila masih beruntung orang yang eling dan waspada.
“Hanya orang yang minum pil anti gila yang bisa menjalani hidup seperti Pak Marlin. Banyak bergaul orang berkuasa, kaya, galamour tapi tetap menjadi dirinya. Tidak pernah takhluk kepada godaan Nyai Blorong,” ulas mbak Pur saat aku meluncurkan Antologi Puisi berjudul Aja Dumeh yang disiarkan secara daring oleh mas Ons Untoro dari Tembi Rumah Budaya di tengah Pandemi Covid 19.
Benarkah aku tidak ikut ngedan? Nah, di situ aku ragu. Karena sejak kecil hingga usia remaja banyak orang menilai aku berperilaku eksentrik alias gila.
Tidak pernah serasi dengan yang lain. Kata temenku Eko S Dananjaya, kalau orang-orang jalan ke barat Marlin jalan ke Timur, Utara atau Selatan. Suka-suka dia.
Tapi apakah itu artificial, dibuat-buat untuk mencari perhatian? Bisa jadi. Secara kejiwaan, ungkap mendiang Agus Edy Santoso yang lebih dikenal dengan nama Agus Lenon, orang-orang pendek seperti Brotoseno, Moh Thoriq, Eko Saja Dananjaya, Trimedya Panjaitan, Heri Sebayang, Masinton Pasaribu, bisa begitu karena mengidap Napoleon Syndrom.
Tanpa itu, lanjut mendiang Agus Lenon, orang-orang bertinggi badan 160-an akan terus disepelekan oleh orang-orang seperti Amin Husin Daulay, Nuku Soleiman, Agustiana, Hamid Dipopramono, Muhammad Syafik dan lainnya yang bertinggi badan di atas 170. Keterbatasan fisik mesti diimbangi keberanian laksana anjing-anjing pudel mengintimidasi anjing-anjing yang lebih besar.
Mungkin saja orang-orang dengan keterbatasan fisik seperti aku lebih matching untuk secara naluri menjalani perjuangan hidup sebagai mana dipraktikkan para pendahulu sejak manusia itu ada.
Untuk itu aku selalu menolak standarisasi perilaku yang sudah pasti akan menyingkirkan orang-orang yang bersikap menyimpang, tidak pernah patuh kepada partitur yang diklaim sebagai ciptaan Sang Hyang Wenang.
Orang-orang seperti itu dianggap oleh mbak Pur sebagai waras. Tapi sebagian besar lainnya menganggap gila. Untuk itu harus dikerangkeng dalam sebuah museum sebagai obyek penelitian, bahkan ada yang menduitkan menjadi obyek pariwisata.
Sebuah gejala yang barangkali saja disebut oleh Koh Halim HaDe sebagai Potret Tirani dalam Peradaban Dunia.
Pada akhirnya, kosa kata gila diserahkan kepada sudut pandang masing-masing. Benar begitu? Nah ini yang harus aku perdebatkan dengan mbak Pur
Tidak semua yang kapitalis itu buruk.
Tidak semua yang sosialis itu baik. Itu yang aku rasakan saat tidak punya uang tapi harus berangkat ke Yogya. Don”t wory be happy. Kapitalis menyediakan Pay Later, bayar belakangan alias mbayar keri. Soal bagaimana nanti membayarnya urusan belakang. Selama hayat dikandung badan tidak boleh putus harapan untuk membayar Pay Later,
Lagi pula, di sana aku sudah ditunggu mbak Pur. Selain ingin menyelami dunia pikiran mbak Pur aku juga ingin melihat wajah aslinya. Masalah kompetensi bagaimana mengelola museum, berdasarkan unggahan-unggahan di akun media sosialnya, tidak perlu diragukan lagi.
Aku hanya meragukan analisa tentang pil anti gila yang katanya membuat Pak Marlin lebih waras daripada yang lain. Padahal aku tidak berani ngomong seperti itu.
Jam 4 pagi aku dijemput mas Joshua Igho di Terminal Jombor. Dia yang juga terjangkit gejala Napoleon Syndrom itu dikenal pandai main piano. Kerap menjadi yuri musikalisasi puisi tingkat nasional.
Aku mengenalnya tahun 2017 lewat mas Yonas Suharyono, orang pertama yang mengajak aku srawung dengan para sastrawan.
Setelah istirahat sejenak di joglonya Ketua Indonesia Police Watch mas Sugeng Teguh Santoso di dusun Tanen, kaki Merapi, sore harinya aku dan mas Igho bergerak ke Museum Sandi. Tiba di sana sudah disambut mas Endro Suprobo.
Karena aku bukan termasuk penulis yang karya bersamanya diluncurkan, maka aku hanya tanda tangan. Tidak mendapatkan buku gratisan. Mau beli tidak bisa menggunakan Pay Later, hahaha.
Di deretan penonton sudah ada dua peserta tetap, Pak Marjudin dan Faisal Abdhal. Ada juga mbah Gentong, mbak Yuliani Kumudaswari dan mbak Pur yang merasa surprise dengan kedatanganku.
“Waduh, ketemu juga kita,” katanya sambil jepretkan kamera ke wajahku.
Setelah mas Ons Untoro memberikan sambutan, acara berlanjut ke mbak Umi Kulsum yang sudah pegang kepekan siapa-siapa saja yang bakalan tampil. Mas Igho setia melayani para penampil yang membutuhkan jasa ornamen musik. Gratis.
Acara berlangsung meriah. Paling tidak itu yang dirasakan oleh komunitas sastra bulan purnama yang hadir di museum Sandi. Sudah dua kali puisi tunggalku diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Maka aku bisa mengklaim menjadi bagian dari komunitas yang dirawat mas Ons sejak belasan tahun yang lalu.
Selesai acara aku temui mbak Pur yang rajin memotret. Selain ahli soal museum ternyata dia juga fotografer yang hebat.
Sudah itu banyak pula kawan-kawan lama yang mencegatku dan mengajak bicara seperti Afnan Malay yang ternyata juga penyair mumpuni dan seniorku di Pergerakan bernama Tri Agus Susanto Siswowiharjo
Setelah makan Tahu Kupat, ada juga yang memilih bakso, tampaknya tidak ada waktu lagi berbincang dengan mbak Pur tentang pil anti gila yang ada dalam kolom komentar akun media sosial yang dilihat sekitar delapan ribuan akun.
Tapi meskipun hanya ditonton sedikit orang kami bahagia. Sebahagia Sisipus yang terus berjuang menggelindingkan batu ke atas gunung. Absurd.
Tampaknya pula kami belum ingin cepat pulang. Mbak Yuliani menawarkan lanjut ngopi di Kafe Tarumartani, pabrik cerutu yang tidak mengabadikan masa lalunya lewat sebuah museum. Melainkan Kafe yang cukup ramai berlokasi di sekitar stasiun Lempuyangan.
“Waduh, saya tidak bisa ikut,” kataku
“Kenapa mas Marlin? Ayo ikut saja,” bujuk mbak Yuliani yang baru satu tahun terakhir menetap di Sleman. Ikut suaminya yang sudah pensiun.
“Waduh, saya sudah janjian sama mbak Pur. Mau ngobrol serius tentang pil anti gila,” jawabku membuat Afnan Malay tertawa terpingkal-pingkal
“Oalah, yang di postingan itu to membuatmu berpikir serius?” tanggap Afnan Malay, pencetus Sumpah Pemuda yang juga sudah menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi, di samping juga aktif melukis.
Ternyata. Mbak Pur juga sudah pulang bersama suaminya. Maka aku pun ikut rombongan informal meeting di sebuah kafe pabrik cerutu di dekat Stasiun Lempuyangan.
Mereka pun tertawa dengan emoji guling-guling saat menanggapi kebersamaan yang diunggah ke media sosial dengan baik oleh narasi “Selamat datang di museum orang gila.”[SY]





