Oleh: Ansar Salihin*
Ada banyak cara seseorang dikenang. Bagi saya, Piet Rusdi akan selalu dikenang sebagai sosok yang dekat dengan seniman, terutama di Banda Aceh dan sekitarnya. Ia sering hadir dalam berbagai kegiatan kesenian, berdiskusi dengan seniman, serta membantu membuka ruang bagi mereka untuk berkarya dan menampilkan karya.
Saya mengenal Pak Piet sekitar tiga tahun lalu, dalam sebuah kegiatan digitalisasi ragam hias. Saat itu, ia datang untuk menutup acara. Kegiatan masih berlangsung ketika ia tiba. Saya ingat, ia tidak langsung duduk di kursi pejabat yang disediakan, tetapi memilih duduk di bagian belakang bersama peserta. Setelah acara selesai, ia berkeliling menyapa peserta dan pemateri. Saat makan siang pun ia bergabung bersama kami. Begitulah Pak Piet yang saya kenal. Ia tidak membatasi diri dengan jabatan yang diembannya.
Beberapa bulan lalu, saya kembali berjumpa dengannya di kawasan Gunongan. Saat mampir ke warung kopi, saya melihat ia sedang duduk bersama sejumlah seniman di belakang pos satpam kompleks Gunongan. Ketika saya menghampiri, justru ia yang lebih dahulu menyapa. Perjumpaan sederhana seperti itu cukup sering terjadi dalam berbagai kegiatan kesenian di Banda Aceh.
Pertemuan terakhir kami terjadi saat penandatanganan kontrak Dana Indonesiaraya di ruang teater kecil Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh. Saya tiba sekitar pukul 17.30 dan mengira ia sudah pulang karena jam kantor telah berakhir. Ternyata, ia masih menunggu para penerima dana untuk menandatangani kontrak.
Setelah menandatangani kontrak saya, kami sempat berfoto. Ia kemudian menyemangati saya. “Semangat, Bang. Lanjutkan, semoga sukses kegiatannya.” Saya menjawab, “Terima kasih, Pak, atas dukungannya, mulai dari pemberian surat rekomendasi sampai saat sekarang ini.”
Tidak pernah terpikir bahwa perjumpaan sore itu tepatnya sebulan yang lalu menjadi pertemuan terakhir kami. Kini, kenangan itu terasa begitu dekat. Kita kehilangan sosok pejabat yang tidak menjaga jarak dengan seniman, yang mau duduk bersama, berdiskusi, dan memberikan dukungan bagi kerja-kerja kebudayaan.
Selamat jalan, Pak Piet Rusdi. Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah Bapak, mengampuni segala khilaf, dan menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga siapa pun yang kelak menggantikan Bapak di Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh dapat meneruskan kedekatan dengan seniman dan masyarakat. Sebab, kemajuan kebudayaan tidak hanya membutuhkan program dan anggaran, tetapi juga orang-orang yang mau membuka ruang, mendengar, dan berjalan bersama para pelakunya.
*Peneliti The Gayo Institute dan Penerima Dana Indonesiaraya Bidang Kajian Pemajuan Kebudayaan 2026





