Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd (Penghulu Ahli Madya KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)
Pernikahan sering kali dibayangkan sebagai tempat menemukan kebahagiaan. Dua insan bertemu, saling mencintai, kemudian membangun rumah tangga dengan harapan hidup akan lebih lengkap. Namun setelah akad selesai dan kehidupan bersama dimulai, barulah disadari bahwa pernikahan bukan hanya tentang menemukan orang yang dicintai. Ia juga tentang belajar menjadi orang yang layak dicintai.
Menariknya, pernikahan dan kehidupan rumah tangga seperti tidak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan. Selalu ada sisi yang bisa direnungkan, dari urusan komunikasi suami-istri, pengasuhan anak, ekonomi keluarga, pembagian peran, kesetiaan, konflik, hingga bagaimana menjaga cinta agar tidak layu dimakan waktu. Setiap keluarga memiliki cerita, tantangan, dan cara masing-masing dalam menjalani kehidupan bersama.
Bagi seorang penghulu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan perkawinan, tema-tema tersebut semakin terasa dekat. Setiap pasangan yang datang untuk menikah membawa harapan. Mereka ingin membangun keluarga yang sakinah, tetapi kehidupan setelah akad tentu tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Karena itu, berbicara tentang pernikahan bukan hanya berbicara tentang akad dan pesta, melainkan tentang perjalanan panjang setelah keduanya mengucapkan ijab kabul.
Semakin direnungkan, semakin banyak pelajaran yang ditemukan. Semakin banyak keluarga ditemui, semakin disadari bahwa setiap rumah tangga memiliki kisahnya sendiri. Ada yang sedang bahagia, ada yang sedang berjuang, ada yang sedang belajar memahami pasangan, dan ada pula yang sedang mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Karena itulah, pembahasan tentang rumah tangga tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada ruang untuk belajar, mengingatkan, dan memperbaiki diri.
Di sinilah pentingnya saling mendukung. Suami membutuhkan istri yang bukan sekadar berada di sampingnya ketika hidup lapang, tetapi juga mampu menjadi penguat ketika langkahnya berat. Sebaliknya, istri pun membutuhkan suami yang tidak hanya hadir sebagai kepala keluarga di atas kertas, tetapi benar-benar menjadi tempat berteduh, berdiskusi, dan berbagi beban.
Rumah tangga tidak akan kokoh jika masing-masing sibuk menghitung apa yang telah diberikan dan apa yang belum diterima.
Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini sesungguhnya sangat relevan untuk kehidupan rumah tangga. Suami dan istri adalah pasangan dalam perjalanan panjang menuju ridha Allah SWT. Karena itu, keduanya semestinya menjadi partner dalam kebaikan, bukan rival yang saling mencari kelemahan.
Mendukung pasangan dalam kebaikan bukan berarti membenarkan semua tindakannya.
Ini penting ditegaskan. Istri bukanlah pengikut yang kehilangan hak untuk menyampaikan pendapat. Ketika suami berada di jalan yang benar, dukungan istri dapat menjadi energi yang luar biasa. Namun ketika suami keliru, dukungan terbaik justru dapat berupa nasihat yang lembut, kritik yang bijak, dan pengingat yang penuh kasih.
Begitu pula sebaliknya. Suami tidak boleh memahami kepemimpinan dalam keluarga sebagai kekuasaan tanpa batas. Istilah qawwam bukan tiket untuk bersikap kasar, otoriter, atau merasa selalu benar. Kepemimpinan dalam rumah tangga adalah amanah yang menuntut tanggung jawab, perlindungan, keteladanan, dan kesediaan mendengar.
Kepemimpinan yang hanya menuntut ditaati, tetapi tidak mau mendengar, mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan. Karena itu, rumah tangga membutuhkan komunikasi, bukan dominasi.
Dalam kehidupan sehari-hari, dukungan itu kadang sangat sederhana. Istri yang memberikan semangat ketika suami berangkat bekerja. Suami yang membantu pekerjaan rumah ketika istrinya kelelahan. Istri yang menjaga nama baik suami ketika suaminya tidak berada di rumah. Suami yang tidak mempermalukan istrinya di hadapan orang lain. Keduanya saling mengingatkan untuk beribadah, saling menguatkan ketika menghadapi masalah, dan tidak menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan ejekan.
Rasulullah SAW bahkan memberikan teladan yang sangat indah dalam kehidupan rumah tangga. Aisyah RA pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah. Beliau menjelaskan: “Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari)
Keteladanan ini menunjukkan bahwa membantu keluarga tidak mengurangi kewibawaan seorang suami. Justru di situlah terlihat keluhuran akhlaknya.
Demikian pula sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengajak kita melihat kembali ukuran keberhasilan seorang laki-laki.
Seorang suami mungkin sukses di kantor, dihormati masyarakat, memiliki jabatan, atau dikenal banyak orang. Namun ukuran kebaikannya juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang paling dekat dengannya: istri dan anak-anaknya.
Tidak sedikit orang terlihat santun di luar rumah, tetapi kehilangan kelembutan ketika berada di dalam rumah. Ramah kepada orang lain, tetapi mudah marah kepada pasangan. Pandai berbicara kepada publik, tetapi sulit mendengarkan keluhan istrinya.
Padahal rumah adalah tempat paling jujur untuk menguji akhlak. Begitu pula bagi seorang istri. Dukungan kepada suami bukan sekadar menyediakan kebutuhan rumah tangga. Dukungan yang lebih dalam adalah menjadi sahabat dalam perjuangan.
Ada kalanya suami pulang membawa kegagalan. Ada masa ketika penghasilan tidak sesuai harapan. Ada saat ketika pekerjaan menghadirkan tekanan. Dalam kondisi seperti itu, satu kalimat sederhana dari seorang istri dapat menjadi kekuatan: “Kita hadapi bersama.”
Kalimat sederhana, tetapi maknanya besar.
Namun dukungan juga harus berjalan dua arah. Jangan sampai nasihat tentang “istri mendukung suami” justru dipakai untuk membebani perempuan agar selalu mengalah. Pernikahan adalah kemitraan dalam kebaikan. Suami mendukung istri, istri mendukung suami. Suami menguatkan ketika istri lemah. Istri menguatkan ketika suami terjatuh.
Keduanya sama-sama manusia yang memiliki rasa lelah, kecewa, takut, dan membutuhkan apresiasi. Karena itu, rumah tangga perlu menghidupkan tiga kata sederhana: asah, asih, dan asuh.
Asah berarti saling menumbuhkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Asih berarti merawat cinta dan kasih sayang. Sedangkan asuh berarti saling membimbing, menjaga, dan melindungi.
Ketiganya tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Cinta tanpa ilmu bisa kehilangan arah. Ilmu tanpa kasih bisa terasa kering. Perlindungan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi tekanan.
Maka rumah tangga yang baik bukanlah rumah tangga tanpa masalah. Rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang tahu bagaimana menghadapi masalah tanpa kehilangan rasa hormat dan kasih sayang.
Akan ada perbedaan pendapat. Akan ada kesalahpahaman. Akan ada hari ketika salah satu lebih lelah daripada yang lain. Bahkan mungkin ada masa ketika keduanya merasa ingin menyerah.
Di situlah pernikahan diuji. Bukan ketika semuanya berjalan mudah, tetapi ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Suami dan istri perlu belajar bahwa pasangan bukan lawan yang harus dikalahkan dalam setiap perdebatan. Kadang-kadang yang harus dikalahkan bukan pasangan, melainkan ego masing-masing.
Sebab, dalam rumah tangga, menang dalam perdebatan tetapi kehilangan ketenangan bukanlah kemenangan yang sesungguhnya.
Maka, wahai para suami, jadilah pemimpin yang membuat istri merasa aman, bukan takut. Jadilah tempat bertanya, bukan sumber tekanan. Jadilah teladan bagi anak-anak, bukan hanya pemberi perintah.
Dan wahai para istri, dukunglah suami dalam setiap kebaikan. Ketika ia berusaha mencari rezeki yang halal, dukunglah. Ketika ia berusaha memperbaiki diri, dukunglah. Ketika ia berusaha menjadi ayah dan suami yang lebih baik, apresiasilah. Jika ia keliru, ingatkan dengan cara yang menjaga kehormatannya.
Sebab seorang suami yang merasa dihargai oleh istrinya akan lebih mudah tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, pernikahan bukan perlombaan tentang siapa yang paling banyak berkorban. Pernikahan adalah perjalanan tentang bagaimana dua manusia belajar saling menguatkan.
Suami bukan manusia sempurna. Istri juga bukan manusia tanpa kekurangan. Tetapi dua manusia yang sama-sama mau belajar, memaafkan, memperbaiki diri, dan saling mendukung dalam kebaikan dapat membangun rumah tangga yang jauh lebih kokoh daripada dua manusia yang hanya sibuk menuntut kesempurnaan dari pasangannya.
Karena itu, dukunglah pasangan dalam kebaikan. Dan para suami, jangan lupa: jadilah suami yang pantas untuk didukung.
Sebab rumah tangga yang kuat bukan dibangun oleh satu orang yang memimpin dan satu orang yang sekadar mengikuti. Ia dibangun oleh dua insan yang berjalan bersama, saling menggenggam dalam suka dan duka, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bersama-sama mengarahkan langkah menuju ridha Allah SWT.
Di situlah cinta menemukan maknanya. Bukan sekadar “aku mencintaimu”, tetapi “mari kita menjadi lebih baik bersama.”[]
Atu Lintang, 24 September 2026





