Bullying, Rokok, dan Krisis Adab: Ada Apa dengan Generasi Ini?

oleh

Oleh: Ita Safitri, S.Pd. (Aktivis Muslimah)

Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar video kekerasan pelajar yang viral di tengah masyarakat Gayo. Publik dikejutkan oleh kasus kekerasan antarpelajar di lingkungan SMA Unggul Binaan Pante Raya hingga korban tidak berdaya dan harus mendapatkan perawatan di RSUD Datu Beru.

Di sisi lain, muncul pula sorotan terhadap sejumlah pelajar SMK Negeri 1 Takengon yang kedapatan merokok dan bermain di luar sekolah, serta menunjukkan sikap yang dinilai tidak sopan ketika berada di hadapan Bupati Aceh Tengah.

Dua peristiwa yang berbeda ini sejatinya memiliki satu benang merah, yakni persoalan serius dalam pembentukan karakter dan adab generasi muda.

Persoalan tersebut tentu tidak cukup diselesaikan dengan menghukum pelaku, memanggil orang tua, atau memperketat pengawasan sekolah. Semua itu penting, tetapi belum tentu menyentuh akar persoalan. Perilaku seorang anak tidak lahir dalam ruang kosong. Ia dibentuk oleh keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, media, budaya, hingga sistem nilai yang berlaku di tengah masyarakat.

Karena itu, kasus-kasus semacam ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali arah pendidikan kita. Apakah pendidikan hanya diarahkan untuk menghasilkan anak-anak yang pintar dan kompeten? Ataukah pendidikan juga bertugas membentuk manusia yang memahami tujuan hidup serta memiliki standar moral dan adab yang kokoh?

Salah satu persoalan mendasar pendidikan hari ini adalah kuatnya pengaruh Sekularisme Liberalisme, yaitu sebuah paham yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan dan kebebasan individu.

Hingga akhirnya pendidikan lebih banyak diarahkan pada penguasaan ilmu, keterampilan, pencapaian prestasi, kesiapan kerja, dan kesuksesan material. Semua itu tentu penting. Namun, ketika iman, ketakwaan, dan tujuan penciptaan manusia tidak menjadi fondasi utama, pendidikan berisiko menghasilkan manusia yang tahu banyak, tetapi kehilangan arah.

Anak mengetahui bagaimana meraih kesuksesan, tetapi tidak selalu memahami untuk apa kesuksesan itu digunakan dan kepada siapa kehidupannya kelak dipertanggungjawabkan.

Dari sinilah krisis identitas dapat muncul. Anak-anak tumbuh dengan limpahan informasi, tetapi tidak selalu memiliki pemahaman yang kuat tentang siapa dirinya. Mereka mengenal berbagai profesi dan cita-cita, tetapi tidak selalu memahami kedudukannya sebagai hamba Allah. Mereka dibentuk untuk membangun citra diri, tetapi tidak selalu dibimbing untuk membangun jati diri.

Di tengah derasnya pengaruh media sosial, budaya popularitas, gaya hidup konsumtif, liberalisme, dan tekanan teman sebaya, standar benar dan salah pun mudah bergeser mengikuti lingkungan. Tidak mengherankan jika sebagian anak sebenarnya mengetahui bahwa bullying, merokok, merendahkan orang lain, dan melanggar aturan adalah perbuatan buruk, tetapi tetap melakukannya.

Persoalannya bukan semata-mata kurang pengetahuan, melainkan lemahnya internalisasi nilai hingga menjadi kepribadian.

*Pendidikan yang Melahirkan Kepribadian*

Di sinilah Islam menawarkan konstruksi pendidikan yang berbeda. Islam tidak memisahkan ilmu dari iman, kecerdasan dari akhlak, dan prestasi dari tanggung jawab kepada Allah.

Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia yang cerdas dan siap menghadapi dunia, melainkan membentuk syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian yang pola pikir dan pola sikapnya dibangun berdasarkan akidah Islam. Hasilnya adalah anak memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah, hidup memiliki tujuan, dan setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Dengan pemahaman syariat dan pembiasaan akhlak, ia memiliki standar yang jelas tentang halal dan haram, benar dan salah. Ia belajar untuk jujur, amanah, disiplin, menghormati guru dan orang tua, menyayangi sesama, serta mengendalikan hawa nafsunya.

Islam tentu tidak mengabaikan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Justru Islam mendorong manusia untuk menuntut ilmu, berpikir kritis, memiliki keterampilan, bekerja keras, dan berprestasi. Namun seluruh potensi itu diarahkan dalam kerangka pengabdian kepada Allah.

Karena itu, generasi cemerlang bukan hanya ilmuwan yang pintar, tetapi ilmuwan yang amanah. Bukan sekadar pengusaha yang sukses, tetapi pengusaha yang jujur. Bukan hanya pemimpin yang kuat, tetapi pemimpin yang adil.

Dengan demikian, kecerdasan memiliki arah dan kekuatan memiliki batas moral.

*Tidak Cukup Hanya Menyalahkan Anak*

Pembentukan kepribadian tentu tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau pelajaran agama di sekolah. Keluarga harus menjadi tempat pertama bagi penanaman akidah dan keteladanan. Sekolah harus membangun budaya yang mendukung adab, kedisiplinan, serta pencegahan kekerasan secara nyata. Masyarakat juga harus menciptakan lingkungan yang tidak menormalisasi kekerasan, rokok, pergaulan bebas, penghinaan, dan berbagai perilaku yang merusak generasi.

Sementara itu, negara memiliki peran yang jauh lebih besar. Negara harus memastikan kebijakan pendidikan, lingkungan sosial, media, dan hukum berjalan searah dengan upaya membentuk generasi yang beriman dan beradab.

Karena itu, kasus seperti yang terjadi di dataran tinggi Gayo ini harus ditangani secara serius. Korban kekerasan harus mendapatkan perlindungan dan pemulihan, sementara pelaku harus mendapatkan sanksi yang tegas dan pembinaan sesuai ketentuan yang berlaku. Sekolah perlu memiliki mekanisme pencegahan dan penanganan bullying yang jelas, bukan sekadar aturan tertulis. Orang tua pun harus lebih aktif mengawasi pergaulan dan aktivitas anak, termasuk pengaruh media sosial.

Namun, langkah-langkah tersebut tidak boleh berhenti sebagai respons setelah masalah terjadi. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mencegah kerusakan sejak awal.

Sebab itu, jangan hanya menghukum anak, tetapi evaluasi pula lingkungan dan sistem yang membentuknya.

Jika kita menginginkan generasi yang bertakwa, maka Islam tidak cukup ditempatkan sebagai mata pelajaran tambahan atau sekadar nasihat ketika anak melakukan kesalahan. Islam harus menjadi landasan dalam berpikir, cara bersikap, dan tujuan hidup.

Hal ini agar anak memahami bahwa hidup bukan sekadar sekolah, lulus, bekerja, mendapatkan uang, mengejar popularitas, lalu selesai. Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dari kesadaran inilah lahir adab: kekuatan tidak digunakan untuk menindas, kebebasan tidak dimaknai sebagai hidup tanpa batas, dan masa muda tidak dianggap sebagai tiket untuk bebas dari pertanggungjawaban.

*Alarm bagi Aceh dan Masa Depan Generasi*

Pada akhirnya, solusi fundamental tidak cukup hanya berupa perbaikan individu, sekolah, atau keluarga secara terpisah. Dibutuhkan negara yang menghadirkan sistem Islam secara menyeluruh dalam kehidupan, yang mendukung terbentuknya manusia beriman, berilmu, dan beradab.

Negara memiliki kewenangan besar dalam mengatur pendidikan, hukum, ekonomi, media, dan kebijakan sosial yang berlandaskan dari aqidah Islam.

Karena itu, jika kita sungguh-sungguh ingin memutus mata rantai kekerasan, krisis identitas, dan kerusakan moral generasi, maka dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar, yakni penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebab Islam bukan hanya mengatur perkara ibadah ritual, tetapi juga memiliki konsep aturan tentang pendidikan, keluarga, masyarakat, ekonomi, pergaulan, hukum, pemerintahan, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Jika kita ingin mereka menjadi generasi yang kuat dalam ilmu, kokoh dalam iman, dan mulia dalam akhlak, maka kita tidak cukup hanya memperbaiki perilaku mereka ketika masalah telah terjadi. Kita harus memperbaiki nilai-nilai yang membentuk mereka dan sistem yang menopang kehidupan mereka.

Keluarga mendidik, sekolah membina, masyarakat menjaga, dan negara menghadirkan sistem kehidupan yang menjadikan ketakwaan sebagai fondasinya.

Dengan demikian, pendidikan tidak sekadar mencetak manusia yang mampu menjalani kehidupan, tetapi manusia yang memahami untuk apa ia hidup dan kepada siapa ia kelak akan kembali.

Maka, jika hari ini kita resah melihat wajah generasi, maka sudah saatnya kita berkomitmen untuk memperjuangkan nilai-nilai yang berasal dari sekulerisme, liberal diganti menjadi nilai-nilai yang berasal dari sistem Islam, juga siap berjuang menerapkan Islam secara Kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.