Oleh : Fauzan Azima*
Awan Prado memiliki satu kebiasaan yang membuat orang sering geleng-geleng kepala. Kalau sedang musim paceklik, ia justru menjadi orang yang paling pelit mengeluarkan uang. Bukan karena kikir, tetapi karena ia percaya bahwa setiap rupiah yang keluar harus mampu menyelamatkan hari esok.
Suatu ketika, ada yang mengajak Awan Prado membuat kenduri besar. Katanya, supaya kampung terlihat meriah. Awan Prado hanya tersenyum sambil menepuk kantong celananya yang tipis.
“Kalau perut rakyat sedang kosong, bunyi rebana tidak akan terdengar lebih nyaring daripada bunyi perut yang lapar,” katanya.
Orang-orang tertawa. Tetapi setelah dipikir-pikir, tidak ada yang salah dari ucapan itu.
Hari ini, pelajaran itu terasa relevan bagi Aceh Tengah.
Ketika inflasi meningkat, harga kebutuhan pokok terus bergerak naik, biaya hidup semakin berat, dan daya beli masyarakat melemah, justru yang paling dibutuhkan adalah kepekaan seorang pemimpin.
Inflasi bukan sekadar angka yang diumumkan oleh badan statistik. Inflasi adalah ibu rumah tangga yang mulai mengurangi lauk. Pedagang kecil yang semakin tipis keuntungannya. Petani yang harga hasil panennya tidak selalu mampu mengejar kenaikan biaya produksi.
Dalam keadaan seperti itu, rakyat biasanya mulai berhitung. Mereka menghitung uang belanja. Menghitung biaya sekolah anak. Menghitung cicilan. Menghitung berapa liter bensin yang masih sanggup dibeli.
Ironisnya, ketika rakyat sedang sibuk menghitung, pemerintah kadang masih sibuk menggelar seremoni. Panggung berdiri megah. Spanduk membentang panjang. Bunga menghiasi meja. Sound system menggelegar. Pidato bergantian.
Foto-foto tersenyum memenuhi media sosial. Seolah-olah kemeriahan mampu mengalahkan kenyataan. Padahal, inflasi tidak pernah takut kepada baliho.
Harga cabai tidak turun karena gunting pita. Harga beras tidak murah karena tepuk tangan. Daya beli rakyat tidak naik hanya karena pejabat berfoto bersama.
Di sinilah Awan Prado mungkin akan menggeleng kepala. Menurutnya, pemimpin yang cerdas tahu membedakan mana pengeluaran yang menghasilkan manfaat, dan mana yang hanya menghasilkan dokumentasi.
Seremoni memang ada gunanya. Tetapi ketika dilakukan berlebihan di tengah tekanan ekonomi, ia berubah menjadi kemewahan yang sulit dijelaskan kepada rakyat.
Karena setiap rupiah yang dipakai untuk panggung, dekorasi, konsumsi, dan berbagai atribut kemeriahan sesungguhnya berasal dari uang rakyat.
Rakyat tentu berhak bertanya. Apakah anggaran itu benar-benar tidak bisa dialihkan untuk memperbaiki pelayanan publik? Untuk membantu petani? Untuk mendukung UMKM? Untuk memperbaiki jalan kampung?
Atau setidaknya untuk mengurangi beban masyarakat yang sedang menghadapi kenaikan harga? Bukannya malah memeras secara halus UMKM dengan mengundangnya ke pendopo.
Kepemimpinan bukanlah perlombaan siapa yang paling sering muncul di atas panggung. Kepemimpinan adalah kemampuan menentukan prioritas ketika keadaan sedang sulit.
Justru pada masa inflasi, rakyat lebih membutuhkan kebijakan yang terasa daripada seremoni yang terlihat.
Mereka tidak membutuhkan panggung yang megah. Mereka membutuhkan pasar yang lebih bersahabat. Mereka tidak membutuhkan karangan bunga. Mereka membutuhkan harga kebutuhan pokok yang terkendali. Mereka tidak membutuhkan tepuk tangan. Mereka membutuhkan harapan.
Mungkin inilah pelajaran sederhana dari Awan Prado. Ketika kantong sedang tipis, orang bijak tidak memperbesar pesta. Ia memperbesar kepedulian. Karena sejarah tidak mencatat seberapa banyak pita yang dipotong seorang pemimpin.
Sejarah lebih mengingat siapa yang tetap berpihak kepada rakyat ketika keadaan sedang sulit.
Belajarlah dari Awan Prado. Sebab di tengah inflasi, setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah bukan hanya soal anggaran. Ia adalah ukuran empati.
Bersambung ke bagian 9…
(Mendale, Agustus 5, 2026)






