Oleh : A. Zaki Mubarak*
Bagi manusia normal, bencana alam adalah musibah. Sebagian menggunakan istilah ujian, sebagian menyebut peringatan sebagian pula dengan sinis memanggil siksaan.
Definisinya beragam tapi yang jelas rasa sakit, kesulitan dan penderitaan adalah salah satu siklus kehidupan, ada yang bisa ditanggulangi, ada pula yang berakhir pasrah dan damai dengan segala keadaan. Rerata, manusia merasa, itu adalah rasa sakit yang baiknya dihindari dan berdo’a semoga penderitaan segera lenyap dan segera pulih.
Misal Aceh. Akhir 2025 banjir bandang melanda. Hujan seminggu yang tak pernah berhenti berujung bencana. Longsor sana sini, banjir menggenangi, rumah tertimbun tanah, tanaman kebun mati, jembatan tak lagi menyangga kendaraan, listrik padam dan kehidupan seolah berhenti.
Ada dua kelompok yang menderita, pertama karena korban bencana, kedua bukan korban bencana tapi terdampak berupa kelaparan. Jalan terputus, logistik terhenti membuat masyarakat Aceh Tengah dan Dataran Tinggi menjerit kelaparan hingga berjalan ratusan kilo demi segenggam beras.
Bantuan tak dapat, toh mereka bukan korban, tapi mereka kelaparan karena penghubung kehidupan terputus oleh bencana. Sama-sama sengsara dengan status berbeda.
Dari sinilah banyak komentar bergema. “Selama beberapa generasi, kami tak pernah kejadian seperti ini. Ini peringatan, ada sesuatu yang kita lupa dan tinggalkan”.
Di warung kopi bergumam: “Para penjahat hutan telah mengerdilkan alam hingga gunung tak lagi kuat menahan keserakahannya. Jancook!”.
Akademisi antropologi bilang: “Jika saja ini akibat pohon, lantas kenapa gunung berpohon lebat pun sama tumbang. Jika pun ini gegara hujan, kenapa curah dan durasinya lama seolah langit marah?
Jika pun ini akibat moralitas yang luluh, kenapa tidak saja di kota metropolis yang malamnya dipenuhi maksiat berkepanjangan.” Apa ini benar teguran?
Karena menghaluskan narasi agar tak tersinggung. Apa ini karena ujian? Agar seolah bencana ini adalah fasilitas naik kelas. Atau, apa ini adalah siksaan? Agar seolah bencana adalah pendahuluan di dunia sebelum di akhirat.
Pandangan itu semua untuk manusia awam. Sang salik akan berpikiran beda. Apapun yang Allah taqdirkan, tidak akan didebat tapi dipahami hikmahnya. Bahkan, saking ingin dekat dengan Allah, justru penderitaanlah dijadikan pintu gerbangnya.
Beberapa adagium sufi besar, misal: “al mihan thariqul makrifat” ujian adalah jalan mengenal Allah. “Al bala bab al wusul” musibah adalah pintu sampai pada Allah.
“Al ibtila'” ujian adalah sebagai saringan, “Tazkiyah bi nafs” penyucian dengan cara tekanan, “Al qabd” situasi disempitkan Allah. Saat level makrifat naik, maka ujiannya pun naik. Lihat para nabi, ujiannya berat melebihi manusia biasa.
Bahkan kaidah Imam Junayd: “Makrifat tidak diraih dengan kenyamanan,. Makrifat diraih saat dunia memukulmu dan kau tetap bersujud”.
Jadi, walau kaum sufi selalu menggunakan logika terbalik dari standar awam, tapi itulah kenyataanya. Semakin musibah maka semakin bersuluk. Ia bagai pemecah berhala, saat sehat mengedepankan dunia tapi sakit kembali pada Allah.
Ia bagai kaca pembesar hati, saat senang melalaikan saat sedih dan sakit rasa lalai berganti mengingat Allah. Ia ibarat guru keikhlasan, saat pujian jadi riya, saat dibenci ia berganti jadi ikhlas.
Atau, ia ibarat alat pensuci, emas dibakar menjadi murni, nafsu dibakar ia tunduk. Di sinilah proses takhalli itu terjadi. Laboratoriumnya dimanipulasi dengan penderitaan agar menghasilkan produk yang paling hebat.
Analoginya “gula yang manis akan sulit terasa jika lidah tidak pernah merasa pahit”. Makrifat tidak akan terasa nikmat kalau jiwa tidak pernah merasa getir.
Maka tiga level salik ini harus segera dilatih, namanya “Sarisyu”. Sa atau sabar, level ini tahap pertama dengan berkata: “Ya Allah aku terima penderitaan ini” musibah adalah ujian.
Ri atau ridha atas musibah dengan meningkatkan penerimaan dengan berkata “Ya Allah aku menerima keputusan-Mu” yakni musibah sebagai hadiah. Syu atau syukur yakni sudah masuk ke level tertinggi dari respon pada musibah dengan berkata:
“Ya Allah terima kasih Engkau ingat aku” musibah sebagai nikmat. Ini tidak berarti salik ingin sakit atau menantang Allah.
Tidak. Tapi ketika sakit tiba, ia berdamai dengannya dan dibalik jadi tangga menuju ketinggian makrifat. Jadi saat Aceh menangis, sebenarnya Allah menutup semua pintu masyarakat Aceh agar mereka mengetuk hanya pintu-Nya. Allah terlalu sayang dan cemburu pada mereka hingga butuh sedikit air mata untuk sesegera mengingat-Nya kembali. []






