Oleh : A. Zaki Mubarak*
Rejim jurnal telah mengubah wajah akademisi. Scopus seolah jadi Malaikat Maut yang ditakuti para cendekia. Scientometri jadi buku suci seolah intelektualitas diukur dengan satu-satunya alat.
Ilmu menjadi komoditas administratif, pengetahuan menjadi alat komersial, hubungan manusia dengan gelar jadi alat transaksional. Apa ini jalan benar? Ini tergantung selera.
Jika Barat jadi standar dan mereka paham begitu latah dan digdayanya pakem feodal bagi kita, maka berserah diri pada mereka adalah kematian akal.
Boleh merasa diri punya daya intelektual, tapi saat jurnal jadi satu-satunya validasi dan menegasikan cara penyadaran umat melalui pola yang disetujui Eropa, di situlah penjajahan gaya baru bagi mereka yang merasa paling berakal.
Lantas bagaimana suluk (perjalanan mengenal Allah) mengobati untuk golongan macam ini? Obatnya adalah makrifat. Merknya adalah Suluk di tengah modernitas.
Dosisnya beragam, pun ingredientnya bervariasi. Ada satu potret sebagai tarbiyah yakni kebijakan akademik bisa bernilai makrifat jika energi jurnal yang sangat personal diubah menjadi keteladan wakaf yang sangat komunal.
Jika jurnal yang sering menipu dengan onani akademiknya, kini berganti dengan wakaf yang bercumbu dengan Tuhan demi kemajuan masyarakatnya. Mungkin nikmatnya tidak seperti mencicipi cabe yang langsung terasa, tapi butuh waktu dan keteladan.
Di sinilah inisiator, desiminator dan motor adalah khalwat ala sufi modern kelompok intelektual. Mereka berdzikir dengan mengasingkan diri di tengah amburadulnya ekonomi yang tidak pasti dengan solusi.
Kalimat thoyyibahnya bukan La Ilaha Illallah semata, tapi ajakan berwakaf untuk ummat dengan pikiran jernih, logis, sistematis dan penuh tanggungjawab.
Mungkin kampus sering jadi menara gading. Show of force intelektualitas sering ditunjukan agar paham “who I am”. Definisi dari definisi sering diperdebatkan seolah bisa menyelesaikan masalah dengan rangkaian narasi.
Semakin dipersulit, semakin agung dunia akademik mereka. Biarkan umat jadi penonton, gelanggangnya khusus bagi mereka. Kecendekiaan hanya jadi tontonan bukan tuntunan.
Akademisi sufi tidaklah begitu. Ia berhenti berdebat jika bukan membaikan. Itu bungkus yang setiap hari berubah seiring nafas zaman. Yang paling pokok adalah substansinya. Tipologi wakaf boleh diklasifikasi, tapi bagaimana wakaf itu membumi dan jadi identitas diri, itulah akademisi sufi yang tahu diri.
Maka, dirinya mengasingkan hubbu addunya (mencintai dunia) berlebihan. Gagasannya bukan pada seberapa home take pay untuk istrinya. Pikirannya bukan bancakan program mana yang bisa mengkayakan.
Telunjuknya bukan lagi untuk menghitung nol dalam sepucuk kwitansi yang mengesankan. Akademisi sufi adalah bekerja dari lorong ghanesa (ilmu pengetahuan) untuk memberi obor kegelapan.
Gelap dari kebodohan bawaan, sunyi dari kajahiliahan zaman, dan hanyut dalam kenikmatan berdzikir untuk masa depan generasi lanjutan. Tak ada terpikir materialisme akut yang pragmatis, atau positivisme yang utopis. Perannya sudah pasti bahwa aku mesti bermakrifat dengan jalan akademis, wakil Tuhan yang menggerakan umat menggapai impian dan harapan.
Di situlah letak sufi akademisi berkelindan. Memang tak selalu meditasi di kesunyian, mereka berkontemplasi dengan percobaan dan tauladan. Ilmunya adalah tasbih kemajuan, risetnya adalah takbir kesejahteraan dan pengabdiannya adalah tahmid menggerakan.
Wakaf sebagai ayat langitan dinfuskan pada tridharma yang katanya kinerja para cendikia. Setiap konsep dirajut ulang sebagai lembaga inisiator, setiap contoh dan rekayasa direnda untuk didesiminasikan, dan setiap langkah perbaikan didampingi sebagai prinsip kepastian dan keberlanjutan.
Wakaf bukan lagi ayat langitan, para akademisi menjemputnya di ruang transendental untuk dipraktikan di bumi yang propan. Tidak mudah, tapi di situlah tafakur akademisi sufi yang lebih berdampak dari sekedar tadzakur lewat podium yang sering jadi opium.
Lewat ketauladan, akademisi sufi mencoba menyadarkan umat. Menanam kopi di tanah wakaf yang lokalistik bisa menjadi tajalli bernilai ekonomi tinggi. Merawat asa melalui wakaf pohon durian adalah tahalli umat untuk segera pulih dari musibah yang menyengsarakan.
Menggerakan umat untuk menyisihkan uang dan berkonstribusi pada wakap uang sebagai investasi umat adalah takhalli yang mensucikan.
Wakaf ibarat menumbuhkan khauf (rasa takut) atas masa depan panjang (baca: akhirat) sebagai alarm dan mitigasi, tapi melahirkan raja’ (harapan) berbasis wakaf sebagai penawar yang logis-sistematis.
Di dunia akan dapat manfaat yang panjang, di akhirat akan jadi tabungan yang passif amal super panjang. Tidak berhenti mengalir pahalanya, walau batas usia dan kepahitan menerjang.
Wakaf adalah investasi dunia hingga akhirat, sedang Jurnal Scopus masih dalam menara gading, yang entah retak ataupun mulus karena terbuat dari akrilik yang menipu.
(Refleksi Diskusi dengan Rektor dan Warek I IAIN Takengon Aceh Tengah)





