Oleh : A. Zaki Mubarak*
Jika Anda meminum kopi lantas hanya membekas melek dan memantik berpikir, Anda manusia normal. Jika Anda mampu memaknai kopi sebagai entitas lebih sekedar komoditas bernilai ekonomi dan membangun kesadaran teo-ekologi bahkan teosofi, maka Anda supernormal.
Karena, di sanalah jiwa dan raga akan larut pada pusaran yang lain. Sebuah pemahaman dengan memaknai kopi sebagai sumber mengenal Allah (makrifat), sehingga menjadi pribadi sufi di tengah masyarakat modern.
Itulah ibrah (pelajaran) di mana memandang sufi sebagai milik zaman keemasan Islam dan tak mungkin di hadir di masa modern adalah pernyataan yang terbantahkan di tulisan ini.
Kenapa? Kopi adalah anugerah besar yang Allah lahirkan di Gayo, Aceh Tengah. Gayo pun bukan hanya sekedar komunitas manusia yang hanya hadir di dunia tapi melahirkan peradaban tua dengan filosofi yang luhur walau sedikit tereliminasi dengan ruang politik baru dan asimilasi yang sporadis.
Dua ribu tahun sebelum masehi dengan peradaban manusia, kopi Gayo tidak lagi dimaknai sebagai komoditas saja tetapi “teman” kehidupan yang penuh makna.
Mereka bukan hanya dirawat untuk memenuhi kebutuhan cafe-in yang menenangkan tapi bahan pelajaran penting untuk digali. Bahkan, dalam konteks jiwa, kopi ini menjadi sumber inspirasi dari khalwat seorang sufi dan entitas yang bisa memahami keberadaan Allah di dalam dirinya dan alam semesta.
Sama halnya dengan makhluk di alam semesta, kopi Gayo adalah makhluk hidup. Di sana ada pendengaran, ada suara sunyi, ada rasa dan ada pula doa dan dzikir darinya. Sebelum ia tumbuh dan berbuah, benih yang ditanam harus dirawat dengan sepenuh hati.
Saat ia dipindah ke tanah sebagai sumber kehidupan, ada ikrar petani yang sudah turun temurun diajarkan. Sebuah kalimat misalnya: “Bismillah, aku bantu tanamkan batang kopi ini agar bisa tumbuh kembang.
Aku bersaksi bahwa hanya Allah lah yang menjadi khaliqnya dan aku hanya merawat atas tugasku sebagai khalifah. Jika saja daun dan buah adalah rezeki yang Dia limpahkan, maka aku niatkan untuk ibadah, baik sebagai miliku maupun hak para fakir miskin. Semoga tumbuh baik dan kepada-Mu, ya Rabb kami berserah” adalah mantra kopi itu disatukan dengan tanah.
Di sini, kopi tidak diposisikan sebagai komoditas yang diekspansi dan dieksploitasi sebagai “korban” keserakahan manusia. Ia hadir sebagai bagian siklus hidup yang mengandung arrahman arrahim.
Kopi hidup sesuai dengan kadar spitualitas manusia yang menanamnya. Semakin dirinya koneks dengan Sang Pencipta, semakin kopi memberikan rasa dan jumlah yang mengagumkan.
Jika tangan yang merawatnya memiliki kebersahajaan, maka kopi akan tumbuh dengan kenikmatan tiada tara. Antara hati petani dengan “hati” kopi selaras dalam frekuensi yang sama, yakni menjalankan peran yang sama sebagai makhluk Tuhan. Saling memahami, pun saling memberi.
Itulah potret dari kopi ke sufi. Tajalli adalah fase di mana sang sufi sudah tidak melihat jasad dari makhluk. Ia sudah melihat siapa dan apa disebaliknya. Kopi memang ada dalam kekuasaan manusia, dibunuh dan dibiarkan pun tak merugikan.
Tapi Tajalli tidak berpandangan begitu. Ia melihat semua ciptaan-Nya adalah tiupan dan bersumber dari Allah yang Maha Pencipta. Stimulus dan respon atas mahluk lain tidak akan berbeda karena yang dilihat mata bathinnya adalah sama: Maha Karya Tuhan yang tiada cacat dan memiliki tujuannya. Maka di sinilah, Kopi sebagai sebuah “wakil Tuhan” setelah menyelesaikan takhalli dan tahalli.
Dari sini kita paham, sang salik sering menyembunyikan dirinya di atas standar manusia awam. Alam pikirnya jenius tak sama dengan pakaiannya yang compang. Rasa-nya terasah berbanding terbalik dengan perawakannya yang nyeleneh.
Bisa jadi rokok yang dihisapnya adalah barang yang dibenci kesehatan, tapi setiap hisapannya berpikir pada dimensi lain yang lebih rumit. Standar awam diabaikan, standar diri selalu melawan arus.
Ibarat ikan, mereka yang sehat selalu melawan arus, mereka yang sakit adalah ikan yang tak berdaya, tak bertenaga bahkan sudah mati terseok arus aliran air yang melelahkan.
Di ruang itulah seorang petani kopi bersembunyi di kedalaman bathin sebagai khalwatnya. Dari situ ia merasa dekat dengan pencipta tanpa menyandarkan pada standar awam, karena parameter sufi tidak sama dengan mereka yang memilih jadi manusia biasa.
Oleh karenanya, walau sufi harus berkhalwat dengan standar out the box, tapi gagasan filosofisnya harus jadi nutrisi orang banyak. Ia mesti aktivasi kemanusiaanya. Falsafah hidup ribuan tahun Gayo yang ditemani kopi yang mulia tidak boleh jadi artefak. Ia harus hidup dan menjadi ruh.
Bukan sekedar komersialisasi identitas tapi harus glorifikasi nilai. Orang mesti mengerti pilihan gunung Kopi yang merangkul perbedaan, menjamin keamanan bagi yang berperang, membangun ruang moderasi dan membawa kembali ke alam sebagai solusi kehidupan.
Alam kopi bukan sekedar monitor nisbi yang hampa makna, ia fasilitas jalan menuju-Nya. Hingga, falsafahnya harus dirawat, harus dihidupkan, harus pula dijuangkan. Disitulah makna “kopi sufi” Gayo bukan sekedar teosofi, tapi etno-ekoteologi yang khas. Bukan saja imanen-transenden tapi bekerja untuk memanjangkan kefanaan manusia.
(Refleksi atas diskusi bersama sufi-kopi di Seladang: Ngopi di Kebun Kopi)




